Icha Yang Hibur Perayaan Cap Go Meh, Hangatkan Malam Jakarta sambil Nostalgia
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Perayaan Cap Go Meh 2026 menjadi penanda resmi berakhirnya rangkaian Tahun Baru Imlek tahun ini. Dalam balutan suasana akrab dan penuh tawa, acara penutupan yang digelar komunitas BTN—perkumpulan warga Tionghoa Indonesia—berlangsung meriah, hangat, dan sarat kebersamaan.
Cap Go Meh, yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, memang dikenal sebagai momen pamungkas. Jika merujuk kalender Tionghoa, perayaan ini menjadi “closing ceremony” dari seluruh rangkaian pesta musim semi. Tahun ini, perayaan terasa unik karena berdekatan dengan bulan Ramadan, menciptakan harmoni dua tradisi besar yang berjalan beriringan.
Malam itu, panggung sederhana berubah menjadi ruang nostalgia. Lagu-lagu Mandarin lawas mengalun, mengajak para tamu—yang didominasi bapak-bapak dan ibu-ibu—ikut bernyanyi bersama. Tidak ada jarak antara penyanyi dan penonton. Semua larut dalam koor panjang kenangan.
Salah satu pengisi acara, Icha Yang, mengaku sempat “ngeblank” ketika menyebut nama acara. “Ini Cap Go Meh ya? Penutupan Imlek,” ujarnya sambil tertawa di sela penampilan. Namun justru spontanitas itulah yang membuat suasana semakin cair.
Berbeda dari acara korporasi yang biasa ia hadiri, kali ini Icha merasa lebih leluasa. “Kalau ini memang acara komunitas. Kita nyanyi bareng, seru-seruan aja. Semua harus bahagia,” katanya.
Lima lagu lawas berbahasa mandarin ia bawakan guna meriahkan suasana Cap Go Meh komunitas BTN di resto di kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara. Lai Lai Guo Xin Nian, Xiang Jian Hen Wan, Lei Hai, Phie Jiu, dan Peng You, dinyanyikan kompak oleh mereka yang hadir, seiring dengan lantunan khas penyanyi asal Jember, JawaTimur itu.
Icha tampil dengan busana bernuansa lembut. Tidak merah menyala seperti lazimnya warna Imlek. Menurutnya, warna memiliki makna tersendiri dalam tradisi Tionghoa. Merah melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, kuning identik dengan kemakmuran, sementara warna-warna lembut dipilihnya malam itu sebagai simbol ketenangan setelah rangkaian perayaan panjang.
“Kalau hari Imlek, merah itu wajib. Sekarang kan sudah penutupan, jadi soft aja. Yang penting tetap bagus dan pantas dipakai,” tuturnya.
Acara berlangsung padat. Ruangan yang tidak terlalu luas membuat suasana terasa intim. Para tamu silih berganti mengabadikan momen, meminta foto, hingga bernyanyi bersama. Meski sempat terasa sesak, keceriaan tak surut.
Menariknya, Icha juga membagikan kisah kegiatannya tampil di Tiongkok beberapa waktu lalu. Bersama tim kecilnya, ia menyempatkan membuat video musik di berbagai lokasi selama berada di sana.
“Daripada seminggu di sana cuma kegiatan formal, kita cari spot bagus, bikin video, dibawa pulang ke Jakarta,” ujarnya.
Sebagai penutup, ia menyebut masih ada agenda besar pada 3 Maret mendatang yang disebutnya sebagai perayaan terakhir Cap Go Meh di kawasan Candi Borobudur. “Itu yang paling terakhir. Setelah itu mungkin pulang kampung dulu,” katanya berseloroh.
Cap Go Meh 2026 bukan sekadar seremoni akhir, melainkan ruang perjumpaan lintas generasi. Di tengah jadwal Ramadan yang segera tiba, malam itu menjadi pengingat bahwa perayaan pada akhirnya adalah tentang kebersamaan—tentang suara-suara yang menyatu, tentang tawa yang saling menguatkan.
Imlek boleh usai, tetapi hangatnya persaudaraan tetap tinggal.