indonews

indonews.id

Bulan Madu Bubar: Saat Kekuasaan Saling Sadap

Bulan Madu Bubar: Saat Kekuasaan Saling Sadap

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh Antony Zeidra Abidin 

Bulan madu politik di lingkar kekuasaan resmi berakhir jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang. Aliansi elite yang mulanya dibungkus senyum seremonial kini mulai saling serang secara terbuka di ruang publik.

Putusan Mahkamah Agung soal ijazah Gibran langsung mengguncang legitimasi legal-rasional ala Max Weber. Validitas simbolik sang wakil presiden seketika kehilangan tumpuan moral sebelum sempat menuntaskan agenda politik besarnya.

Secara yuridis, vonis administrasi memang membutuhkan jalan terjal pemakzulan formal di parlemen untuk mencopot jabatan. Namun di gelanggang sosiologi politik, vonis peradilan telah mencabut rasa hormat publik terhadap kepatutan etika kekuasaan.

Pada saat yang sama, skandal penyadapan presiden oleh mantan pimpinan kepolisian memicu gempa kelembagaan yang dahsyat. Rasa saling percaya di pucuk pimpinan aparatur keamanan negara terbukti retak dan menyisakan kecurigaan mendalam.

Dalam doktrin kedaulatan modern, kepala negara memegang hak mutlak atas monopoli alat koersif dan informasi intelijen. Ketika ruang privat presiden justru disadap oleh aparat penegak hukum sendiri, pembangkangan internal telah terjadi secara telanjang.

Kerapuhan ini membuktikan bahwa aparat keamanan tidak lagi beroperasi sebagai satu kesatuan komando yang utuh. Lembaga penegak hukum terfragmentasi menjadi faksi-faksi partisan yang sibuk menimbun berkas rahasia demi mengamankan posisi masing-masing.

Pertemuan dua krisis ini memperlihatkan perang proksi antar-faksi oligarki yang memperebutkan modal kekuasaan. Kompromi transaksional di meja makan istana tak lagi mempan meredam benturan kepentingan yang kian tajam.

Faksi patronase lama berupaya keras memagari dinasti politik agar pengaruh kekuasaannya tidak memudar di tengah jalan. Sebaliknya, faksi kepresidenan berambisi memusatkan kendali mutlak dengan menyingkirkan elemen-elemen yang dicurigai tidak loyal.

Bagi generasi muda, drama hukum dan saling intip ini meruntuhkan ilusi tentang narasi persatuan nasional. Publik disuguhi kenyataan pahit bahwa aparat dan pasal undang-undang kerap disulap menjadi peluru politik elite.

Secara sosiologis, pemandangan vulgar semacam ini memicu anomi sosial dan lonjakan sinisme publik yang akut. Ketika etika kepemimpinan diabaikan, aturan main bernegara kehilangan wibawa moralnya di mata generasi penerus bangsa.

Dari kacamata ekonomi kelembagaan Douglass North, guncangan hukum dan intelijen ini melambungkan premi risiko politik. Kepastian aturan main yang mendadak buyar membuat investor global dan pelaku bisnis domestik memilih menahan modal.

Ketidakpastian tata kelola nasional melahirkan Economic Policy Uncertainty yang langsung menekan stabilitas pasar keuangan. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan kehati-hatian arus modal asing menjadi cerminan kecemasan dunia usaha.

Sektor riil dan proyek hilirisasi jangka panjang menuntut prediktabilitas regulasi yang bersih dari konflik kepentingan. Manakala konsentrasi kabinet terbelah mengurus sengketa internal, efisiensi eksekusi kebijakan ekonomi akan langsung merosot drastis.

Birokrasi pemerintahan kini cenderung bersikap pasif dan defensif karena khawatir terseret arus perseteruan faksi kekuasaan. Akibatnya, agenda strategis seperti penyerapan tenaga kerja dan penciptaan lapangan kerja baru berisiko melambat.

Pertarungan di pucuk kekuasaan ini menuntut penyelesaian tuntas tanpa kompromi semu yang menunda masalah. Mengabaikan vonis hukum dan menutup mata dari operasi intelijen ilegal hanya akan memperpanjang instabilitas nasional.

Presiden dihadapkan pada pilihan mendesak: melakukan pembersihan institusi secara tegas atau membiarkan koalisi tergerus dari dalam. Ketegasan menata ulang korps aparat keamanan menjadi ujian nyata bagi kedaulatan kepemimpinan nasional.

Aliansi politik yang dibangun di atas transaksi kekuasaan pada akhirnya harus tunduk pada hukum gravitasi sosiologis.  Retakan di puncak istana membuktikan bahwa stabilitas semu tak akan pernah sanggup menahan benturan kepentingan.

Generasi muda kini mengawasi dengan kritis setiap manuver hukum dan permainan intelijen yang tengah dipertontonkan.  Di balik panggung formalitas kekuasaan, sejarah selalu mencatat bahwa negara tidak bisa dipimpin dengan saling curiga.

Jakarta, 5 November 2026.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas