Demokrasi Butuh Etika dan Gagasan, Pengamat Pertahanan: Partai Politik Jangan Cuma Berisik, Harus Beri Solusi
Partai politik dinilai tidak cukup hanya menjadi ruang untuk menyampaikan kritik keras terhadap berbagai persoalan bangsa. Di tengah kompleksitas kehidupan bernegara, partai politik dituntut mampu mengolah aspirasi, membangun gagasan dan menawarkan solusi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Partai politik dinilai tidak cukup hanya menjadi ruang untuk menyampaikan kritik keras terhadap berbagai persoalan bangsa. Di tengah kompleksitas kehidupan bernegara, partai politik dituntut mampu mengolah aspirasi, membangun gagasan dan menawarkan solusi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
Pengamat Pertahanan Dr. Susilawati, M.Han., mengatakan partai politik memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, aktivitas politik semestinya dibangun di atas gagasan, pemikiran kritis, etika, serta kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa.
“Sejatinya partai politik itu dibangun atas dasar fondasi berpikir kritis, tetapi bukan teriakan tanpa arah,” ujar Susilawati yang juga merupakan anggota di organisasi kemasyarakatan Taruna Emas Generasi Bangsa (TEGAS) ini.
Menurut dia, sejak awal partai politik dibentuk untuk memainkan peran penting dalam kehidupan demokrasi, termasuk ikut menata kehidupan nasional agar berlangsung aman, nyaman, damai, harmonis dan selaras.
Susilawati menilai kekuatan politik seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa keras kritik disampaikan kepada publik. Lebih dari itu, partai politik harus mampu membaca persoalan, mengolahnya melalui proses berpikir yang matang, kemudian menerjemahkannya menjadi gagasan dan kebijakan.
Terlebih ketika partai politik memiliki kader yang berada di pemerintahan. Kondisi tersebut, kata Susilawati, membutuhkan tanggung jawab politik sekaligus etika berpikir yang lebih kuat.
“Kerja politik itu mengedepankan ketenangan dan hening untuk menghadirkan suatu formula atau solusi atau kebijakan dari setiap persoalan yang muncul,” imbuhnya.
Demokrasi Membutuhkan Etika Berpikir
Susilawati juga mengingatkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika masyarakat menuntut para pelaku politik memiliki kesadaran terhadap karakter, perilaku dan etika dalam menjalankan aktivitas politik.
Dalam demokrasi, setiap warga negara memiliki hak menyampaikan kehendak, pikiran dan pendapat. Namun, kebebasan tersebut tetap perlu dibarengi dengan penghormatan terhadap pandangan pihak lain.
Menurutnya, perbedaan pendapat tidak semestinya selalu berujung pada sikap saling merendahkan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi sumber gagasan baru apabila dikelola melalui dialog dan proses berpikir yang sehat.
“Nanti pikiran, pendapat atau aspirasi dari orang tersebut bisa kita pikirkan dan kita create lagi menjadi sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi kehidupan banyak orang,” katanya.
Karena itu, Susilawati menilai respons terhadap berbagai persoalan publik tidak selalu harus dilakukan secara spontan dan emosional. Ada kalanya sebuah persoalan membutuhkan jeda untuk dikaji secara lebih mendalam sebelum menghasilkan sikap atau kebijakan.
Ia melihat kecenderungan masyarakat maupun pelaku politik untuk memberikan respons cepat terhadap berbagai isu perlu diimbangi dengan kemampuan mengurai persoalan secara lebih tenang.
Menurut Susilawati, ketenangan bukan berarti pasif. Justru melalui proses berpikir yang tenang, sebuah persoalan dapat dilihat secara lebih utuh sehingga solusi yang dihasilkan tidak berhenti pada respons sesaat.
Dorong Ekosistem Politik yang Sehat
Untuk memperkuat kualitas kehidupan politik, Susilawati mendorong partai politik membangun ekosistem yang sehat dan stabil. Ekosistem tersebut dapat diperkuat melalui budaya diskusi, kajian, pendidikan politik serta pembiasaan mengedepankan gagasan dibandingkan sekadar adu suara.
Menurut dia, partai politik memiliki posisi penting untuk mengolah aspirasi masyarakat menjadi gagasan yang lebih konstruktif. Dengan demikian, perjuangan politik tidak berhenti pada kritik, tetapi menghasilkan sesuatu yang dapat diterapkan untuk kepentingan publik.
“Bangun ekosistem yang sehat dan stabil, sehingga perjuangan menjadi efektif,” kata Susilawati.
Ia menegaskan, kualitas partai politik tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan menarik perhatian publik melalui pernyataan keras. Kekuatan politik justru akan terlihat ketika partai mampu menggabungkan kecerdasan intelektual dengan keberanian moral.
Susilawati berharap kehidupan politik Indonesia ke depan semakin mengedepankan kedewasaan dalam berpikir, etika dalam berkomunikasi dan kemampuan mengelola perbedaan.
Dengan pendekatan tersebut, partai politik diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen untuk memperoleh kekuasaan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan gagasan, pendidikan politik dan perumusan kebijakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Kecerdasan yang disertai keberanian moral menjadi harapan terbaik untuk menciptakan kualitas masyarakat agar keahlian dan integritas benar-benar dihargai.”