indonews

indonews.id

Kisah Joni Firdaus, Anak Rantau dari Solok yang Sukses Bangun Bisnis Transportasi di Negeri Sakura

Merantau bagi sebagian orang adalah pilihan. Bagi Joni Firdaus, merantau telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membawanya dari Muara Panas, Solok, Sumatera Barat, hingga Tokyo, Jepang.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Merantau bagi sebagian orang adalah pilihan. Bagi Joni Firdaus, merantau telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membawanya dari Muara Panas, Solok, Sumatera Barat, hingga Tokyo, Jepang.

Lahir di Muara Panas pada 3 Januari 1973, Joni tumbuh dengan semangat merantau yang lekat dengan kultur masyarakat Minangkabau. Padang menjadi salah satu persinggahan dalam perjalanan hidupnya sebelum kemudian Jakarta membuka ruang yang lebih luas bagi pengalaman bisnisnya.

Di Jakarta, Joni menjalankan usaha melalui Solex Express Indonesia dan Solok Panca Muara. Namun, perjalanan bisnis itu tidak membuat langkahnya berhenti di Indonesia. Pada Juni 2011, Joni mulai menginjakkan kaki di Jepang. Tiga tahun kemudian, pada 2014, ia menetap dan membangun kehidupan di Tokyo.

Awalnya, kehidupannya di Jepang tidak langsung membawa dirinya menjadi pengusaha transportasi. Joni menjalani berbagai pekerjaan, termasuk menjadi pengemudi paruh waktu pada sejumlah perusahaan milik orang Indonesia di Tokyo. Ia juga pernah dipercaya membantu kebutuhan transportasi di lingkungan KBRI.

Pengalaman tersebut memberinya sesuatu yang kemudian jauh lebih berharga daripada sekadar penghasilan: jaringan, pengetahuan mengenai kebutuhan masyarakat Indonesia di Jepang, serta pemahaman tentang bagaimana layanan transportasi dijalankan di negeri dengan disiplin tinggi seperti Jepang.

Selama tiga tahun, Joni bahkan masih harus bolak-balik Jepang-Indonesia. Dalam setahun, ia bisa melakukan perjalanan lima hingga enam kali. Dari perjalanan yang berulang itu, perlahan muncul gagasan untuk memiliki usaha transportasi sendiri.

Dari Satu Alphard Menjadi Sepuluh

Titik penting perjalanan bisnis Joni dimulai dari sebuah Toyota Alphard. Satu kendaraan menjadi modal awal. Dari satu kendaraan itu, usaha berkembangnya hingga kini Joni memiliki sekitar 10 unit Alphard dan beberapa Toyota Hiace yang digunakan untuk mendukung kebutuhan transportasi dan perjalanan di Jepang.

Pertumbuhannya tidak berlangsung dalam semalam. Ada proses panjang di balik setiap penambahan kendaraan, termasuk membangun kepercayaan pelanggan dan menjaga kualitas layanan. Dari sinilah kemudian lahir Rantau Tokyo Tours.

Nama itu memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup Joni. Rantau Tokyo bukan sekadar nama usaha, melainkan semacam catatan perjalanan seorang anak Muara Panas yang memilih meninggalkan kampung halaman, berpindah dari satu kota ke kota lain, hingga akhirnya membangun usaha di Tokyo.

"Rantau Tokyo lahir dari perjalanan saya sendiri. Dari Muara Panas, ke Padang, Jakarta, lalu Jepang. Karena akhirnya merantau dan membangun usaha di Tokyo, nama itu terasa paling mewakili perjalanan hidup saya," kata Joni.

Kini, Rantau Tokyo Tours melayani kebutuhan transportasi privat dan perjalanan di Jepang. Pelanggannya beragam, mulai dari wisatawan individu dan keluarga, rombongan perusahaan, delegasi, tamu VIP, hingga kebutuhan mobilitas untuk berbagai kegiatan dan event internasional.

Joni tidak melihat bisnis tersebut semata-mata sebagai usaha menyewakan kendaraan. Baginya, kendaraan hanyalah salah satu bagian dari layanan. Yang jauh lebih penting adalah kepercayaan.

Karena itu, ia menempatkan legalitas, keselamatan, kedisiplinan pengemudi, ketepatan waktu, kebersihan kendaraan, komunikasi dengan pelanggan, serta kemampuan menghadapi perubahan jadwal sebagai bagian penting dari operasional.

"Kami ingin membawa keramahan Indonesia, tetapi tetap bekerja dengan disiplin dan standar operasional Jepang. Tamu harus merasa nyaman, aman, dan ditangani secara profesional sejak pertama bertemu sampai perjalanan selesai," ujarnya.

Bisnis yang Tumbuh Bersama Keluarga

Di balik perkembangan Rantau Tokyo, ada peran keluarga yang tidak kalah penting. Joni menikah dengan Yonna Novitria. Keduanya dikaruniai empat orang anak. Dalam perjalanan membangun usaha di Jepang, Yonna bukan hanya menjadi pendamping dalam kehidupan keluarga, tetapi juga ikut membantu menjalankan dan mengembangkan Rantau Tokyo Tours.

Bagi Joni, membangun usaha di negeri orang bukan pekerjaan seorang diri. Ada keputusan yang harus diambil bersama, ada persoalan operasional yang harus diselesaikan, dan ada keluarga yang tetap menjadi tempat kembali ketika kesibukan usaha semakin padat.

Dukungan keluarga itulah yang membuat perjalanan Rantau Tokyo tidak sekadar berbicara mengenai jumlah kendaraan yang dimiliki. Ada cerita tentang bagaimana sebuah keluarga perantau berusaha membangun kehidupan dari lingkungan baru, sambil tetap membawa nilai-nilai yang mereka miliki dari Indonesia.

Pengalaman Joni sebagai orang Indonesia yang hidup di Jepang juga membentuk cara pandangnya dalam memberikan pelayanan. Ia memahami bahwa pelanggan Indonesia yang datang ke Jepang membutuhkan lebih dari sekadar kendaraan. Mereka membutuhkan orang yang memahami kebiasaan, bahasa, kebutuhan keluarga, dan terkadang perubahan rencana yang terjadi selama perjalanan.

Di sisi lain, standar pelayanan di Jepang menuntut ketepatan dan kedisiplinan. Rantau Tokyo mencoba mempertemukan dua karakter tersebut: keramahan Indonesia dan standar kerja Jepang.

"Keramahan Indonesia tetap penting. Tetapi ketika kita bekerja di Jepang, disiplin dan aturan harus menjadi bagian dari pelayanan," kata Joni.

Prinsip tersebut semakin terasa ketika Rantau Tokyo menangani kebutuhan transportasi untuk kegiatan yang melibatkan tamu internasional dan event berskala besar. Salah satunya terlihat dalam momentum kegiatan motorsport internasional di Fuji, Jepang. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan transportasi tidak selalu berjalan sesuai jadwal awal.

Perubahan waktu, perpindahan lokasi, hingga kebutuhan tamu yang muncul secara mendadak menuntut operator transportasi untuk cepat beradaptasi. Bagi Joni, pengalaman semacam itu menjadi bagian dari proses belajar. Bukan hanya soal membawa seseorang dari satu titik ke titik lain, tetapi bagaimana memastikan seluruh perjalanan berlangsung tertib dan nyaman.

Filosofi 50 Persen Manusia, 50 Persen Allah

Di balik ekspansi bisnisnya, Joni memiliki filosofi sederhana. Ia tidak pernah merasa manusia bisa mengendalikan seluruh hasil dari sebuah usaha.

"Filosofi saya, kita boleh berusaha dan berharap hanya 50 persen saja. Yang 50 persen lagi biarlah Allah yang menentukan," ujar Joni.

Kalimat itu menjadi semacam pegangan dalam menjalani kehidupan sebagai perantau sekaligus pengusaha. Setengah bagian adalah wilayah manusia: bekerja, merencanakan, menjaga kepercayaan dan mengambil keputusan. Sementara setengah lainnya berada di luar kendali manusia.

Filosofi itu pula yang tercermin pada nomor polisi kendaraan-kendaraan miliknya yang banyak menggunakan angka 50-50 atau 50-60. Bagi Joni, angka tersebut bukan sekadar identitas kendaraan. Ia menjadi pengingat tentang bagaimana ia memandang perjalanan hidup dan bisnis.

Rantau Tokyo kini diarahkan untuk berkembang ke segmen yang lebih luas, terutama corporate transportation, VIP movement, private tour premium, dan event mobility. Joni melihat peluang untuk membangun kerja sama dengan perusahaan, agen perjalanan, penyelenggara acara, maupun mitra dari berbagai negara yang membutuhkan layanan transportasi di Jepang.

Pengalaman menangani tamu internasional dan kegiatan berskala besar menjadi modal untuk memasuki pasar business-to-business atau B2B. Di tengah rencana tersebut, Joni tetap membawa satu identitas yang tidak berubah: seorang perantau dari Muara Panas.

Perjalanan dari kampung halaman menuju Tokyo menunjukkan bahwa merantau tidak selalu berarti meninggalkan akar. Dalam banyak hal, justru akar itulah yang menjadi bekal ketika seseorang harus beradaptasi dengan tempat baru. Rantau Tokyo pun tumbuh dari pengalaman tersebut.

Sebuah nama yang merangkum perjalanan panjang Joni Firdaus: dari Muara Panas, Solok, menuju Padang, Jakarta, lalu Tokyo. Kini, ketika kendaraan-kendaraan itu bergerak membawa penumpang menyusuri jalan-jalan Jepang, ada kisah lain yang ikut berjalan di dalamnya—kisah seorang anak rantau yang membangun usaha sedikit demi sedikit, satu kendaraan demi satu kendaraan.

Dan seperti angka 50-50 yang ia pilih, Joni tahu bahwa perjalanan belum selesai. Manusia terus berusaha. Selebihnya, ia menyerahkan kepada Tuhan.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas