indonews

indonews.id

LAHIRNYA MAZHAB NUSANTARA

LAHIRNYA MAZHAB NUSANTARA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

MAZHAB NUSANTARA


Seri 1 


Oleh: MJP Hutagaol `86


Nusantara bukan ruang kosong.


Jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah negara modern, kepulauan ini telah menjadi ruang perjumpaan manusia, pengetahuan, perdagangan, kepercayaan, teknologi, dan kebudayaan.


Sriwijaya membangun jejaring maritim dan menjadi salah satu pusat pembelajaran. Majapahit membangun jaringan politik dan kebudayaan yang luas. Di berbagai wilayah Nusantara berkembang pengetahuan tentang pertanian, pengelolaan air, pelayaran, arsitektur, tata sosial, pengobatan, serta cara membaca alam.


Karena itu, Nusantara tidak hanya memiliki sejarah kerajaan.


Nusantara memiliki sejarah pengetahuan.


Namun sering kali kita melihat warisan itu hanya sebagai benda masa lalu: candi, prasasti, naskah, senjata tradisional, rumah adat, atau upacara.


Padahal di balik setiap peninggalan terdapat CARA BERPIKIR.


Bagaimana manusia Nusantara membaca alam? Bagaimana masyarakat mengatur kehidupan bersama? Bagaimana manusia memahami hubungan dirinya dengan Sang Pencipta? Bagaimana kekuasaan ditempatkan dalam kehidupan masyarakat?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar WARISAN BUDAYA menuju WARISAN PEMIKIRAN.


Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Candi bukan hanya tumpukan batu. Subak di Bali bukan hanya sistem irigasi, tetapi cara berpikir tentang keadilan air. Perahu Pinisi bukan hanya teknologi kayu, tetapi cara berpikir tentang bekerja sama dengan angin, bukan menaklukkan laut. Rumah adat bukan hanya arsitektur, tetapi cara berpikir tentang hidup selaras dengan alam.


*DARI NUSANTARA SEBAGAI WILAYAH MENUJU NUSANTARA SEBAGAI GAGASAN*


Nusantara sejak dahulu bukan ruang yang tertutup.


Berbagai pengaruh datang dan bertemu di sini.


Pengaruh India membawa berbagai tradisi Hindu-Buddha. Islam berkembang melalui jaringan perdagangan, dakwah, dan pusat-pusat kekuasaan. Kemudian datang bangsa Eropa bersama ilmu pengetahuan modern sekaligus kolonialisme.


Pada zaman berikutnya masuk pula berbagai gagasan politik dan filsafat dunia: nasionalisme, sosialisme, komunisme, liberalisme, dan berbagai pemikiran modern lainnya.


Tetapi manusia Nusantara tidak selalu menerimanya secara mentah.


Ada proses memilih, menyerap, mengolah, menyesuaikan, dan melahirkan bentuk baru.


Inilah salah satu ciri penting perjalanan intelektual Nusantara:


*MENERIMA PENGARUH, TETAPI TIDAK HARUS KEHILANGAN JATI DIRI.*


Keterbukaan yang sama juga terus berulang di setiap zaman. Dan salah satu gambaran paling jernih terjadi di awal abad ke-20.


*SATU GURU, TIGA JALAN PEMIKIRAN*


Salah satu gambaran menarik dapat kita lihat pada sosok H.O.S. Tjokroaminoto.


Rumah Tjokroaminoto di Surabaya menjadi salah satu ruang perjumpaan penting bagi generasi muda pergerakan pada awal abad ke-20.


Dari lingkungan itu, kita mengenal tokoh-tokoh yang kemudian menempuh jalan pemikiran yang sangat berbeda.


Soekarno berkembang sebagai tokoh nasionalisme Indonesia.

Musso menempuh jalan komunisme.

Kartosuwiryo berkembang dalam perjuangan politik Islam.


Mereka bukan pencipta bersama NASAKOM. NASAKOM adalah konsep politik Soekarno yang mempertemukan tiga arus besar: NASionalisme, A-gama, dan KOMunisme.


Namun perjalanan ketiga tokoh tersebut memberikan gambaran yang menarik tentang bagaimana tiga arus pemikiran dapat tumbuh dari lingkungan pergerakan yang memiliki titik perjumpaan sejarah.


Di sinilah sejarah memberikan pelajaran penting:


*SEORANG GURU TIDAK SELALU MELAHIRKAN MURID DENGAN PIKIRAN YANG SAMA.*


Dari satu ruang belajar dapat lahir pemikiran yang berbeda. Dari perbedaan dapat lahir perdebatan. Dan dari perdebatan dapat terbentuk perjalanan sejarah sebuah bangsa.


*MAZHAB NUSANTARA BUKAN IDEOLOGI BARU*


Karena itu, ketika kita menggunakan istilah MAZHAB NUSANTARA, kita tidak sedang menawarkan sebuah ideologi baru.


Kita sedang mencoba membaca kembali CARA NUSANTARA BERPIKIR.


Mazhab Nusantara adalah upaya melihat bahwa pemikiran tidak selalu lahir dari ruang kosong.


Ia lahir dari pengalaman. Dari lingkungan. Dari perjumpaan berbagai kebudayaan. Dari hubungan manusia dengan alam. Dari pengalaman menghadapi kekuasaan. Dari pencarian terhadap keadilan. Dan dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta.


Maka Mazhab Nusantara bukan berarti menolak pemikiran dari luar.


Justru sebaliknya. Nusantara sejak dahulu terbuka terhadap dunia.


Tetapi keterbukaan tidak harus berarti kehilangan akar.


Yang diperlukan adalah kemampuan untuk:


*MENERIMA → MEMAHAMI → MENYARING → MENGOLAH → MELAHIRKAN.*


Dengan cara itulah sebuah bangsa tidak hanya menjadi konsumen pemikiran, tetapi mampu menjadi produsen pemikiran.


*BUDI SEBAGAI JIWA*


Di sinilah BUDI menjadi penting.


Budi bukan sekadar kecerdasan. Budi bukan sekadar keberanian. Budi bukan pula sekadar kemampuan menguasai teknologi.


Jika akal adalah kemampuan untuk mengetahui, maka *Budi adalah kemampuan untuk menimbang: apa yang patut, apa yang adil, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.*


Budi adalah akal yang diterangi hati nurani. Ia adalah kompas yang menjaga agar pengetahuan tidak kehilangan arah kemanusiaan.


Karena kecerdasan tanpa kebijaksanaan dapat menjadi alat kekuasaan. Teknologi tanpa tanggung jawab dapat menjadi alat kehancuran. Kekuasaan tanpa Budi dapat kehilangan arah.


Maka pembangunan peradaban tidak cukup hanya bertanya: “Seberapa tinggi pengetahuan kita?” Tetapi juga: *“UNTUK APA PENGETAHUAN ITU DIGUNAKAN?”*


*DARI WARISAN MENUJU MASA DEPAN*


Hari ini kita memasuki zaman yang berbeda.


Artificial Intelligence berkembang sangat cepat. Energi menjadi sumber kekuatan strategis. Logam dan mineral kritis menjadi bagian penting dari persaingan teknologi. Data menjadi sumber kekuasaan baru.


Perang tidak lagi hanya berlangsung di medan fisik. Persepsi, informasi, teknologi, ekonomi, dan pengetahuan menjadi bagian dari pertarungan peradaban.


Dalam situasi seperti ini, bangsa Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi.


Kita perlu kembali bertanya: APAKAH NUSANTARA HANYA MENJADI PASAR TEKNOLOGI DUNIA? ATAU MAMPU MENJADI SUMBER PENGETAHUAN DAN GAGASAN BAGI DUNIA?


Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada akar. Bukan untuk kembali ke masa lalu. Tetapi untuk membawa nilai-nilai terbaik masa lalu ke masa depan.


*MAZHAB NUSANTARA*


Mungkin inilah yang dimaksud dengan MAZHAB NUSANTARA:


*BUKAN MENUTUP DIRI DARI DUNIA, BUKAN MENOLAK PEMIKIRAN ASING, DAN BUKAN PULA MEMUJA MASA LALU.*


Melainkan membangun kemampuan untuk belajar dari dunia tanpa kehilangan akar, menyerap ilmu tanpa kehilangan Budi, menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan, serta membangun kemajuan tanpa memutus hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.


Sebab sebuah bangsa yang mengenal akarnya tidak harus takut menghadapi masa depan. Ia justru dapat berdiri lebih tegak ketika memasuki dunia baru.


Dan mungkin, di tengah zaman AI, energi, data, dan perubahan peradaban, pertanyaan terbesarnya bukan lagi:


“APA YANG DAPAT DIBERIKAN DUNIA KEPADA NUSANTARA?”


Tetapi:


*“APA YANG DAPAT NUSANTARA BERIKAN KEPADA DUNIA?”*


Di situlah perjalanan MAZHAB NUSANTARA baru dimulai.


*BERSAMBUNG.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas