indonews

indonews.id

SERI 4, MAZHAB NUSANTARA

SERI 4, MAZHAB NUSANTARA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

BUDI: FONDASI KEBIJAKSANAAN NUSANTARA


Baca juga : MAZHAB NUSANTARA

Ketika kecerdasan menghasilkan kemampuan, Budi menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan.


KETIKA TAHU BELUM TENTU BIJAKSANA


Manusia dapat mengumpulkan pengetahuan, mengembangkan teknologi, membangun kekuasaan, dan menguasai sumber daya. Namun, apakah semua kemampuan itu dengan sendirinya membuat manusia menjadi bijaksana?


Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Ilmu dapat digunakan untuk menyembuhkan, tetapi juga untuk menghancurkan. Kekuasaan dapat melindungi rakyat, tetapi dapat pula digunakan untuk kepentingan diri sendiri. Teknologi dapat memperluas kesejahteraan, tetapi juga memperbesar ketimpangan.


Persoalannya bukan hanya seberapa jauh manusia mampu melangkah, melainkan apakah ia memahami ke mana harus melangkah dan apa akibat dari langkahnya.


Di sinilah kita memasuki persoalan Budi.


APA YANG KITA MAKSUD DENGAN BUDI?


Dalam kehidupan Nusantara, kata budi memiliki beragam penggunaan dan makna. Ia dapat berkaitan dengan akal, watak, pertimbangan moral, kesantunan, dan kemampuan menempatkan diri secara patut. Maknanya tidak selalu sama dalam setiap bahasa dan tradisi.


Dalam gagasan Mazhab Nusantara yang sedang kita bangun, Budi kita tempatkan sebagai kemampuan menimbang pengetahuan, kehendak, dan tindakan dengan pertimbangan moral serta tanggung jawab terhadap sesama dan kehidupan.


Dengan pengertian ini, Budi bukan lawan dari kecerdasan. Budi justru diperlukan agar kecerdasan tidak kehilangan arah.


Orang yang cerdas mungkin mampu menemukan cara mencapai suatu tujuan. Namun, kebijaksanaan juga menuntut pertanyaan: apakah tujuan itu benar, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung akibat, dan apakah tindakan tersebut dapat dipertanggungjawabkan?


Maka, ukuran kemajuan tidak cukup berhenti pada kemampuan menghasilkan sesuatu. Kita juga perlu menilai kualitas keputusan dan akibatnya bagi kehidupan.


BUDI BUKAN SEKADAR WARISAN, MELAINKAN TANGGUNG JAWAB


Kita tidak perlu menganggap seluruh masyarakat Nusantara pada masa lampau memiliki satu konsep Budi yang seragam. Nusantara terdiri atas banyak masyarakat, bahasa, adat, dan tradisi pemikiran.


Namun, berbagai warisan seperti musyawarah, gotong royong, penghormatan terhadap kehidupan, dan tanggung jawab sosial dapat menjadi bahan untuk mengkaji bagaimana kebijaksanaan dipahami dan dipraktikkan dalam konteks yang berbeda.


Warisan tersebut tetap perlu dibaca secara kritis. Tidak semua praktik lama otomatis adil, dan tidak semua hal baru otomatis merusak. Tradisi dapat menyimpan kebijaksanaan, tetapi juga dapat mengandung ketimpangan yang perlu diperbaiki.


Menghormati warisan bukan berarti membekukan masa lalu. Menghormatinya berarti memahami, menguji, dan mengembangkan nilai yang masih relevan bagi kehidupan manusia.


Di sinilah Budi tidak berhenti sebagai semboyan atau kebanggaan identitas. Ia harus tampak dalam cara kita mengambil keputusan, memperlakukan sesama, menggunakan kekuasaan, dan menjaga kehidupan bersama.


BUDI DI TENGAH KECERDASAN BUATAN


Hari ini, manusia memasuki zaman ketika kecerdasan buatan mampu mengolah data, mengenali pola, menghasilkan teks, dan membantu menyelesaikan berbagai persoalan dengan kecepatan yang terus meningkat.


Namun, kemampuan menghasilkan jawaban tidak dengan sendirinya berarti memahami seluruh nilai moral di balik suatu keputusan. Teknologi dapat membantu manusia menganalisis pilihan, tetapi tanggung jawab atas penggunaannya tetap memerlukan pertimbangan manusia dan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan.


Karena itu, pertanyaan strategis bagi Indonesia bukan hanya apakah kita mampu menguasai teknologi, tetapi juga apakah kita mampu menggunakannya untuk meningkatkan kualitas manusia dan kehidupan bersama.


Hal serupa berlaku bagi energi, mineral strategis, data, dan kekayaan alam. Semua itu dapat menjadi modal kemajuan. Namun, tanpa kebijaksanaan, kekayaan dapat berubah menjadi sumber konflik, ketergantungan, atau ketidakadilan.


Pengetahuan memberi kemampuan. Teknologi memperluas daya. Kekuasaan menentukan jangkauan tindakan. Budi mengingatkan kita untuk mempertimbangkan arah, batas, dan tanggung jawabnya.


BUDI SEBAGAI ARAH MAZHAB NUSANTARA


Jika Seri 1 mengajak kita menelusuri lahirnya gagasan Mazhab Nusantara, Seri 2 membahas mazhab sebagai jalan berpikir, dan Seri 3 mempertanyakan kemungkinan adanya cara berpikir Nusantara, maka Seri 4 membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar: nilai apa yang hendak menuntun cara berpikir tersebut?


Dalam kerangka yang sedang kita rumuskan, Budi dapat menjadi salah satu fondasi etikanya.


Bukan karena Budi telah terbukti sebagai satu-satunya nilai yang menyatukan seluruh sejarah Nusantara, melainkan karena kita memerlukan prinsip yang menghubungkan pengetahuan dengan tanggung jawab, kecerdasan dengan kebijaksanaan, serta kemajuan dengan kemanusiaan.


Mazhab Nusantara tidak boleh berhenti pada romantisme kejayaan masa lalu. Ia harus berani belajar dari sejarah, terbuka terhadap ilmu pengetahuan dunia, dan mampu menguji gagasannya sendiri.


Ukurannya bukan seberapa sering kita menyebut kebesaran Nusantara, melainkan seberapa bermakna pemikiran itu bagi persoalan nyata yang dihadapi manusia hari ini.


PENUTUP: KEMAJUAN YANG MEMILIKI ARAH


Masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar, negara yang kuat, atau teknologi yang canggih. Masa depan juga membutuhkan kemampuan membedakan apa yang dapat dilakukan dan apa yang patut dilakukan.


Di sinilah Budi memperoleh relevansinya sebagai fondasi pemikiran yang sedang kita bangun.


Nusantara tidak perlu menutup diri untuk menemukan jati dirinya. Nusantara perlu mengenali akarnya, belajar dari dunia, dan mengolah keduanya dengan kebijaksanaan.


Sebab, sumbangan peradaban tidak hanya diukur dari apa yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari nilai yang diwujudkan dan kehidupan yang diperbaiki.


Pertanyaan yang kemudian muncul ialah: jika Budi menjadi salah satu fondasi kebijaksanaan, bagaimana nilai itu diterjemahkan menjadi prinsip dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara?


Bersambung ke Seri 5 — PANCASILA: NILAI, KEBIJAKSANAAN, DAN ARAH PERADABAN


Jakarta , 10 Oktober 2026;


 MJP Hutagaol ’86

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas