Bangsa Wisnu Garuda atau Bangsa Wewe Gombel?
Bangsa Indonesia ini membutuhkan kesatuan dan persatuan governane birokrat kreatif.
Reporter: hendro
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Hari Saptu 22 Sep 2018 kita baru saja meresmikan pembukaan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali setelah "28 tahun mangkrak" sejak idee dicetuskan oleh Menteri Pariwisata Joop Ave dan arsitek I Nyoman Nuarta. Ketika menekan tombol sirene peresmian GWK Presiden Jokowi mewujudkan aksi eksekutif dalam semangat memobilisasi seluruh kekuatan Indonesia Inc investor swasta domestik Alam Sutera menanamkan modal untuk mendirikan monumen tertinggi didunia mengalahkan Patung Liberty AS.
Bangsa Indonesia ini membutuhkan kesatuan dan persatuan governane birokrat kreatif seperti Joop Ave, seniman budayawan seperti I Nyoman Nuarta dan entrepreneur seperti The Nin King yang menyatupadukan idee besar, gagasan besar, diwujukan dalam suatu pruk kreatif monumental produktif dalam rangka industri pariwisata global.
Semangat Indonesia Inc inilah yang mestinya menjiwai semangat kontestasi pilpres dan pileg. Siapa partai dan politisi yang punya gagasan sekaligus membuktikan kemampuan me mobilisasi idee, aksi, eksekusi dan implementasi serta sinergi produktif, industrial yang meningkatkan harkat martabat kinerja Indonesia dalam kompetisi lintas nation state global abad XXI yang berciri balapan kreativitas, produktivitas dan efisiensi.
Nah mengherankan bila hari Minggunya ada insiden soal tetek bengek soal soal sepele seperti yel dan prosedure tatib yang dilanggar yang jadi gaduh.
Bangsa ini terlalu banyak dipimpin oleh politisi kelas "wewegombel" yang asyik mencari kesalahan kecil pernik, tetek bengek dan jarang yang mampu berwawasan nasional apalagi regional ASEAN Asia Pacific dan Global G 20 dan seterusnya dan sebagainya.
Semua lebih senang main utak atil pasal pasal konstitusi atau UU Pemilu yang kemudian dimultitafsirkan membuang waktu bertele tele. Semua berebut mau kuasa jadi "Wisnu" tapi Wisnunya bukan soal raksasa seperti bikin patung tertinggi ketiga didunia, "wisnunya" cuma kelas wewe gombe, ribut soal tetek bengek yang dibesarkan di tiwikramakan misalnya soal term 2 periode wapres, berturut turut atau tidak, terus soal Presidensial threshold mau digonta ganti.
Ya semuanya hanya karena tidak mau kalah dan tidak sportif, tidak gentleman tidak ksatria. Ya bagaimana lagi kalau Wisnu yang memang punya DNA/ Genetika Wisnu, sang pemelihara alam semesta. Kalau "wewegombel" biar sudah jadi politisi ya tetapsaja urusan dan wawasannya tetek bengek, kecil mritil, bukan strategis, bisanya hanya gaduh urusan kecil atau amit amit, destruktifnya malah jadi amok modal sara.
Ya kalau anda menanam sara ya menuai badai bubar fiktif. Kalau anda menanam kreativitas dan nilai industrious ya anda akan menuai ekonomi kuat rupiah kuat dan bangsa bermartabat nomor 4 sedunia dalam kualitas bukan cuma dalam kuantitas seperti sekarang ini Stop mental Wewe Gombel jadilah Wisnu Garuda Indonesia Abad XXI.
Semoga setengah abad KADIN hari ini Senin 24 Sep bisa mengubah mind set dan spirit kita mewujudkan kita semua bermental Wisnu Garuda bukan Wewe Gombel. (Penulis pengamat politik Christianto Wibisono)