indonews

indonews.id

Dua Tentara IDF Tewas dalam Serangan, Israel Bersiap Perluas Operasi di Tepi Barat

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan melancarkan operasi militer besar-besaran di Tepi Barat setelah dua tentara Israel tewas dalam serangan bersenjata di dekat Hebron, Jumat (23/10/2026).

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan melancarkan operasi militer besar-besaran di Tepi Barat setelah dua tentara Israel tewas dalam serangan bersenjata di dekat Hebron, Jumat (23/10/2026).

Serangan tersebut juga menyebabkan tiga tentara lainnya terluka. Militer Israel menyatakan dua pria bersenjata Palestina yang diduga terlibat dalam serangan itu tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel.

Insiden terjadi di dekat persimpangan Yehuda, di luar Kota Hebron, wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki Israel. Baku tembak dilaporkan berlangsung sekitar 20 menit sebelum kedua pria bersenjata tersebut tewas ditembak pasukan Israel.

Dua tentara Israel yang tewas diidentifikasi sebagai Staf Sersan Ron Yonatan Roytman, 23 tahun, dan Sersan Yuval Shai Svilem, 20 tahun. Keduanya bertugas di satuan pencarian dan penyelamatan Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel.

Perintahkan Operasi Militer

Setelah insiden tersebut, Netanyahu memerintahkan aparat keamanan untuk mengepung Hebron dan mempersiapkan penutupan wilayah Tepi Barat secara lebih luas.

Dalam kunjungannya ke lokasi serangan, Netanyahu menyatakan militer Israel akan memasuki lingkungan tempat tinggal para pelaku dan melakukan operasi keamanan secara menyeluruh.

"Kami akan mengevakuasi penduduk, kami akan melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah, kami juga akan menyita senjata-senjata di sana, serta menangani dan menghancurkan seluruh infrastruktur teroris," demikian pernyataan Netanyahu yang dikutip dalam laporan media.

Netanyahu juga menyebut pemerintahannya tengah mempertimbangkan operasi militer berskala sangat besar di wilayah yang oleh Israel disebut Yudea dan Samaria, istilah yang digunakan untuk merujuk pada Tepi Barat.

Ia mengatakan militer Israel telah siap melaksanakan operasi tersebut, meskipun waktu pelaksanaannya belum ditentukan secara terperinci.

Rencana itu menandai potensi perluasan operasi militer Israel di Tepi Barat, yang dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami peningkatan ketegangan.

Pembatasan Wilayah dan Penggeledahan

Selain menyiapkan operasi militer, pasukan Israel mulai memperketat pengamanan di sekitar Hebron dan melakukan penyisiran di sejumlah lokasi.

Pemerintah Israel juga menyiapkan pembatasan pergerakan warga di Tepi Barat. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi mobilitas warga Palestina yang bergantung pada akses jalan dan pos pemeriksaan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Serangan terbaru ini terjadi ketika ketegangan di Tepi Barat meningkat, termasuk akibat operasi militer Israel dan kekerasan yang melibatkan pemukim Israel terhadap warga Palestina.

Rencana operasi besar-besaran tersebut juga mengingatkan pada operasi militer Israel bertajuk Iron Wall atau Tembok Besi, yang diluncurkan pada Januari 2025 di sejumlah kamp pengungsi di wilayah utara Tepi Barat.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikutip sejumlah media, operasi tersebut menyebabkan puluhan ribu warga Palestina mengungsi dari tempat tinggal mereka.

Situasi terbaru di Hebron menambah ketidakpastian keamanan di wilayah pendudukan Palestina. Langkah lanjutan pemerintah Israel, termasuk cakupan operasi dan dampaknya terhadap warga sipil, masih menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan regional.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas