Bersama Perangi Narkoba!
Membaca buku ini memperkaya kita dari pengetahuan tentang bahaya laten narkoba. Kita juga mendapatkan bonus dengan pengalaman-pengalaman penulis yang dituangkan dalam buku ini sebagai cerita kemanusiaan yang menyentuh.
Reporter: indonews
Redaktur: very
Oleh: Agustinus Tetiro
TEROR NARKOBA 8 PENJURU
Penulis: Vivick Tjangkung
Penerbit: PT Grasindo
168 Halaman
ID: 57.19.4.0030
ISBN: 978-602-05-2180-0
Harga: Rp65.000
Jika narkoba datang dari 8 bahkan dari berbagai penjuru, maka perang terhadapnya tidak bisa hanya dilakukan oleh hanya seorang atau satu lembaga. Kita harus bersama-sama bergandengan tangan melawan narkoba. Benarlah yang dikatakan Komjen Pol (Purn) Gories Mere, “Stop Kerja Sendirian” (p.84)
Menyadari bahwa perang terhadap narkoba adalah perang yang besar karena melawan para raksasa, maka penulis buku ini (Vivick Tjangkung) mengajak semua kalangan untuk berperang melawan narkoba.
Kalau sekedar ajakan, pastilah telah dilakukan oleh banyak pihak. Tetapi, ajakan Vivick dalam buku ini menjadi berbeda karena ajakan Vivick berangkat dari pengalaman yang otentik yang dialaminya setiap hari selama dua puluhan tahun.
Nilai plus lagi dari buku ini adalah ditulis dengan bahasa yang ringan, ramah dan enak dipahami. Sentuhan pengalaman yang diracik secara simpatik melalui gaya bahasa bertutur membuat buku ini mudah diterima oleh semua kalangan.
“Vivick telah menulis dengan bahasa yang gaul dan bisa diterima oleh semua pihak. Kita seperti sedang membaca sastra yang enak dinikmati,” demikian apresiasi Irjen Pol (Purn) Dr Benny Mamoto
Buku ini ditulis secara sangat baik, karena diangkat dari pengalaman dan kerja lapangan KomPol Vivick sendiri. Vivick yang dipercaya memimpin Satresnarkoba Polres Metro Jakarta Selatan membuka buku ini dengan sub-judul “Narkoba di Jakarta Selatan” (pp.16-43). Ada ikhtiar pencegahan tiada henti yang diucapkan. Ada berbagai gerakan pencegahan yang dilakukan.

Vivik mengaku bahwa kerja pencegahan dan pemberantasan narkoba adalah kerja semua elemen masyarakat, tidak hanya kerja polisi. Laporan-laporan masyarakat diakui sangat membantu kerja pencegahan dan pemberantasan distribusi narkoba.
Menyadari hal itu, dengan bantuan sistem yang dipelajari pada zaman kepemimpinan Gubernur Ahok (Basuki Tjahaja Poernama/BTP), Vivick dan teman-teman menginisiasi laporan publik melalui sistem Qlue. Tidak lupa pula, Vivick dan tim menggandeng para selebritas untuk berperang melawan narkoba di Jakarta Selatan yang memang sangat terkenal sebagai sarang narkoba kelas atas.
Dari konteks Jakarta Selatan tempatnya bekerja, Vivick mencoba membuat pemetaan yang lebih luas. Ada kisah dan laporan tentang penyelundupan narkoba dalam jumlah yang sangat gigantis (hingga satu ton). Wow!
Vivick menulis bahwa jalur laut adalah jalur yang paling sering dipakai oleh para penyelundup dari segala penjuru dunia untuk memasok narkoba ke Indonesia. Pengedaran narkoba juga menggunakan mekanisme pasar dengan janji untung yang berlipat ganda. Oleh karena itu, tidak perlu heran bahwa pasar narkoba telah merangsek hingga ke dusun dan pengedarnya telah beranak pinak.
Menyadari kenyataan itu, Vivick kembali mengaku bahwa “tidak cukup dengan penggerebak” (p.80). Harus ada cara-cara yang lebih canggih untuk memutuskan mata rantai narkoba.
Menurut Vivick (lihat bab III “Benteng itu Bernama Pencegahan”), pencegahan adalah cara paling baik untuk membentengi diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi dari bahaya narkoba. Dari awal, pengetahuan tentang narkoba harus disosialisasikan dengan cara yang benar dan mengena. Termasuk, mengangkat contoh-contoh pengalaman yang mengenaskan dari orang-orang yang perilakunya berubah lantaran narkoba.
Melihat kompleksnya masalah narkoba, Vivick mengundang Profesor Dr KH Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta) dan Romo Benny Susetyo (Ulama Katolik) untuk turun mengambil bagian dalam penulisan buku ini. Keduanya mempunyai kegelisahan yang sama tentang narkoba.
“Prof Nasaruddin meminta aparat baik polisi maupun BNN untuk menggandeng ormas Islam. Ada 64 ormas Islam. Masih banyak mubaliq yang belum paham betul daya rusak narkoba. Jika sudah memiliki pengetahuan, para mubaliq ini perlu menggaungkan kembali kepada umat melalui mimbar-mimbar Islam” (p.105)
“Menanamkan pemahaman spiritual takut akan Tuhan, termasuk terkair narkoba, harus dilakukan dengan cara kekinian agar bisa diterima anak muda” (p.109)
Selain agama, Vivick juga berpendapat, masyarakat Indonesia harus bersama-sama melawan narkoba. Membangun kepercayaan antara polisi dan masyarakat harus dilakukan secara transparan.
Ada berbagai elemen masyarakat yang bisa dan perlu diajak untuk melawan narkoba. Keluarga harus melawan narkoba. Sekolah mesti berkomitmen melawan narkoba. Kampus dengan segala dinamikanya harus juga melawan narkooba sebagai imperatifnya.
Begitu juga dengan tempat kerja, RT-RW dan tempat hiburan malam harus bersama-sama mengatakan tekad melawan narkoba. Deklarasi anti-narkoba harus bisa dikumandangkan di mana saja kita berada.
Lebih jauh, Vivick mengatakan bahwa persepsi yang keliru atas tindakan razia dan pemeriksaan urine harus dihentikan. Setiap razia dan pemeriksaan urine adalah cara polisi untuk membantu pemberantasan narkoba.
Pada prinsipnya, polisi selalu ingin menyelamatkan warga dari bahaya narkoba. Karena, perang kita melawan narkoba dan bukan terhadap korban yang terlibat di dalamnya. Jadi, tanggung jawab untuk membebaskan diri dan sesama dari narkoba haruslah menjadi janji dan komitmen bersama.
Buku ini ditutup dengan harapan yang serentak ajakan. “Ratusan ribu polisi bahkan meningkat jadi jutaan sekalipun, tidak akan mampu memberantas narkoba tanpa Anda semua. Perjalanan memerangi narkoba akan pincang tanpa keterlibatan masyarakat. Kondisi ini tentu tidak akan dapat membalap para pengedar, distributor, gembong dan produsen yang berlari kencang. Namun, jika kita bergerak bersama membentengi setiap jengkal di sekitar kita, saya yakin Indonesia semakin perkasa melawan kejahatan kemanusiaan ini dan bersih dari dampak yang ditimbulkannya”
**
Perang terhadap narkoba perlu menjadi tanggung jawab kita bersama. Tanggung jawab hanya bisa diemban bila kita memiliki serangkaian pengetahuan tentang masalah yang sedang dihadapi. Membaca buku ini memperkaya kita dari pengetahuan tentang bahaya laten narkoba. Kita juga mendapatkan bonus dengan pengalaman-pengalaman penulis yang dituangkan dalam buku ini sebagai cerita kemanusiaan yang menyentuh.
Selamat membaca!
*) Penulis adalah Alumnus STFK Ledalero, Dosen di I3L Jakarta.