indonews

indonews.id

MAZHAB NUSANTARA

MAZHAB NUSANTARA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

SERI 3 — APAKAH NUSANTARA MEMILIKI CARA BERPIKIR SENDIRI?


Oleh: MJP Hutagaol ’86


PERTANYAAN YANG LEBIH DALAM DARIPADA SEJARAH


Setelah memahami apa yang dimaksud dengan mazhab, kita sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar.


Apakah Nusantara memiliki cara berpikir sendiri?


Pertanyaan ini tidak sesederhana yang terlihat. Sebab, selama ini kita sering mengenali Nusantara melalui wilayah, suku, bahasa, kerajaan, kesenian, adat, dan peninggalan sejarahnya.


Kita mengenal Borobudur, Sriwijaya, Majapahit, Pinisi, Subak, berbagai rumah adat, serta naskah-naskah kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Namun, apakah kita telah membaca semua itu hanya sebagai peninggalan masa lalu, atau juga sebagai jejak pengetahuan dan cara manusia memahami kehidupan?


Sebuah bangunan dapat menunjukkan pengetahuan tentang ruang dan konstruksi. Sistem pertanian dapat memperlihatkan kemampuan mengelola air serta kerja bersama. Tradisi pelayaran dapat menyimpan pengetahuan tentang angin, arus, cuaca, dan navigasi.


Di balik hasil karya tersebut terdapat proses berpikir manusia.


Karena itu, pertanyaan kita bukan sekadar apakah Nusantara memiliki kebudayaan yang kaya.


Pertanyaan kita adalah:


APAKAH DI BALIK KERAGAMAN KEBUDAYAAN NUSANTARA TERDAPAT NILAI, PRINSIP, DAN POLA BERPIKIR YANG DAPAT KITA PELAJARI UNTUK MEMBANGUN MASA DEPAN?


Untuk menjawabnya, kita perlu menelusuri bukti, memahami konteks, dan berani membedakan antara fakta sejarah, tafsir, serta gagasan yang masih harus diuji.


NUSANTARA BUKAN SATU KEBUDAYAAN YANG SERAGAM


Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami satu hal penting.


Nusantara bukan satu masyarakat yang sejak dahulu memiliki bahasa, adat, kepercayaan, dan cara berpikir yang sama.


Kepulauan ini dihuni oleh beragam masyarakat dengan pengalaman sejarah yang berbeda. Mereka membangun tata kehidupan, sistem pengetahuan, dan tradisi yang tumbuh dari lingkungan masing-masing.


Masyarakat maritim memiliki pengalaman berbeda dari masyarakat agraris. Masyarakat yang hidup di pegunungan menghadapi persoalan berbeda dari masyarakat pesisir. Setiap wilayah mengembangkan pengetahuan sesuai kebutuhan, lingkungan, dan pengalaman sejarahnya.


Bahkan dalam satu wilayah pun, pemikiran masyarakat dapat berkembang dan berubah dari generasi ke generasi.


Karena itu, kita tidak boleh memaksakan satu gambaran tunggal seolah-olah seluruh masyarakat Nusantara selalu berpikir dengan cara yang sama.


Justru di sinilah tantangan intelektualnya.


Kita perlu mencari kemungkinan adanya titik temu di tengah keragaman, tanpa menghapus keragaman itu sendiri.


Cara berpikir Nusantara, apabila hendak dirumuskan, harus dibangun dari kajian atas berbagai pengalaman masyarakat, bukan dari anggapan bahwa semuanya memiliki satu watak yang tetap.


JEJAK PERTAMA: KEMAMPUAN MEMBACA ALAM


Mari kita mulai dari hubungan manusia dengan lingkungan.


Di berbagai wilayah Nusantara, masyarakat mengembangkan pengetahuan untuk menghadapi kondisi alamnya.


Masyarakat agraris mempelajari musim, tanah, air, dan siklus tanaman. Masyarakat pesisir mengembangkan pengetahuan tentang laut, angin, serta pelayaran. Masyarakat di wilayah pegunungan membangun cara untuk mengelola lahan dan menyesuaikan kehidupan dengan kondisi geografisnya.


Salah satu contoh yang dapat kita pelajari adalah sistem Subak di Bali.


Subak bukan hanya jaringan saluran irigasi. Ia juga merupakan sistem kelembagaan masyarakat petani yang mengatur pembagian air, koordinasi, serta tanggung jawab bersama.


Dari sini kita dapat mempelajari hubungan antara pengetahuan teknis dan tata kehidupan sosial.


Air bukan hanya persoalan teknis yang harus dialirkan ke sawah. Pembagiannya juga memerlukan aturan, kesepakatan, dan pengelolaan kepentingan bersama.


Contoh lainnya adalah tradisi pembuatan Pinisi oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Pengetahuan mengenai bentuk kapal, pemilihan bahan, konstruksi, dan pelayaran berkembang melalui pengalaman serta keterampilan yang diwariskan dan terus dipraktikkan.


Kedua contoh ini tidak membuktikan bahwa seluruh masyarakat Nusantara memiliki satu filsafat alam yang sama. Namun, keduanya memperlihatkan bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari interaksi panjang antara manusia, lingkungan, pengalaman, dan kehidupan bersama.


Di sinilah terdapat pertanyaan penting untuk Mazhab Nusantara:


BAGAIMANA PENGETAHUAN YANG LAHIR DARI PENGALAMAN LOKAL DAPAT DIPELAJARI, DIUJI, DAN DIKEMBANGKAN MENJADI PENGETAHUAN YANG RELEVAN BAGI MASA DEPAN?


Pertanyaan ini penting ketika dunia menghadapi persoalan ketahanan pangan, air, energi, perubahan iklim, dan keberlanjutan lingkungan.


Warisan lokal tidak perlu dipertentangkan dengan sains modern. Keduanya dapat dipertemukan melalui penelitian, pengujian, dan pengembangan yang bertanggung jawab.


JEJAK KEDUA: KEHIDUPAN BERSAMA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL


Manusia tidak hidup sendirian.


Dalam berbagai masyarakat Nusantara, kehidupan bersama diatur melalui adat, kesepakatan, musyawarah, pembagian tanggung jawab, dan bentuk kerja kolektif lainnya.


Gotong royong merupakan salah satu istilah yang dikenal luas untuk menggambarkan kerja bersama dalam berbagai konteks sosial Indonesia.


Namun, gotong royong tidak berarti bahwa semua masyarakat memiliki aturan yang sama. Bentuk, tujuan, dan pelaksanaannya berbeda menurut tempat, waktu, serta kebutuhan masyarakat.


Demikian pula musyawarah. Dalam berbagai tradisi, musyawarah digunakan untuk membicarakan persoalan bersama dan mencari kesepakatan. Akan tetapi, kualitasnya bergantung pada siapa yang dilibatkan, bagaimana pendapat didengar, dan apakah keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan.


Kita tidak boleh menganggap bahwa semua keputusan adat selalu adil atau bahwa setiap masyarakat tradisional selalu bebas dari ketimpangan.


Justru melalui pemeriksaan kritis, kita dapat membedakan nilai yang layak dikembangkan dari praktik yang perlu diperbaiki.


Dari pengalaman-pengalaman tersebut, kita dapat merumuskan beberapa pertanyaan.


Bagaimana kepentingan pribadi ditempatkan dalam kehidupan bersama?


Bagaimana keputusan diambil ketika terdapat perbedaan kepentingan?


Bagaimana tanggung jawab dibagi?


Bagaimana hak individu dilindungi tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat?


Pertanyaan-pertanyaan itu tetap relevan dalam kehidupan Indonesia modern.


Kita dapat mempelajari nilai kerja bersama tanpa menghapus kebebasan individu. Kita dapat menghargai musyawarah tanpa menutup ruang kritik. Kita dapat menghormati adat tanpa menjadikan setiap kebiasaan kebal terhadap evaluasi.


Warisan sosial yang bernilai bukan hanya yang mampu mempertahankan kebersamaan, tetapi juga yang mampu memperbaiki kehidupan bersama.


JEJAK KETIGA: PENGETAHUAN, KEKUASAAN, DAN KEMAMPUAN MEMBANGUN PERADABAN


Sejarah Nusantara juga memperlihatkan bahwa masyarakat di kepulauan ini tidak hidup dalam ruang yang tertutup.


Sriwijaya berkembang sebagai kekuatan maritim yang terhubung dengan jaringan perdagangan dan pembelajaran di Asia. Majapahit membangun jaringan politik yang luas serta meninggalkan sumber sejarah penting mengenai kehidupan politik dan kebudayaan pada masanya.


Keduanya menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Nusantara pernah membangun kemampuan mengelola hubungan antardaerah dan berinteraksi dengan dunia luar.


Namun, kita perlu membedakan fakta tersebut dari kesimpulan yang lebih jauh.


Kebesaran suatu kerajaan tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh masyarakatnya memiliki satu sistem filsafat yang seragam. Jaringan perdagangan juga tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kemandirian teknologi dalam semua bidang.


Untuk memahami cara berpikir yang melatarbelakangi suatu peradaban, kita perlu mempelajari prasasti, naskah, artefak, struktur bangunan, bukti arkeologis, dan sumber sejarah lain sesuai konteksnya.


Dari sana kita dapat meneliti bagaimana kekuasaan dijalankan, bagaimana pengetahuan dikembangkan, bagaimana hubungan dengan dunia luar dibangun, serta bagaimana masyarakat memahami kedudukan manusia dalam tatanan kehidupannya.


Dengan demikian, sejarah kerajaan tidak hanya menjadi kisah kejayaan yang dibanggakan.


Ia menjadi bahan pembelajaran untuk memahami hubungan antara pengetahuan, organisasi sosial, kekuasaan, dan perkembangan peradaban.


Kita tidak cukup hanya mengagumi kebesaran masa lalu. Kita perlu memahami bagaimana kebesaran itu dibangun, apa keterbatasannya, dan apa yang masih relevan untuk masa kini.


JEJAK KEEMPAT: MAKNA HIDUP DAN DIMENSI SPIRITUAL


Manusia tidak hanya membangun kehidupan untuk memenuhi kebutuhan jasmani.


Manusia juga mencari makna, mempertanyakan keberadaan, memahami kematian, dan merenungkan hubungannya dengan Sang Pencipta.


Di Nusantara, pertanyaan tersebut diungkapkan melalui berbagai tradisi kepercayaan, adat, dan agama yang memiliki sejarah serta ajaran berbeda-beda.


Dimensi spiritual dapat memengaruhi cara manusia memahami kewajiban, tanggung jawab, kehidupan bersama, dan kedudukan dirinya dalam alam semesta.


Namun, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa seluruh tradisi spiritual Nusantara memiliki ajaran yang sama. Perbedaan keyakinan dan penafsiran perlu dihormati dan dipelajari sesuai sumbernya.


Yang dapat kita teliti adalah bagaimana pandangan tentang kehidupan, kewajiban moral, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta memengaruhi perilaku dan tata kehidupan masyarakat.


Pertanyaan berikutnya ialah bagaimana nilai-nilai tersebut dapat berdialog dengan tantangan zaman modern.


Bagaimana manusia menggunakan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan tanggung jawab moral?


Bagaimana kemajuan ekonomi berjalan bersama kepedulian terhadap sesama?


Bagaimana kekuasaan dijalankan dengan kesadaran akan batas dan tanggung jawab?


Di sinilah dimensi spiritual bertemu dengan persoalan etika dan kehidupan sosial.


Bagi Mazhab Nusantara, pembahasan ini bukan untuk mencampuradukkan seluruh agama atau menetapkan satu keyakinan sebagai milik semua masyarakat. Tujuannya adalah memahami secara bertanggung jawab bagaimana tradisi dan pandangan hidup ikut membentuk pengalaman manusia di Nusantara.


DARI BERBAGAI JEJAK MENUJU KEMUNGKINAN SEBUAH KERANGKA BERPIKIR


Setelah melihat berbagai contoh tersebut, apakah kita sudah dapat menyatakan bahwa Mazhab Nusantara telah terbukti sebagai satu mazhab pemikiran?


Belum.


Kita baru menemukan sejumlah wilayah kajian yang menjanjikan.


Pengetahuan membaca alam, tata kehidupan bersama, pengalaman mengelola kekuasaan, serta pencarian makna spiritual dapat menjadi bahan untuk merumuskan prinsip-prinsip pemikiran.


Namun, prinsip-prinsip itu harus dirumuskan dengan hati-hati. Kita tidak boleh mengambil beberapa contoh dari wilayah yang berbeda, lalu langsung menyimpulkan bahwa semuanya merupakan bagian dari satu sistem pemikiran kuno yang utuh.


Kita perlu meneliti apakah terdapat pola yang benar-benar dapat dibandingkan, dalam konteks apa pola itu muncul, dan sejauh mana pola tersebut bertahan atau berubah.


Kita juga perlu mengakui bahwa sebagian pengetahuan diwariskan secara lisan, sebagian tercatat dalam naskah, dan sebagian hanya dapat dipahami melalui bukti material serta penelitian lapangan.


Setiap jenis sumber memiliki kekuatan dan keterbatasannya.


Karena itu, Mazhab Nusantara harus dibangun melalui keterbukaan terhadap bukti, ketelitian sejarah, dialog antardisiplin, dan kesediaan memperbaiki kesimpulan ketika ditemukan pengetahuan baru.


Kita tidak sedang mencari pembenaran bagi sebuah nama. Kita sedang mencari pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk membangun sebuah gagasan.


APA YANG DAPAT KITA KEMBANGKAN?


Dari berbagai jejak tersebut, setidaknya terdapat beberapa pertanyaan yang dapat menjadi agenda penelitian Mazhab Nusantara.


Pertama, bagaimana masyarakat Nusantara mengembangkan pengetahuan melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan lingkungan?


Kedua, bagaimana kehidupan bersama diatur melalui adat, musyawarah, kerja kolektif, dan berbagai bentuk kelembagaan lokal?


Ketiga, bagaimana kekuasaan, pengetahuan, serta hubungan dengan dunia luar membentuk perkembangan masyarakat?


Keempat, bagaimana tradisi spiritual dan nilai moral memengaruhi cara manusia memahami kehidupan serta tanggung jawabnya?


Kelima, bagaimana pengetahuan dan nilai yang terbukti bermanfaat dapat dikembangkan untuk menjawab persoalan Indonesia masa kini tanpa mengabaikan hak, keadilan, dan kemajuan ilmu pengetahuan?


Pertanyaan tersebut membuka jalan bagi penelitian yang lebih sistematis.


Kita dapat memulai dari contoh konkret, memeriksa sumbernya, membandingkan pengalaman berbagai daerah, lalu merumuskan prinsip yang benar-benar didukung oleh bukti.


Dari situ, pemikiran dapat berkembang dari sekadar inspirasi menjadi kerangka analisis yang dapat digunakan untuk memahami persoalan dan merancang jalan keluar.


MAZHAB NUSANTARA BUKAN SEKADAR KEBANGGAAN


Kebanggaan terhadap warisan sendiri merupakan hal yang wajar.


Namun, kebanggaan saja tidak cukup untuk membangun mazhab pemikiran.


Sebuah gagasan harus mampu menjelaskan persoalan, menunjukkan landasannya, menghadapi kritik, dan memberikan sumbangan nyata bagi kehidupan.


Mazhab Nusantara tidak akan menjadi kuat hanya karena menggunakan nama Nusantara. Ia harus menunjukkan bagaimana pengalaman masyarakat di kepulauan ini dapat membantu kita memahami manusia, kehidupan bersama, alam, pengetahuan, kekuasaan, dan masa depan.


Kita tidak perlu mengklaim bahwa semua jawaban sudah tersedia dalam masa lalu.


Sebaliknya, kita dapat menjadikan masa lalu sebagai salah satu sumber pembelajaran, mempertemukannya dengan pengetahuan modern, lalu mengembangkan pemikiran yang sesuai dengan tantangan masa kini.


Inilah perbedaan antara memuja warisan dan menghidupkan warisan.


Memuja warisan membuat kita berhenti pada kekaguman.


Menghidupkan warisan mengajak kita memahami, menguji, dan mengembangkannya.


Nusantara tidak harus kembali ke masa lalu untuk menemukan masa depannya. Nusantara perlu memahami masa lalunya agar dapat menentukan masa depannya dengan lebih bijaksana.


PERTANYAAN MENUJU SERI BERIKUTNYA


Kini kita telah melihat bahwa di berbagai wilayah Nusantara terdapat jejak pengetahuan, tata kehidupan bersama, pengalaman mengelola kekuasaan, dan pencarian makna spiritual.


Jejak-jejak itu belum membuktikan adanya satu mazhab yang seragam. Namun, semuanya menyediakan bahan penting untuk membangun kajian tentang cara berpikir yang tumbuh dari pengalaman masyarakat Nusantara.


Lalu, bagaimana kita memilih dan merumuskan nilai yang layak dikembangkan?


Bagaimana kita membedakan kecerdasan dari kebijaksanaan?


Bagaimana pengetahuan, kekuasaan, dan kemajuan dapat diarahkan agar tidak kehilangan tujuan kemanusiaannya?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada satu kata yang perlu dibahas lebih mendalam.


BUDI.


Bukan hanya sebagai istilah budaya, melainkan sebagai persoalan tentang bagaimana manusia menimbang, memilih, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.


Apabila pengetahuan membantu manusia memahami apa yang dapat dilakukan, bagaimana manusia menentukan apa yang patut dilakukan?


Jakarta ,10 Oktober 2026


Di situlah pembahasan berikutnya dimulai.


BERSAMBUNG.


Seri 4 — BUDI: FONDASI KEBIJAKSANAAN NUSANTARA

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas