SENTINEL: KETIKA LANGIT MENJADI ARENA PERSAINGAN
SENTINEL: KETIKA LANGIT MENJADI ARENA PERSAINGAN
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
SERI 2 — MEMBACA RUANG ANGKASA
Penulis: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 19 September 2026
PADA SERI PERTAMA,
KITA MEMULAI DARI SATU PERTANYAAN:
KALAU SATELIT TERUS BERGERAK
MENGELILINGI BUMI,
DARI MANA SATELIT MENGETAHUI
DI MANA DIRINYA BERADA?
Kita menemukan bahwa jawabannya
bukan sebuah pulau sebagai “titik nol”.
Ada sistem koordinat.
Ada waktu.
Ada data.
Ada orbit.
Ada algoritma.
Tetapi setelah mengetahui
bagaimana sebuah satelit menemukan posisinya,
muncul pertanyaan yang lebih besar:
KALAU MANUSIA SUDAH MAMPU
MENEMPATKAN SATELIT DI LANGIT,
BERAPA BANYAK “MATA”
YANG SEKARANG MENGELILINGI BUMI?
DAN SIAPA YANG MEMILIKINYA?
LANGIT YANG SEMAKIN PADAT
Ruang angkasa yang dahulu terasa kosong
ternyata sekarang semakin ramai.
Salah satu katalog satelit terbaru,
per 16 September 2026,
mencatat sekitar 16 ribu lebih satelit aktif
yang dioperasikan oleh berbagai negara
dan organisasi.
Amerika Serikat tercatat sekitar 12.597,
China 1.329,
Inggris 760,
Rusia 378,
Jepang 129,
Prancis 98,
India 79,
Italia 77,
Jerman 69,
Kanada 59,
dan Korea Selatan 56.
Masih ada puluhan negara dan organisasi lain.
Angka tersebut merupakan angka katalog
berdasarkan negara/organisasi yang mengoperasikan
atau terkait dengan satelit,
sehingga tidak boleh dibaca sebagai
ukuran tunggal kekuatan antariksa.
Tetapi satu hal sudah jelas:
LANGIT TIDAK LAGI KOSONG.
IA TELAH MENJADI
INFRASTRUKTUR GLOBAL.
([OrbitalWiki](https://www.orbitalwiki.com/statistics/satellites-by-country))
Bahkan laporan ESA Space Environment Report 2026
mencatat bahwa sepanjang 2025
terjadi lebih dari 300 peluncuran
dengan lebih dari 4.000 payload baru
ditempatkan ke orbit.
Rata-rata sekitar sepuluh payload baru
diluncurkan setiap hari.
Di saat yang sama,
orbit semakin padat dan risiko tabrakan
serta sampah antariksa semakin menjadi
persoalan yang harus dikelola.
([ESA](https://www.esa.int/Space_Safety/Space_Debris/ESA_Space_Environment_Report_2026))
ARTINYA:
PERLOMBAAN ANTARIKSA
SUDAH BERUBAH.
DAHULU:
SIAPA YANG PERTAMA
MENCAPAI LUAR ANGKASA?
SEKARANG:
SIAPA YANG MAMPU
MEMBANGUN EKOSISTEM ANTARIKSA?
AMERIKA SERIKAT:
KETIKA SATELIT MENJADI JARINGAN
Salah satu perubahan terbesar
datang dari SpaceX melalui Starlink.
Yang dibangun bukan sekadar
satu atau dua satelit.
Yang dibangun adalah
KONSTELASI.
Ribuan satelit bekerja
sebagai sebuah jaringan.
Di sinilah nama
ELON MUSK menjadi menarik
untuk dibahas.
Bukan karena Elon Musk
secara pribadi menghitung
satu per satu posisi satelit.
Tidak.
Yang menarik adalah
SISTEM YANG DIBANGUN:
ROKET.
SATELIT.
SENSOR.
KOMPUTER.
JARINGAN.
ALGORITMA.
STASIUN DARAT.
AUTOMASI.
DAN MANUSIA.
Kecerdasan seorang individu
menjadi kekuatan besar
ketika berhasil diubah
menjadi kecerdasan sebuah sistem.
Inilah salah satu ciri
New Space:
NEGARA TIDAK LAGI SENDIRIAN.
PERUSAHAAN SWASTA
DAPAT MENJADI PEMAIN ANTARIKSA
DALAM SKALA GLOBAL.
CHINA:
KECERDASAN YANG DIBANGUN
MENJADI EKOSISTEM
China memiliki perjalanan panjang
dalam membangun kemampuan antariksa.
Nama seperti
QIAN XUESEN dan ZHAO JIUZHANG
terkait dengan fondasi awal
program antariksa dan satelit China.
Yang menarik bukan hanya nama tokohnya.
Tetapi prosesnya:
ILMUWAN
→ RISET
→ INSTITUSI
→ INDUSTRI
→ SATELIT
→ JARINGAN
→ DATA.
Hari ini China bukan lagi
sekadar peserta perlombaan antariksa.
China telah membangun
kemampuan peluncuran,
satelit,
navigasi,
penginderaan Bumi,
komunikasi,
dan berbagai program konstelasi.
China juga mengembangkan
konstelasi besar seperti
GUOWANG dan QIANFAN.
Maka yang kita lihat bukan hanya
jumlah satelit.
Kita melihat
PEMBANGUNAN KEMAMPUAN NASIONAL.
RUSIA:
WARISAN TEKNOLOGI SOVIET
Ketika membicarakan Rusia,
kita tidak dapat memisahkannya
dari sejarah Uni Soviet.
SPUTNIK.
SERGEI KOROLEV.
ROKET.
SATELIT.
MANUSIA KE LUAR ANGKASA.
Semua itu merupakan bagian
dari sejarah awal perlombaan antariksa.
Tetapi satelit tidak cukup
hanya diluncurkan.
Ia harus dibuat,
dikendalikan,
diberi sistem komunikasi,
dan ditempatkan pada orbit
yang tepat.
Karena itu muncul pula
tradisi industri satelit Rusia,
termasuk nama
MIKHAIL RESHETNEV.
Dari sinilah berkembang
berbagai teknologi satelit komunikasi,
navigasi, dan geodesi,
termasuk untuk sistem GLONASS.
Jadi Rusia menunjukkan
bahwa kekuatan antariksa
dibangun melalui
ILMU + REKAYASA + INDUSTRI
dalam waktu yang panjang.
EROPA:
BUKAN SATU NEGARA,
TETAPI SEBUAH EKOSISTEM
Kalau kita hanya menghitung
negara per negara,
kita dapat kehilangan
gambaran Eropa.
Eropa mempunyai
ESA — European Space Agency.
Ada Ariane.
Ada Galileo.
Ada Copernicus.
Ada Sentinel.
Ada pula kemampuan industri
dari Prancis, Jerman, Italia,
Inggris dan negara-negara Eropa lainnya.
Maka Eropa memberi pelajaran lain:
KEKUATAN ANTARIKSA
DAPAT DIBANGUN
MELALUI KERJA SAMA.
Tidak semua kemampuan
harus dimiliki oleh satu negara
secara sendirian.
Yang penting adalah
kemampuan membangun
EKOSISTEM BERSAMA.
JEPANG:
TIDAK HARUS PALING BANYAK,
TETAPI HARUS MAMPU
Jepang juga sangat penting
dalam peta antariksa dunia.
Jepang mengembangkan
sistem QZSS
(Quasi-Zenith Satellite System),
yang menjadi bagian penting
dari kemampuan penentuan posisi,
navigasi, dan waktu di kawasan Jepang.
Per 15 September 2026,
sistem QZSS Jepang mencatat
satelit-satelit yang beroperasi
di berbagai orbit,
termasuk satelit geostasioner
dan quasi-zenith.
([Cabinet Office Japan – QZSS](https://qzss.go.jp/en/technical/satellites/))
Jepang memberi pelajaran
yang sangat penting:
JUMLAH SATELIT
BUKAN SATU-SATUNYA UKURAN
KEMAMPUAN ANTARIKSA.
Yang lebih penting adalah:
APA YANG DAPAT DILAKUKAN
DENGAN SATELIT TERSEBUT?
INDIA:
MEMBANGUN KEMANDIRIAN
India juga mempunyai
program antariksa yang berkembang
melalui ISRO.
Salah satu contohnya adalah
NAVIC — Navigation with Indian Constellation.
ISRO merancang NavIC sebagai
sistem navigasi satelit regional
dengan jaringan satelit
dan stasiun darat.
Fungsinya mencakup
positioning,
navigation,
dan timing.
NavIC juga dirancang
agar dapat berinteroperasi
dengan sistem navigasi lain
seperti GPS, GLONASS,
Galileo, dan BeiDou.
([ISRO](https://www.isro.gov.in/SatelliteNavigationServices.html))
INDIA KEMBALI MEMBERIKAN
PELAJARAN YANG SAMA:
KEKUATAN BUKAN HANYA
BERAPA BANYAK SATELIT
YANG DIMILIKI,
TETAPI SEJAUH MANA
SEBUAH NEGARA MAMPU
MEMBANGUN KEMANDIRIAN
TEKNOLOGINYA.
KOREA SELATAN:
MUNCULNYA PEMAIN BARU
Korea Selatan juga tidak dapat
diabaikan.
Pada Agustus 2026,
Korea Aerospace Administration
menyatakan bahwa lima mikrosatelit
telah siap sebagai bagian
dari konstelasi observasi Bumi
pertama Korea Selatan.
Rencananya terdiri dari
sepuluh mikrosatelit
untuk pemantauan frekuensi tinggi
terhadap Semenanjung Korea
dan wilayah perairan sekitarnya.
([KASA](https://www.kasa.go.kr/prog/bbsArticle/BBSMSTR_000000000041/view.do?mno=sub01_01&nttId=B000000003425Kz5pW3))
Ini menunjukkan bahwa
perlombaan antariksa
terus melebar.
Bukan hanya negara-negara
yang sejak awal terkenal
sebagai kekuatan antariksa.
LALU ADA NEGARA-NEGARA LAIN
Kanada.
Australia.
Turki.
Uni Emirat Arab.
Italia.
Prancis.
Jerman.
Inggris.
Dan berbagai negara lainnya.
Masing-masing memiliki
tingkat kemampuan,
tujuan,
dan model pengembangan
yang berbeda.
Karena itu kita tidak boleh
membaca dunia antariksa
hanya dengan satu angka.
JUMLAH SATELIT
BUKAN SAMA DENGAN
KEKUATAN ANTARIKSA.
LALU APA YANG HARUS DIUKUR?
Kita perlu melihat
setidaknya beberapa lapisan:
SIAPA YANG MEMBUAT?
SIAPA YANG MELUNCURKAN?
SIAPA YANG MENGENDALIKAN?
SIAPA YANG MEMILIKI SENSOR?
SIAPA YANG MENGUASAI DATA?
SIAPA YANG MEMILIKI KOMPUTASI?
SIAPA YANG MEMILIKI ALGORITMA?
DAN SIAPA YANG MAMPU
MENGUBAH DATA
MENJADI KEPUTUSAN?
DI SINILAH
KITA KEMBALI KE INDONESIA.
INDONESIA:
KITA SEBENARNYA ADA DI MANA?
Indonesia bukan pendatang baru
dalam dunia satelit.
Pada 1976,
Indonesia memasuki era
satelit komunikasi
melalui PALAPA.
Artinya,
Indonesia sudah mempunyai
pengalaman panjang
dalam memanfaatkan
teknologi antariksa.
Tetapi perjalanan
belum selesai.
Hari ini Indonesia
terus membangun kemampuan.
Ada satelit komunikasi
untuk konektivitas nasional.
Ada satelit observasi Bumi.
Ada BRIN.
Ada universitas.
Ada industri.
Ada generasi ilmuwan
dan insinyur baru.
NUSANTARA LIMA,
misalnya,
mempunyai kapasitas
160 Gbps dan telah menjadi
bagian dari penguatan
konektivitas digital nasional.
([Komdigi](https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/10210))
Kemudian ada pengembangan
satelit observasi Bumi
dan teknologi antariksa
oleh BRIN.
Ini penting.
Karena masa depan Indonesia
tidak cukup hanya dengan:
MEMBELI SATELIT.
Kita harus bergerak menuju:
MEMAHAMI SATELIT.
MENGOPERASIKAN SATELIT.
MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI SATELIT.
MEMBUAT KOMPONEN.
MENGOLAH DATA.
DAN MENGHASILKAN
PENGETAHUAN DARI DATA.
INILAH PERBEDAAN
ANTARA MEMILIKI
DAN MENGUASAI.
MEMILIKI SATELIT
adalah memiliki aset.
MENGUASAI TEKNOLOGI
adalah memiliki kemampuan
untuk memahami,
membangun,
mengendalikan,
mengembangkan,
dan memperbaikinya.
DAN DI SINILAH
KECERDASAN MENJADI PENENTU.
Bukan hanya kecerdasan
satu orang.
Tetapi:
KECERDASAN BANGSA.
ILMUWAN
↓
INSINYUR
↓
UNIVERSITAS
↓
LEMBAGA RISET
↓
INDUSTRI
↓
MODAL
↓
SATELIT
↓
DATA
↓
KOMPUTASI
↓
AI
↓
KEPUTUSAN
ITULAH
EKOSISTEM KECERDASAN.
MAKA PERTANYAANNYA
UNTUK INDONESIA BUKAN:
“BERAPA BANYAK
SATELIT KITA?”
PERTANYAANNYA ADALAH:
SEBERAPA DALAM
KITA MEMAHAMI TEKNOLOGINYA?
SEBERAPA BESAR
KITA MENGUASAI DATANYA?
SEBERAPA KUAT
INDUSTRI KITA?
SEBERAPA BANYAK
ILMUWAN DAN INSINYUR
YANG KITA HASILKAN?
DAN SEBERAPA CEPAT
KITA DAPAT MENGUBAH
PENGETAHUAN MENJADI
KEMAMPUAN NASIONAL?
SEBAB DUNIA ANTARIKSA
TELAH BERUBAH.
DAHULU:
PERLOMBAAN MENCAPAI ORBIT.
SEKARANG:
PERLOMBAAN MEMBANGUN
EKOSISTEM ORBITAL.
DAHULU:
SIAPA YANG PERTAMA
MENCAPAI LANGIT?
SEKARANG:
SIAPA YANG PALING MAMPU
MEMANFAATKAN LANGIT
UNTUK KEHIDUPAN DI BUMI?
DARI SENTINEL
KITA MELIHAT BUMI.
DARI BUMI
KITA MELIHAT LANGIT.
DARI LANGIT
KITA MELIHAT PERSAINGAN.
DAN DARI PERSAINGAN
KITA MELIHAT SESUATU
YANG LEBIH DALAM:
KEUNGGULAN SEBUAH BANGSA
BUKAN HANYA DITENTUKAN
OLEH BERAPA BANYAK
ASET YANG DIMILIKINYA,
TETAPI OLEH SEBERAPA DALAM
PENGETAHUANNYA,
SEBERAPA KUAT
INDUSTRINYA,
DAN SEBERAPA CEPAT
KECERDASANNYA
DIUBAH MENJADI KEMAMPUAN.
LANGIT SUDAH MENJADI
RUANG PERSAINGAN.
INDONESIA TIDAK PERLU
HANYA BERTANYA:
“SIAPA YANG PALING KUAT?”
KITA PERLU BERTANYA:
“APA YANG HARUS KITA KUASAI
AGAR KITA MAMPU MENENTUKAN
POSISI KITA SENDIRI?”
DAN ITULAH
PERTANYAAN UNTUK SERI BERIKUTNYA.
BERSAMBUNG KE SERI 3:
SENTINEL:
DARI MATA DI LANGIT
MENJADI KEKUATAN DI BUMI.