indonews

indonews.id

Forum AI Dunia, Akademisi UI Soroti Keberhasilan Indonesia Membangun Ekonomi Kreatif

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews

Moskow, INDONEWS.ID - Ketika berbagai negara berlomba mengembangkan kecerdasan artifisial, pertanyaan yang semakin penting bukan hanya siapa yang memiliki teknologi paling canggih, melainkan siapa yang mampu mengubah kemajuan teknologi menjadi kesempatan ekonomi, perlindungan masyarakat, dan kesejahteraan yang nyata.

Perspektif tersebut menjadi bagian dari pesan Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang menjadi salah satu pembicara pada Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Rusia.

Ajang dunia ini mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan digital dengan partisipasi lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 tamu VVIP (level menteri), serta lebih dari 50 perusahaan teknologi. 

Dalam pemaparannya, Devie menekankan pentingnya mengembangkan AI yang tidak hanya memiliki kemampuan komputasi, tetapi juga memahami konteks bahasa, budaya, komunitas, dan kebutuhan manusia.

Menurutnya, keberhasilan transformasi digital tidak cukup diukur melalui banyaknya aplikasi, model AI, atau inovasi teknologi yang dihasilkan. Keberhasilan yang lebih mendasar adalah kemampuan suatu negara membangun ekosistem agar teknologi dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menciptakan nilai ekonomi dan sosial.

“Dunia sedang berlomba mencerdaskan mesin. Tetapi tugas terbesar kita adalah memastikan bahwa kecerdasan mesin ikut memperluas kesempatan manusia. Teknologi yang hebat bukan hanya yang mampu menghasilkan jawaban, melainkan yang membantu masyarakat menghasilkan karya, pekerjaan, dan kesejahteraan,” wakil Indonesia dalam pertemuan OECD Paris. 

Devie menilai Indonesia memiliki pengalaman menarik untuk diperkenalkan dalam percakapan global mengenai pembangunan ekonomi digital yang berpusat pada manusia. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi kreatif nasional yang didukung oleh kolaborasi pemerintah, organisasi dunia usaha, regulator, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan komunitas industri.

Dalam konteks tersebut, Devie menyoroti inisiatif Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat ekosistem pembiayaan industri penyelenggaraan acara dan subsektor ekonomi kreatif lainnya.

Ekonomi Kreatif Indonesia: Dari Kekuatan Budaya Menjadi Kekuatan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia memperlihatkan semakin besarnya kontribusi inovasi, budaya, dan talenta nasional terhadap perekonomian. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa nilai tambah ekonomi kreatif Indonesia pada 2024 mencapai sekitar Rp1.611 triliun, dengan pertumbuhan 6,57 persen.

Pada 2025, sektor ekonomi kreatif juga menyerap sekitar 27,4 juta pekerja, memperlihatkan perannya sebagai salah satu sumber kesempatan kerja bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat posisinya dalam persaingan ekonomi kreatif global.

Perkembangan ini sejalan dengan perhatian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terhadap ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri kreatif, investasi, pariwisata, peningkatan kapasitas SDM, dan transformasi digital turut membuka peluang semakin luas bagi pelaku usaha.

Dalam ekosistem tersebut, KADIN berperan mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kebijakan, pembiayaan, serta jejaring industri. Salah satu bidang yang memiliki kontribusi penting adalah industri penyelenggaraan acara, yang menghubungkan sektor hiburan, pariwisata, budaya, teknologi, perdagangan, transportasi, perhotelan, dan UMKM.

Industri Event adalah Infrastruktur Ekonomi Kreatif

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Penyelenggara Acara, Ria Yusnita, menilai industri event merupakan salah satu penggerak penting yang memperluas dampak pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.

Menurutnya, sebuah kegiatan penyelenggaraan acara dapat menciptakan peluang ekonomi bagi banyak sektor secara bersamaan. “Ketika Indonesia menyelenggarakan konser, konferensi internasional, festival budaya, atau pameran industri, yang bergerak bukan hanya perusahaan penyelenggara acara. Ada ribuan pekerja kreatif, UMKM, penyedia teknologi, transportasi, perhotelan, kuliner, dan berbagai usaha pendukung yang ikut memperoleh manfaat.” 

Besarnya kontribusi tersebut tercermin dalam kajian dampak ekonomi konser Coldplay di Jakarta misalnya, dimana Konser dengan sekitar 78.500 penonton itu diperkirakan menghasilkan output ekonomi Rp. 843,2 miliar, nilai tambah sekitar Rp. 434,6 miliar, dan pendapatan pekerja sekitar Rp. 150,8 miliar.

Bagi Ria, angka tersebut memperlihatkan bahwa industri event memiliki dampak ekonomi yang jauh melampaui kegiatan pertunjukan itu sendiri. “Industri event bukan sekadar menghadirkan acara yang meriah. Industri ini merupakan infrastruktur ekonomi yang mempertemukan kreativitas, perdagangan, pariwisata, teknologi, dan kesempatan kerja. Karena itu, penguatannya memiliki manfaat yang luas bagi perekonomian Indonesia,” 

KADIN dan OJK Memperkuat Akses Pembiayaan Industri Kreatif

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, KADIN Indonesia melalui Bidang Penyelenggara Acara terus mendorong penguatan ekosistem pembiayaan yang mendukung ekspansi perusahaan kreatif.

Salah satu langkah konkret dilakukan melalui kolaborasi dengan OJK, asosiasi industri, dan sejumlah lembaga jasa keuangan. Dalam industri penyelenggaraan acara, berbagai kegiatan produksi membutuhkan perencanaan modal kerja yang disesuaikan dengan jadwal pelaksanaan proyek. Karena itu, KADIN bersama mitra mendorong pengembangan alternatif pembiayaan berbasis kontrak, tagihan, rekam jejak perusahaan, dan arus kas usaha.

“Pertumbuhan industri kreatif Indonesia memberikan peluang besar bagi lembaga jasa keuangan untuk memperluas dukungan terhadap sektor produktif. Melalui kolaborasi dengan OJK, KADIN membantu membangun pemahaman bersama agar pembiayaan dapat semakin selaras dengan karakter dan potensi bisnis kreatif,” ujar Ria.

Selain pembiayaan, KADIN turut mendorong penguatan sertifikasi kompetensi, tata kelola usaha, dokumentasi rekam jejak proyek, perlindungan pekerja, serta pengembangan data industri. Langkah ini memperlihatkan pendekatan yang menyeluruh: memperluas kesempatan pertumbuhan sekaligus memperkuat profesionalisme pelaku usaha.

“Peran KADIN adalah menjembatani potensi dunia usaha dengan dukungan ekosistem yang tepat. Ketika pemerintah, regulator, lembaga keuangan, dan industri bergerak bersama, kita sedang memperkuat fondasi agar perusahaan kreatif Indonesia semakin kompetitif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” jelas Ria.

OJK: Memperkuat Pertumbuhan Sekaligus Menjaga Kepercayaan Digital

Di tengah percepatan ekonomi digital, Devie juga memberikan apresiasi terhadap langkah OJK dalam mengembangkan kebijakan perlindungan konsumen yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Salah satu inovasi penting adalah Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), pusat koordinasi penanganan penipuan transaksi keuangan yang dikembangkan OJK bersama Satgas PASTI, industri jasa keuangan, dan berbagai lembaga terkait.

Melalui mekanisme pelaporan terintegrasi, IASC membantu mempercepat koordinasi penanganan transaksi yang terindikasi terkait penipuan, termasuk upaya pemblokiran rekening dan penyelamatan dana korban.

Berdasarkan laporan resmi OJK hingga 30 September 2026, IASC telah menerima 702.342 laporan, memfasilitasi pemblokiran 702.833 rekening, dan memblokir dana terkait penipuan senilai sekitar Rp.811,1 miliar.

Dana yang berhasil dikembalikan kepada korban telah mencapai sekitar Rp. 207,16 miliar, berdasarkan keterangan OJK yang disampaikan pada Oktober 2026. Menurut Devie, capaian tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital Indonesia tidak hanya bergerak pada sisi inovasi dan pertumbuhan, tetapi juga pada penguatan keamanan serta kepercayaan masyarakat.

“Yang patut diapresiasi dari OJK adalah kemampuannya mengembangkan pendekatan yang menghubungkan inovasi keuangan dengan perlindungan masyarakat. Ketika penipuan digital berkembang semakin kompleks, respons yang dibutuhkan bukan hanya edukasi, tetapi juga sistem koordinasi yang mampu bekerja cepat dan lintas lembaga,” seru Pengajar tamu di Inggris, Jepang dan Malaysia ini. 

“Ekonomi digital tidak akan tumbuh secara berkelanjutan tanpa kepercayaan. OJK menunjukkan bahwa regulator dapat berperan sebagai penggerak inovasi sekaligus penjaga perlindungan konsumen. Keduanya bukan pilihan yang saling bertentangan, melainkan fondasi yang saling menguatkan,” tambah Devie.

Bagi Devie, penguatan pembiayaan ekonomi kreatif dan perlindungan konsumen digital memperlihatkan dua sisi penting dari kebijakan ekonomi modern: membuka kesempatan bagi pelaku usaha sekaligus menjaga keamanan masyarakat yang memanfaatkan layanan keuangan.

Belajar dari Skolkovo: Negara Maju Membangun Ekosistem, Bukan Hanya Teknologi

Pengalaman internasional juga memberikan perspektif mengenai pentingnya pendampingan industri. Salah satu contoh yang menjadi perhatian Devie adalah Skolkovo Innovation Center di Rusia, yang mengembangkan ekosistem kewirausahaan teknologi melalui pendampingan bisnis, akses jejaring, dukungan riset, fasilitasi investasi, dan pengembangan pasar.

Model Skolkovo memperlihatkan bahwa inovasi dapat memperoleh nilai ekonomi lebih besar ketika didukung hubungan yang kuat antara peneliti, pelaku usaha, investor, dan lembaga pendukung.

“Pelajaran penting dari ekosistem seperti Skolkovo adalah bahwa keberhasilan inovasi tidak berhenti pada lahirnya teknologi. Inovasi perlu didampingi agar dapat berkembang menjadi produk, perusahaan, dan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Devie.

Peneliti Kajian Digital ini melihat prinsip yang serupa dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif Indonesia melalui kolaborasi KADIN, OJK, dan pelaku industri. “Indonesia memiliki kekuatan besar pada kreativitas, budaya, dan talenta. Ketika kekuatan tersebut dipertemukan dengan kebijakan yang mendukung, pembiayaan yang semakin inklusif, dan teknologi yang tepat guna, kita sedang membangun fondasi daya saing yang relevan dengan perkembangan dunia,” jelasnya.

Devie menegaskan bahwa pembelajaran dari negara lain perlu diadaptasi sesuai karakter Indonesia, bukan ditiru secara mekanis.

Dalam Global Digital Forum II, Devie mengangkat gagasan bahwa masa depan AI harus bergerak melampaui kemampuan teknologi memahami bahasa menuju kemampuan masyarakat menggunakan teknologi untuk memperkuat kemandirian dan menciptakan nilai.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia dan berbagai inisiatif kolaborasi lintas lembaga memberikan contoh relevan mengenai pentingnya hubungan antara teknologi dan ekosistem manusia.

“AI dapat membantu manusia menciptakan ide dalam hitungan detik. Tetapi untuk mengubah ide menjadi usaha yang bertumbuh, kita membutuhkan jejaring, kepercayaan, pembiayaan, tata kelola, dan kesempatan. Inilah alasan transformasi digital harus berjalan bersama penguatan kelembagaan,” ujarnya.

Ria Yusnita menambahkan bahwa KADIN akan terus mendorong kerja sama produktif agar semakin banyak perusahaan kreatif Indonesia mampu memperluas skala usaha dan meningkatkan daya saing.

“Indonesia memiliki kekayaan kreativitas yang luar biasa. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, kita tidak hanya ingin menjadi tuan rumah berbagai acara besar, tetapi juga menjadi pusat industri kreatif yang profesional, produktif, dan diperhitungkan dunia,” ujar Ria.

“Dunia mungkin mengukur kemajuan dari kecanggihan teknologi, tetapi Indonesia harus terus membuktikan bahwa kemajuan juga diukur dari banyaknya kesempatan yang tercipta, usaha yang berkembang, dan masyarakat yang terlindungi. Kreativitas melahirkan karya, kolaborasi membuka daya, kepercayaan menjaga usaha, dan inovasi membawa Indonesia mendunia, “ tutup devie yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Regulasi, Kebijakan, dan Standardisasi Industri Event KADIN Indonesia Pusat.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas