INDONEWS.ID

  • Jum'at, 20/10/2017 20:34 WIB
  • Projo Ingin Adopsi Strategi SBY Seperti Saat Memilih Wapres Budiono

  • Oleh :
    • very
Projo Ingin Adopsi Strategi SBY Seperti Saat Memilih Wapres Budiono
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi (tiga dari kiri) dan Budiaarto Shambazy (ketiga dari kanan) bersama Pemred Indonews.id Asri Hadi (paling kanan) dan alumni Fisip UI, di Balai Sarwono, Jumat (20/10/2017). (Foto: Indonews.id/Very)

Jakarta, INDONEWS.ID - Diskusi tentang figur calon wakil presiden yang akan mendampingi Presiden Joko Widodo pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang sudah ramai dibicarakan. Bahkan diskusi tentang cawapres ini lebih ramai dibanding dengan diskusi tentang calon penantang Jokowi, yang hingga kini masih berada seputar calon lama yaitu Prabowo Subianto.

Wacana tentang calon pendamping Jokowi ini sangat menarik dan strategis karena selalu dikaitkan dengan capres pada 2024. Wakil Presiden yang mendampingi Jokowi pada 2019 – jika terpilih- bakal menjadi calon kuat pada suksesi kepemimpinan berikutnya.

Baca juga : Pemerintah Sebut Pelayanan Rumah Sakit Kunci Peningkatan Angka Sembuh Pasien Covid-19

Karena itu, tak heran, jika muncul banyak tarik-menarik kepentingan terkait cawapres yang mendampingi Jokowi. Partai politik misalnya tidak akan begitu saja merelakan kursi yang strategis itu untuk calon luar, yang dinilai kurang “berkeringat” terhadap partai. Parpol pasti berusaha sekuat tenaga untuk menggolkan jagoan mereka.

Karena itu, salah satu organisasi relawan pendukung Jokowi, Projo (Pro-Jokowi) mewacanakan untuk memilih tokoh yang dipastikan tidak akan maju pada pilpres 2024 mendatang.

Baca juga : Empat Tawaran Strategi Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

“Projo berpikir cawapres Jokowi ini selesai bersama Jokowi juga pada 2024. Karena itu, kami mempertimbangkan seperti Pak SBY memilih Wapres Budiono seperti pada pemilu 2009 lalu. Kami memilih capres justru yang bukan next suksesor,” ujar Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi dalam acara “Ngopi  Projo, Ngobrol Politik Indonesia, yang mengambil tema Siapa Wapres Jokowi 2019?”, di Balai Sarwono, Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (20/10/2017).

Ngopi Projo itu juga menghadirkan Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, dan wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy.

Baca juga : DPD Minta Bulog Bantu Petani untuk Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Budi mengatakan, pemilihan calon wakil presiden yang dipastikan tidak maju pada Pilpres 2024 akan mengurangi potensi perpecahan di antara partai politik pendukung. Selain itu, calon tersebut bisa dipastikan fokus mendukung kerja dan program Presiden Jokowi.

“Kami yakin Pak Jokowi itu ingin memilih cawapres yang bekerja dan tidak berpikir menjadi pemimpin berikutnya. Paling tidak, itu feeling politik kami saat ini,” ujar Budi.

Namun, Budi memastikan bahwa pihaknya tidak mau ikut campur tangan dalam menentukan cawapres Jokowi. Pihaknya menyerahkan keputusan itu pada Presiden Jokowi.

Ketika ditanya kemungkinan mencalonkan kembali Jusuf Kalla sebagai wapres Jokowi, Budi mengatakan bahwa hal itu bisa saja terjadi.

“Kemungkinan Jokowi kembali bersama JK tetap ada. Tapi mengapa survei tidak memunculkan nama itu (nama JK). Tapi intinya opsi itu ada,” ujar Budi.

Projo, katanya, tidak berkepentingan dengan cawapres, tapi hanya fokus mendukung Presiden Jokowi. “Kita dukung Presiden Jokowi dan program dia. Soal wapres itu bukan urusan kami, yang penting Presidennya Jokowi,” ujarnya.

Budiarto Shambazy mengatakan, Presiden Jokowi akan memilih cawapres yang memiliki ideologi yang sama dengan dirinya, yaitu kerja. “Menurut saya, Jokowi akan pilih cawapres yang ideologinya kerja. Karena itu, Presiden jangan mau ditekan oleh partai politik,” ujarnya.

Budiarto mengatakan, pada Pilpres 2014 lalu, survei menunjukkan bahwa Abraham Samad menjadi cawapres dengan elektabilitas tertinggi. Namun, mantan ketua KPK itu akhirnya terjungkal dan digantikan oleh Jusuf Kalla.

Menjawab pertanyaan tentang cawapres yang diingingkan Jokowi saat ini, Budiarto mengatakan bahwa Jokowi terlihat belum memikirkannya. Pasalnya, Jokowi masih fokus pada kerja.

Hal itu, kata Budiarto, terlihat dari manuver Jokowi menghadapi demo berjilid-jilid dari massa yang menamakan dirinya 212 dan sikap Jokowi menghadapi heboh menonton film G30S.

“Saya kira cukup melihat manuver Jokowi dalam peristiwa 212 dan 20 Septermber 2017 ketika Jokowi menyaksikan film G30S yang sudah diedit. Kesan saya, Jokowi tidak terganggu dengan gonjang-ganjing politik dan memikirkan cawapres, karena dia fokus kerja, ” ujarnya. (Very)

Artikel Terkait
Pemerintah Sebut Pelayanan Rumah Sakit Kunci Peningkatan Angka Sembuh Pasien Covid-19
Empat Tawaran Strategi Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia
DPD Minta Bulog Bantu Petani untuk Menjaga Ketahanan Pangan Nasional
Artikel Terkini
Pemerintah Sebut Pelayanan Rumah Sakit Kunci Peningkatan Angka Sembuh Pasien Covid-19
Empat Tawaran Strategi Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia
DPD Minta Bulog Bantu Petani untuk Menjaga Ketahanan Pangan Nasional
Kemendagri Desak Pemda untuk Mutakhirkan Data Ketahanan Pangan Daerah
Bamsoet: Jihad Lawan Narkoba Tidak Boleh Kendur Walau di Saat Pandemi
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
eowyn