Lompatan Pariwisata Indonesia: 1,2 Miliar Perjalanan, Pesawat dan Kereta Jadi Salah Satu Kunci Pengalaman Wisata
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Indonesia tidak kekurangan tempat indah. Tantangan pariwisata masa depan bukan lagi sekadar membuat dunia mengenal Indonesia, melainkan memastikan wisatawan mudah menjelajahinya dan memiliki alasan kuat untuk kembali.
Pesan tersebut disampaikan Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang dalam waktu berdekatan, saat berpartisipasi dalam dua forum internasional di Moskow dan Jakarta.
Dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Devie menjadi pembicara mengenai kecerdasan artifisial, bahasa, budaya, dan kemanusiaan. Forum internasional ini mempertemukan pemimpin pemerintahan, organisasi internasional, pelaku industri teknologi, akademisi, pengembang AI, dan komunitas digital dari berbagai kawasan dunia, dengan partisipasi lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 tamu VVIP (level menteri), serta lebih dari 50 perusahaan teknologi.
Di tengah pembahasan transformasi digital global, satu-satunya Wakil Indonesia di PR Leadership Forum di San Fransisco ini, turut mengangkat kekayaan budaya Indonesia serta mengapresiasi arah pengembangan pariwisata nasional yang semakin menekankan kualitas pengalaman dan pemanfaatan teknologi.
Apresiasi tersebut memperoleh konteks yang konkret, ketika Devie menjadi moderator Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026, Sabtu (17/10), di JIExpo Kemayoran.
“Di Moskow, kita berbicara tentang bagaimana teknologi membantu dunia mengenal Indonesia. Di Jakarta, kita membahas bagaimana wisatawan dapat menjelajahi Indonesia dengan lebih mudah. Promosi mengundang orang datang, konektivitas membuka perjalanan, dan pengalaman menentukan apakah mereka akan kembali,” ujar Devie.
Devie mengapresiasi langkah Kementerian Pariwisata di bawah kepemimpinan Menteri Widiyanti Putri Wardhana dalam memperkuat promosi, kualitas pengalaman wisata, dan kolaborasi industri.
Sepanjang 2025, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,20 miliar perjalanan, meningkat 17,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Januari – Agustus 2026, jumlahnya telah mencapai 842,15 juta perjalanan, tumbuh 4,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus Agustus 2026, tercatat 104,30 juta perjalanan wisatawan nusantara, meningkat 11,47 persen secara tahunan.
Jakarta WITF 2026 juga mencerminkan upaya memperluas pasar. Kegiatan yang berlangsung pada 15–17 Oktober tersebut diikuti lebih dari 250 pembeli terdaftar dari lebih dari 45 negara, melalui pameran B2B dan B2C, diskusi industri, serta kegiatan pengenalan destinasi.
“Data perjalanan menunjukkan potensi pasar domestik Indonesia yang luar biasa. Namun, keberhasilan pariwisata tidak cukup dibaca dari banyaknya perjalanan. Kita juga perlu melihat kualitas pengalaman, persebaran manfaat ekonomi, dan kesempatan masyarakat daerah untuk ikut bertumbuh,” kata Devie.
Pandangan tersebut sejalan dengan penegasan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bahwa perilaku wisatawan terus berubah. Wisatawan kini semakin mempertimbangkan pengalaman yang personal, autentik, dan sesuai dengan minat mereka, bukan semata-mata popularitas destinasi.
“Indonesia memiliki kekayaan yang sangat besar, bukan hanya pada destinasi, tetapi juga pada pengalaman yang lahir dari alam, budaya, wellness, gastronomi, tradisi, kreativitas, dan masyarakat di setiap daerah. Tantangan kita adalah bagaimana kekayaan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang relevan dan mudah ditemukan oleh wisatawan,” ujar Widiyanti.
Menurut Menteri Pariwisata, pertumbuhan kunjungan tetap penting, tetapi keberhasilannya juga harus tercermin dalam lama tinggal, jumlah destinasi yang dijelajahi, belanja wisata, konsumsi produk lokal, serta manfaat bagi masyarakat.
“Indonesia tidak kekurangan destinasi untuk dilihat. Yang ingin terus kita bangun adalah semakin banyak alasan untuk datang, tinggal lebih lama, menjelajahi lebih banyak destinasi wisata, menikmati pemandangan alam, budaya, kuliner, wellness, hingga akhirnya membawa pulang sejuta cerita yang berkesan dan tak terlupakan,” tegas Widiyanti.
Keragaman tersebut juga tercermin dari pelaku wisata yang berpartisipasi maupun yang difasilitasi untuk berpromosi di booth Wonderful Indonesia pada Jakarta WITF 2026, mulai dari desa wisata, travel agent, industri wellness, taman wisata, hingga wisata sekolah. Di booth tersebut, para pelaku industri pariwisata akan memasarkan produk serta paket wisata unggulannya kepada para buyer dan pengunjung pameran. “Ragam ini menunjukkan bahwa produk pariwisata Indonesia tidak hanya menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga aktivitas dan pengalaman yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan minat berwisata, dan mengutamakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan,” ujar Deputi Bidang Pemasaran, Ni Made Ayu Marthini menambahkan.
“Pemasaran pariwisata hari ini bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan mancanegara ke destinasi atau mendorong wisatawan nusantara untuk terus mengeksplorasi Indonesia, tetapi bagaimana mempertemukan pengalaman yang tepat dengan wisatawan yang tepat. Kami berharap koneksi antara industri dan pasar dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sekaligus harus dapat mendorong pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara di dalam negeri,” ujar Erwita Dianti, Asdep Pemasaran Pariwisata Nusantara
Dalam WITF 2026, Devie memoderatori diskusi bertema “Seamless Journeys, Connected Destinations: Building Indonesia’s Next Generation Tourism Mobility” bersama Micky Irfandi, Vice President Global Sales & Distribution Garuda Indonesia, dan Hetty Herawati, Commercial Director PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata).
Devie mengapresiasi peran Garuda Indonesia dalam membuka konektivitas internasional dan memperkenalkan identitas bangsa melalui pengalaman penerbangan. “Garuda Indonesia bukan sekadar membawa penumpang dari satu bandara ke bandara lain. Maskapai nasional juga membawa kesan pertama tentang Indonesia lewat pelayanan, keramahan, dan kebanggaan terhadap identitas bangsa.”
Penulis buku Senjakala Pariwisata Konvensional : Pelajaran Berharga dari Berbagai Belahan Dunia ini, juga mengapresiasi peran KAI Wisata dalam memperkaya pengalaman perjalanan melalui layanan kereta, konektivitas antar kota, dan potensi pengembangan wisata berbasis budaya serta sejarah.
“Kereta api memiliki kekuatan yang khas, karena wisatawan bukan hanya tiba di tujuan, tetapi dapat menikmati perjalanan, menyaksikan lanskap, dan mengenal kehidupan masyarakat sepanjang rute.” Menurut Devie, pengalaman penerbangan dan perjalanan kereta dapat saling melengkapi dalam membangun pariwisata yang lebih terhubung.
“Garuda membuka pintu Indonesia kepada dunia, dan kereta mengajak dunia mengenal Indonesia lebih dalam.” Dalam memandu diskusi, Devie menawarkan pendekatan komunikasi pariwisata melalui konsep 3M yaitu Memikat, Menghubungkan, dan Membekas. Memikat, ketika kekayaan alam, budaya, dan kreativitas Indonesia membangkitkan keinginan wisatawan untuk datang. Menghubungkan, ketika penerbangan, kereta, transportasi darat, informasi digital, dan layanan wisata memudahkan perjalanan antar destinasi. Membekas, ketika pengalaman, keramahan masyarakat, dan kualitas pelayanan meninggalkan kenangan yang membuat wisatawan ingin kembali.
“Memikat mata, menghubungkan rasa serta membekas di jiwa. Karena wisata dimulai dari rasa ingin tahu, tumbuh melalui perjumpaan, dan hidup dalam kenangan,” imbuh Devie.
Konsep tersebut melengkapi kerangka Reach–Connect–Move yang diangkat penyelenggara WITF untuk menggambarkan pentingnya akses pasar, konektivitas destinasi, dan mobilitas wisatawan.
Bagi Devie, keduanya memperlihatkan bahwa pariwisata harus dipahami sebagai pengalaman manusia secara utuh, bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain.
Diaz Pranita, pengajar dan peneliti Program Studi Manajemen BIsnis Pariwisata, Vokasi UI, yang sekaligus panitia WITF 2026 ini menilai integrasi transportasi dan pengembangan destinasi semakin penting dalam meningkatkan daya saing pariwisata.
“Wisatawan tidak menilai pengalaman secara terpisah antara pesawat, kereta, hotel, dan destinasi. Mereka merasakan semuanya sebagai satu perjalanan. Karena itu, kualitas pariwisata semakin ditentukan oleh kemampuan berbagai pelaku untuk menghadirkan pengalaman yang saling terhubung,” tambah Diaz.
Diaz juga mengapresiasi kolaborasi Kementerian Pariwisata, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, IINTOA, ASTINDO, para mitra penyelenggaraan, dan Prodigy Events, dalam menghadirkan WITF sebagai ruang pertemuan industri dan pengembangan jejaring bisnis.
“Forum seperti WITF penting karena mempertemukan kebutuhan pasar dengan kesiapan industri. Ketika pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi saling berbagi pengetahuan, peluang pengembangan pariwisata menjadi semakin besar,” seru Diaz.
Devie, pengajar branding di kampus dalam dan luar negeri ini, menilai masa depan pariwisata Indonesia harus dibangun melalui perpaduan teknologi, konektivitas, dan kemanusiaan.
AI dapat membantu wisatawan menemukan destinasi, namun, sistem transportasilah, yang memudahkan mereka menjangkau-nya. Keramahan masyarakat serta pengalaman langsung, yang akan selalu memberi alasan untuk kembali ke nusantara.
“Di Moskow, kita melihat bagaimana teknologi membuat dunia semakin dekat. Di Jakarta, kita melihat bagaimana perjalanan dapat mempertemukan manusia, budaya, dan pengalaman. Indonesia bukan hanya indah untuk dikunjungi. Indonesia juga istimewa untuk dirindukan. Karena pada akhirnya, pariwisata terbaik bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa dalam pengalaman itu tinggal di hati,” tutup Devie.