PLN UIP2B JAMALI Perkuat Kesiapan Sistem Kelistrikan Jawa Bali Hadapi Pertumbuhan Pembangkit EBT Tenaga Surya
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi bagian penting dalam transformasi energi nasional. Presiden RI Prabowo Subianto telah meluncurkan program pembangunan PLTS dengan kapasitas total 100 Giga Watt peak (GWp) di berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 11 dari 14 proyek PLTS tahap awal berada di wilayah Jawa dan Bali. Sebagai unit pengatur sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali, PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B JAMALI) bersama unit pelaksana di bawahnya terus memperkuat kesiapan sistem untuk mengantisipasi pertumbuhan pembangkit energi baru terbarukan (EBT).
General Manager PLN UIP2B JAMALI Munawwar Furqan mengatakan, perkembangan sistem ketenagalistrikan saat ini semakin dinamis. Pertumbuhan beban, perubahan pola pembangkitan, digitalisasi operasi, hingga bertambahnya EBT membuat sistem pengaturan perlu terus menyesuaikan diri.
“Transformasi energi bukan hanya soal menambah pembangkit EBT, tetapi juga memastikan sistem mampu mengelola karakteristik pembangkit yang semakin beragam. Oleh karena itu, PLN terus mempersiapkan teknologi, proses operasi, dan kompetensi sumber daya manusia agar sistem siap menghadapi peningkatan penetrasi EBT,” ujar Munawwar.
Berbeda dengan pembangkit konvensional, produksi listrik dari PLTS dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari dan kondisi cuaca sehingga dapat berubah sepanjang waktu. Dinamika tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam pengaturan sistem kelistrikan, terutama untuk menjaga keseimbangan antara pasokan pembangkitan dan kebutuhan listrik.
Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, PLN UIP2B Jamali memperkuat pemantauan dan pengendalian sistem berbasis teknologi digital, salah satunya melalui modernisasi Supervisory Control and Data Acquisition - Energy Management System (SCADA-EMS). Teknologi ini berperan dalam memantau, mengendalikan, dan mendukung optimalisasi operasi sistem tenaga listrik secara real-time.
Modernisasi SCADA-EMS dilakukan secara bertahap. Proses migrasi dari sistem lama ke sistem baru telah berhasil dilaksanakan pada 3 Juni 2026 dan kini memasuki tahap operasi paralel. Seluruh tahapan dilakukan secara bertahap dengan berbagai mitigasi risiko agar tidak mengganggu kontinuitas pasokan listrik kepada pelanggan. Implementasi penuh ditargetkan rampung pada akhir 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan teknologi pengaturan yang mampu mengikuti sistem kelistrikan yang semakin kompleks dan dinamis.
Tidak hanya teknologi, kesiapan juga dibangun melalui penyusunan dan evaluasi pola operasi. Pengatur sistem perlu memahami perubahan pembangkitan, kondisi jaringan, dan kebutuhan beban untuk menentukan pola operasi yang sesuai. Hal ini menjadi semakin penting seiring bertambahnya pembangkit yang memiliki karakteristik produksi berbeda-beda.
Selain pembaruan teknologi, PLN juga memperkuat kompetensi sumber daya manusia melalui pelatihan, sertifikasi, serta kerja sama dengan berbagai lembaga internasional. PLN turut melakukan benchmarking dengan operator sistem tenaga listrik di Amerika Serikat, Denmark, Australia, dan Jerman guna mengadopsi praktik terbaik dalam pengelolaan sistem kelistrikan modern.
Kesiapan tersebut diperkuat melalui koordinasi antarunit, evaluasi kondisi operasi, serta simulasi berbagai skenario sistem. Dengan demikian, pertumbuhan EBT dipersiapkan tidak hanya dari sisi pembangkit, tetapi juga dari sisi sistem yang akan mengelola dan mengatur masuknya energi tersebut.
Melalui penguatan teknologi, proses operasi, koordinasi, dan kompetensi SDM, PLN UIP2B JAMALI mempersiapkan sistem kelistrikan menghadapi perubahan bauran pembangkitan secara bertahap. Persiapan sudah dilakukan sejak awal agar ketika kapasitas EBT semakin besar, sistem pengaturan telah memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan pola pembangkitan dan kebutuhan operasi.