indonews

indonews.id

IISF Forum, Temukan Pemerintah, Dunia Usaha dan Investor

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews

Jakarta, INDONEWS.ID - Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 kembali digelar di Jakarta pada 6–7 Oktober 2026, mempertemukan pemimpin pemerintah, dunia usaha, investor, lembaga keuangan, dan para ahli untuk membahas berbagai tantangan dan peluang dalam mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Memasuki hari kedua, salah satu sesi utama ISF 2026, bertajuk “Investing in the Future: Capital, Innovation and Talent for Growth”, membahas bagaimana perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI), perubahan kebutuhan energi, investasi, serta kesiapan talenta akan membentuk lanskap pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Panel tersebut menghadirkan President, Lubrizol Engineered Materials, John Valukas; CEO, Standard Chartered Bank, Donny Donosepoetro OBE; Managing Director, Head of Climate Change & Sustainability, Asia Pacific & Middle East, HSBC, Justin Wu; serta Associate Partner, McKinsey, Alris Alfharisi; dan dimoderatori oleh Executive Director of Energy Transition, GFANZ, Randi Kristiansen. AI dan Perubahan Lanskap Investasi.

Dalam diskusi tersebut, Randi Kristiansen membuka pembahasan dengan menanyakan bagaimana AI dapat diterapkan dari berbagai perspektif, termasuk industri, keuangan, energi, dan talenta.

Dari perspektif industri, John Valukas menjelaskan bahwa penerapan AI di Lubrizol diarahkan pada kebutuhan dan solusi yang spesifik. Menurutnya, perusahaan telah memiliki platform data formulasi bernama Q.Life selama sekitar 30 tahun. Pengembangan AI kemudian memungkinkan data tersebut dimanfaatkan untuk memprediksi bagaimana suatu formulasi akan bekerja dalam kondisi tertentu.

Pemanfaatan tersebut, lanjut John, juga dapat membantu perusahaan memperoleh dan mengolah lebih banyak data terkait konsumsi bahan bakar serta aspek operasional lainnya sehingga dapat mendukung proses yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“AI digunakan untuk tujuan yang sangat spesifik, berdasarkan ruang lingkup solusi yang ingin kami capai. Dengan memanfaatkan data yang telah kami kumpulkan selama bertahun-tahun, kami dapat mulai memprediksi bagaimana suatu formulasi akan bekerja dan bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat dalam operasional,” ujar John.

Sementara itu, Donny Donosepoetro melihat AI sebagai teknologi yang berpotensi mengubah lanskap investasi secara signifikan. Ia menilai perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari proses digitalisasi yang lebih luas, termasuk digitalisasi uang dan perdagangan.

Menurut Donny, dalam beberapa tahun ke depan, perkembangan agentic AI dan digitalisasi akan semakin mempercepat hubungan antara modal dan kebutuhan pasar. Perubahan tersebut juga berpotensi memperkuat pembiayaan untuk agenda keberlanjutan.

“Pada dasarnya, investasi akan mempercepat konektivitas antara modal dan permintaan,” ujar Donny.

Ia juga melihat besarnya peluang ekonomi dari perkembangan AI di kawasan ASEAN. Menurutnya, AI berpotensi memberikan kontribusi hingga sekitar US$1 triliun terhadap PDB ASEAN pada 2030, sementara investasi pada AI dan cloud computing di Asia Tenggara telah mencapai sekitar US$200 miliar. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut membuka peluang untuk menarik investasi dan mengambil bagian dalam pertumbuhan ekosistem digital dan AI di kawasan.

AI, Data Centre, dan Transisi Energi Perspektif serupa disampaikan Justin Wu dari HSBC. Menurutnya, AI berpotensi menjadi salah satu bidang dengan kebutuhan alokasi modal terbesar dalam satu generasi, sekaligus memiliki hubungan yang erat dengan agenda transisi energi.

Justin menjelaskan bahwa investasi global pada AI terus meningkat dan diperkirakan mendekati US$1 triliun dalam waktu dekat. Pada saat yang sama, investasi pada transisi energi juga terus berkembang, menciptakan hubungan yang semakin kuat antara kebutuhan teknologi digital dan kebutuhan energi.

Pertumbuhan AI juga mendorong peningkatan kebutuhan terhadap data centre. Kapasitas data centre saat ini telah meningkat secara signifikan dibandingkan lima tahun sebelumnya, dengan sebagian kapasitas tersebut digunakan untuk kebutuhan AI.

Perkembangan ini, menurut Justin, menciptakan kebutuhan terhadap sumber listrik yang terjangkau, bersih, dan resilien. “AI dan transisi energi merupakan dua hal yang semakin komplementer.

Pertumbuhan data centre membutuhkan akses terhadap listrik yang murah, bersih, dan resilien. Di sisi lain, perkembangan AI juga akan menciptakan kebutuhan investasi yang semakin besar,” jelas Justin.

Dengan demikian, investasi pada AI dan investasi pada transisi energi tidak dapat dilihat sebagai dua agenda yang terpisah. Keduanya semakin terhubung melalui kebutuhan infrastruktur digital, energi, dan pembiayaan.

Talenta Menjadi Faktor Penentu 

Dari perspektif sumber daya manusia, Alris Alfharisi menekankan bahwa perkembangan AI tidak hanya membutuhkan modal dan infrastruktur, tetapi juga kesiapan talenta untuk menerjemahkan investasi dan teknologi menjadi solusi yang dapat diterapkan.

Menurut Alris, terdapat sejumlah perkembangan yang perlu diperhatikan, termasuk bagaimana AI mulai dipandang sebagai asset class serta meningkatnya kebutuhan terhadap energi yang terjangkau, terbarukan, dan berkelanjutan untuk mendukung infrastruktur digital.

Namun, di tengah besarnya peluang tersebut, terdapat keterbatasan pada sisi talenta. “Tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan ambisi ini menjadi kenyataan. Kita perlu memastikan tersedianya talenta yang mampu membangun bankable pipeline sehingga investasi dan teknologi dapat benar-benar diterjemahkan menjadi proyek yang dapat dijalankan,” ujar Alris Alfharisi.

Ketersediaan talenta menjadi semakin penting karena pengembangan AI dan infrastruktur pendukungnya membutuhkan kombinasi antara kemampuan teknologi, pemahaman bisnis, kemampuan manajerial, serta kapasitas untuk mengembangkan dan memperbesar skala proyek.

Menciptakan Proyek yang Bankable 

Terkait tantangan yang dapat menghambat kecepatan deployment modal di tengah besarnya kebutuhan investasi generasi ini, Donny menekankan pentingnya menciptakan enabling environment yang mampu menghasilkan proyek-proyek yang bankable. Menurutnya, ketersediaan proyek yang layak investasi perlu didukung oleh kebijakan dan regulasi yang relevan, terutama untuk proyek-proyek berkelanjutan.

Persaingan untuk mendapatkan proyek berkelanjutan juga semakin tinggi, sehingga Indonesia perlu memastikan bahwa proyek yang dikembangkan memiliki struktur, skala, dan kepastian yang menarik bagi investor.

John menambahkan bahwa pengembangan proyek juga perlu mempertimbangkan hubungan antara rantai pasok global dan kebutuhan lokal. Dalam konteks manufaktur, keberadaan tim teknis di tingkat lokal menjadi penting untuk memahami kebutuhan pelanggan dan membantu menciptakan proyek yang dapat diterapkan secara nyata.

Sementara itu, Justin menekankan bahwa tantangan dalam inovasi bukan semata-mata menemukan ide baru. Tantangan utamanya adalah menghubungkan ide, talenta, teknologi, dan modal dalam skala yang lebih besar.

Dari Ide Menjadi Solusi yang Dapat Dijalankan 

Diskusi tersebut juga menunjukkan bahwa investasi masa depan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan untuk menghubungkan berbagai elemen yang dibutuhkan agar  sebuah inovasi dapat berkembang. Ketersediaan modal perlu berjalan beriringan dengan teknologi, energi, talenta, kebijakan, serta kemampuan untuk membangun proyek yang layak dan dapat diperluas.

Para panelis juga menekankan pentingnya optionality, ketangguhan, dan kemampuan untuk terus beradaptasi dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar. Bagi Indonesia, peluang tersebut terbuka di berbagai sektor, termasuk  pengembangan AI dan ekonomi digital, transisi energi, blue economy, serta pembiayaan berbasis alam.

Namun, peluang tersebut membutuhkan kemampuan untuk memahami  kebutuhan pasar dan pelanggan secara lebih mendalam, kemudian  menerjemahkannya menjadi inovasi dan proyek yang memiliki nilai ekonomi  sekaligus memberikan dampak berkelanjutan.

Melalui Panel ini, ISF 2026 menegaskan bahwa investasi untuk masa depan  bukan hanya tentang menyediakan modal, tetapi tentang membangun ekosistem  yang mampu menghubungkan capital, innovation, energy, and talent untuk  menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas