Bos PNM: Kita Baru Layani 16 Juta Nasabah, Masih Banyak Pelaku UMi Menunggu Akses Modal
Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Arief Mulyadi menyebut perusahaan yang dipimpinnya masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan besarnya kebutuhan pembiayaan masyarakat kelas bawah di Indonesia.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Arief Mulyadi menyebut perusahaan yang dipimpinnya masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan besarnya kebutuhan pembiayaan masyarakat kelas bawah di Indonesia.
“Kalau mau memberitakan PNM, bilang saja PNM ini perusahaan kecil. Asetnya sekitar Rp57 triliun, kantor kami 4.600. Nasabah yang bisa kami layani baru 16 juta, padahal masih banyak yang harus dilayani,” ujar Arief saat acara “Iftar PNM Bersama Media: Lentera Dalam Makna” di Menara PNM, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurut Arief, pernyataan tersebut bukan merendahkan capaian perusahaan, melainkan pengingat bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses pembiayaan usaha kecil, khususnya bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro (UMi).
Melalui program PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), PNM selama satu dekade terakhir berupaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah. Program ini dimulai pada awal 2016 dengan tujuan sederhana: mengubah harapan menjadi kemandirian ekonomi.
“Sepuluh tahun lalu kami memulai dengan cita-cita mentransformasi harapan menjadi kemandirian. Syukur kalau setelah mandiri mereka bisa naik kelas,” kata Arief.
74 Karyawan Layani 16,1 Juta Nasabah
Seiring waktu, langkah kecil tersebut berkembang menjadi jaringan pemberdayaan ekonomi yang menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Saat ini PNM didukung sekitar 74 ribu karyawan yang bekerja langsung di lapangan untuk mendampingi nasabah.
Arief menjelaskan aktivitas pemberdayaan PNM kini telah menjangkau lebih dari 60.260 desa dan kelurahan dari sekitar 84 ribu desa yang ada di Indonesia. Program Mekaar sendiri melayani sekitar 943 ribu kelompok nasabah dengan total lebih dari 16,1 juta perempuan pengusaha ultra mikro.
“Setiap hari ada aktivitas pemberdayaan di lebih dari 60 ribu desa dan kelurahan di seluruh Indonesia, melayani hampir satu juta kelompok nasabah,” ujarnya.
Dalam empat tahun terakhir, PNM juga mencatat sekitar 2,4 juta nasabah berhasil meningkatkan skala usahanya dan beralih menjadi nasabah lembaga keuangan yang lebih besar seperti Bank Rakyat Indonesia dan Pegadaian.

Dua nasabah binaan inspiratif yang sukses mengembangkan usahanya usai Talkshow dalam acara “Iftar PNM Bersama Media: Lentera Dalam Makna” di Menara PNM, Jakarta, Rabu (11/3/2026). Foto: Indonews.id/Rikard Djegadut
Arief mengatakan perpindahan tersebut merupakan bagian dari integrasi ekosistem pembiayaan dalam holding ultra mikro yang dibentuk pemerintah untuk memperluas akses keuangan bagi pelaku usaha kecil.
“Dalam empat tahun terakhir sekitar 2,4 juta nasabah sudah naik kelas menjadi nasabah BRI dan Pegadaian. Itu bagian dari pencapaian kami dalam pengembangan ekosistem ultra mikro,” katanya.
Wajah Keberagaman Indonesia
Arief menilai keberadaan PNM saat ini juga mencerminkan keragaman sosial Indonesia. Jaringan nasabah Mekaar terdiri dari perempuan pelaku usaha dari ratusan latar belakang budaya dan daerah yang menjalankan aktivitas ekonomi setiap hari.
Namun demikian, ia menegaskan pekerjaan rumah masih sangat besar karena jutaan pelaku usaha mikro lain belum terjangkau layanan pembiayaan.
Dalam kesempatan yang sama, Arief juga mengajak media untuk ikut menyebarkan kisah inspiratif para nasabah PNM yang berhasil mengembangkan usaha setelah mendapatkan pembiayaan dan pendampingan.
Menurutnya, cerita-cerita tersebut dapat menjadi motivasi bagi masyarakat lain untuk memulai usaha dan membangun kemandirian ekonomi.
“Harus ada inspirator yang bisa menginspirasi mereka. Kami berharap teman-teman jurnalis membantu menyebarkan cerita-cerita itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, meskipun usaha yang dijalankan para nasabah tergolong kecil, dampaknya dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.
“Walaupun kecil, usaha mereka bisa memberikan multiplier effect dan menjadi langkah awal menuju kemandirian ekonomi masyarakat,” kata Arief.*