indonews

indonews.id

Bela Palestina, Inggris Tutup Operasional Konsulat di Yerusalem Usai Sanksi Israel atas Permukiman Tepi Barat

Inggris resmi menghentikan operasional Konsulat Jenderal di Yerusalem Timur pada Kamis (8/10/2026), setelah Israel memerintahkan penutupan misi diplomatik tersebut sebagai langkah balasan atas sanksi Inggris terhadap permukiman Israel di Tepi Barat.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Inggris resmi menghentikan operasional Konsulat Jenderal di Yerusalem Timur pada Kamis (8/10/2026), setelah Israel memerintahkan penutupan misi diplomatik tersebut sebagai langkah balasan atas sanksi Inggris terhadap permukiman Israel di Tepi Barat.

Penghentian operasional itu ditandai dengan pencopotan papan nama Konsulat Jenderal Inggris dan bagian konsuler dari gedung di kawasan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Langkah tersebut dilakukan setelah tenggat waktu 30 hari yang diberikan Israel berakhir.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyatakan, penutupan konsulat merupakan bagian dari kebijakan balasan terhadap langkah Inggris yang menjatuhkan sanksi kepada sejumlah permukiman Israel di Tepi Barat, termasuk larangan impor produk dari wilayah permukiman tersebut.

Melalui unggahan di media sosial X, Saar menegaskan, "Konsulat Inggris di Yerusalem menghentikan operasinya hari ini."

Saar mengatakan Israel telah menetapkan prinsip bahwa setiap tindakan yang dianggap merugikan negaranya akan dibalas dengan langkah yang dinilai setara.

Selain menghentikan operasional konsulat, Israel juga mengambil sejumlah langkah terhadap Inggris. Di antaranya, menarik perwakilan Inggris dari pusat koordinasi bantuan internasional untuk Gaza yang berlokasi di Kiryat Gat.

Israel juga menghentikan kegiatan Inggris yang bertujuan melatih pasukan Otoritas Palestina di Tepi Barat. Selain itu, pemerintah Israel melarang 12 pejabat terpilih Inggris dan sejumlah warga negara lainnya memasuki wilayahnya.

Langkah-langkah tersebut menambah ketegangan hubungan diplomatik kedua negara, terutama di tengah perbedaan sikap mengenai kebijakan Israel terhadap wilayah Palestina.

Sebelumnya, Inggris menjatuhkan sanksi terhadap permukiman Israel di Tepi Barat. Kebijakan tersebut mencakup larangan impor produk dari permukiman yang menjadi sasaran sanksi.

Meski operasional konsulat dihentikan, Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyatakan gedung tersebut tidak akan ditutup sepenuhnya. Bangunan itu akan berganti nama menjadi Misi Inggris di Yerusalem.

Inggris dan Israel sebelumnya telah menggelar pembicaraan untuk mencegah hubungan bilateral kedua negara semakin memburuk. Saar mengatakan kedua pihak mencapai kesepahaman pada Rabu (7/10) malam. Miliband juga membenarkan adanya pembicaraan tersebut.

Berdasarkan kesepakatan itu, konsulat secara resmi mengakhiri operasionalnya pada Kamis (8/10). Sebanyak 20 diplomat, termasuk konsul jenderal, dijadwalkan menyelesaikan tugas mereka sebelum meninggalkan Israel.

Namun, Israel mengizinkan tujuh diplomat Inggris tetap berada di gedung tersebut untuk menjalankan sejumlah kegiatan yang disebut sangat terbatas. Gedung itu sendiri tetap menjadi milik pemerintah Inggris.

Konsulat Inggris di kawasan Sheikh Jarrah selama ini berperan menangani hubungan Inggris dengan warga Palestina di Yerusalem, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Perwakilan diplomatik tersebut juga menyediakan berbagai layanan konsuler bagi warga negara Inggris.

Penghentian operasional konsulat tidak memengaruhi Kedutaan Besar Inggris di Tel Aviv, yang tetap menjalankan fungsi diplomatik Inggris di Israel.

Perubahan status konsulat ini menandai berakhirnya operasional salah satu perwakilan diplomatik Inggris yang selama ini berhubungan langsung dengan warga Palestina di Yerusalem dan wilayah Palestina lainnya. Meski demikian, keberadaan Misi Inggris di Yerusalem dengan aktivitas yang dibatasi menunjukkan bahwa hubungan Inggris dengan kawasan tersebut tidak sepenuhnya terputus.


© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas