INDONEWS.ID

  • Jum'at, 03/07/2020 14:01 WIB
  • Reshuffle Kabinet Presidensial

  • Oleh :
    • Rikard Djegadut
Reshuffle Kabinet Presidensial
Reshuffle Kabinet Presidensial oleh Christianto Wibisono penulis buku

Oleh: Christianto Wibisono penulis buku "Kencan Dinasti Menteng"


Opini, INDONEWS.ID - Bank Dunia pada Rabu 1 Juli 2020 menaikkan peringkat Indonesia dari negara berpendapatan menengah bawah atau lower middle income country menjadi negara berpendapatan menengah ke atas atau upper middle income country.

Baca juga : Pilkada Serentak: Golput atau Nekat?

Kenaikan peringkat ini diberikan setelah kajian terkini Bank Dunia yang menunjukkan peningkatan pendapatan kotor nasional (growth national income atau GNI) per kapita, dari USD3.840 atau Rp 54,7 juta pada tahun 2019 menjadi USD4.050 atau Rp57,7 juta pada tahun 2020.

4 kelas pendapatan yakni kelas pertama rendah (1.035 dolar), berpendapatan; kelas kedua, menengah bawah 1.036 – 4.045 dolar; kelas ketiga, menengah ke atas (4.046 – 12.535 dolar dan kelas keempat, tinggi (di atas 12.535 dolar).

Baca juga : Pemerintahan oleh Penjabat Sementara

Berita membesarkan hati itu juga dibarengi berita Reuters bahwa Presiden akan mengembalikan fungsi pengawasan bank dan perusahaan jasa keuangan kembali ke Bank Indonesia, dan membubarkan OJK yang baru berdiri 2013 dan bekerja 2015.

Kamis 3 Juli 2020, Bung Karno memimpin Zoominar membahas perkembangan cepat untuk memelihara momentum transformasi fundamental yang harus dilalui bangsa ini.

Baca juga : Pilkada Desember 2020 dan Pertaruhan Terbesar Presiden Jokowi

BK: Kita tidak perlu mengklaim putusan pembubaran OJK sebagai hasil lobby Indonesia President Club yang baru berdiri 18 Juni 2020 pas presiden super marah besar dan mau reshuffle kabinetnya. Sekarang kita harus berikan masukan yang membesarkan hati presiden agar firm dalam mereshuffle secara assertive.

Saya tidak dalam posisi memberi advis karena saya pernah punya kabinet 100 menteri yang usianya cuma 31 hari dari 24 Feb 1966 sampai 28 Maret 1966. Itupun 15 orang sudah ditahan oleh Jendral Soeharto tanggal 18 Maret.

Pada awal kabinet presidensial pertama, saya mengangkat 20 orang termasuk wapres Bung Hatta, maka kabinet itu terdiri atas 21 orang dengan NUM 001 saya 002 Hatta dan selanjutnya sampai 021. Kabinet itu akan diganti oleh kabinet parlementer, dipimpin PM Sutarn Syahrir yang awalnya ramping hanya 17 menteri.

Tapi perlu reshuffle merangkul parpol maka kabinet bengkak jadi 25 lalu 32 orang. Kabinet Syahrir III jatuh diganti Amir Syarifudin dengan 34 lalu 37 orang. Kabinet ini bubar dan PM Amir Syarifudin akan tewas karena ikut pemberontakan PKI Musso.

Hatta merampingkan kabinet jadi 17, 19,17 orang. Kabinet Natsir 18 orang, Sukiman Suwiryo 20, Wilopo 18, Ali Sastroamijoyo I 20, Burhanudin Harahap 23, penyelenggara pemilu 1955.

Ali Sastroamijoyo II koalisi hasil pemilu PNI Masyumi NU 25 hanya berumur setahun, Lalu saya jadi formatur kabinet Karya Juanda 24 orang. Total menteri yang diangkat periode itu 180 orang. Setelah itu jangan meniru saya yang membengkakkan kabinet sampai 100 menteri.

Selama 12 tahun parlementer ada 180 menteri. Sejak saya jadi formatur Kabinet Juanda 9 April 1957 sampai saya dilengserkan oleh Supersemar saya mengangkat 150 orang. Saya mencapai rekor MURI dan rekor sejagad tidak akan pernah ada presiden/PM bikin kabinet 100 menteri.

Jadi tanya Jendral Harto bagaimana menciutkan kabinet saya dari 100 balik normal.

Soeharto: Saya mohon maaf telah menahan 15 menteri kabinet Dwikora II pada 18 Maret 1966. Yang bisa diadili Mahmilub hanya waperdam Subandrio dan Jusuf Muda Dalam serta Oei Tjoe Tat. Yang lain tertahan tanpa diadili karena ya memang kesalahan politis, bukan kriminal.

Selama saya berkuasa 32 tahun saya mengangkat 134 menteri. Kabinet Dwikora III setelah diciutkan dari 100 mentri separuhnya turun pangkat jadi Deputy Menteri, lalu saya ganti Kabinet Ampera I 25 Juli 1966 hanya 31 orang.

Lalu setelah saya jadi Pejabat Presiden maka Kepala Staf Angkatan yang sejak Kabinet Juanda ikut sidang kabinet saya keluarkan, cukup Menhankam saja. Kabinet Ampera II hanya 24 orang setelah itu Kabinet Pembangunan I-7. Rinciannya 24,24,32,42,44,43 dan 38.

Saya kembali memakai nomenklatur Menteri Muda yang saya bongkar pasang sesuai selera dan kinerja yang saya nilai obyektif. Saya juga tidak ragu merger kementerian perdagangan dan perindustrian ketika Billy Judono jadi Mendag saya lebur jadi satu di bawah Menperindag Tunky Ariwibowo. Selanjutnya prof Habibie melanjutkan kabinet ramping.

Habibie: Saya kan presiden terpendek masa jabatannya 1 tahun 5 bulan dari wapres 2 bulan 7 hari. Tapi saya termasuk Menristek terlama 4 kabinet atau 20 tahun ini rekor tidak akan pernah terpecahkan lagi.

Saya pas masuk 11 tokoh yang menduduki jabatan menteri setara @ lebih 21 tahun. Kalau ditelusuri buku Kencan Dinasti Menteng yg masih tunggu Covid unttuk naik cetak,ada 11 orang yang masuk rekor kesebelasan Menteri/Pejabat terlama.

Saya hanya mengangkat 17 menteri baru melanjutkan 20 menteri penerus era pak Harto. Saya silakan yang berminat, baca bukunya nanti kalau sudah terbit tunggu Covid selesai.

Gus Dur: Saya terpaksa buka kartu rekor. Saya dan Bung Karno adalah dua orang Indonesia yang langsung jadi Presiden, tanpa melalui karir jabatan menteri, jadi langsung dari orang biasa tidak pernah duduk di kabinet melejit jadi Presiden.

Saya juga orang ketiga yang dijatuhkan oleh MPRS dan MPR hasil pemilu, setelah Bung Karno dan Pak Harto. Kalau Mbak Mega kan dikalahkan oleh SBY dalam pertarungan pemilu dimana petahana kalah oleh penantang bekas bawahan.

Mega juga menyamai rekor bertiga dengan Bung Karno dan saya tidak melewati jalur Menteri, dia langsung jadi wapres lau presiden. Total menteri yang saya bongkar pasang 53 orang, dilanjutkan mbak Mega hanya 17 menteri baru dan 16 menteri stock lama.

Presiden SBY terkena sindrom big brother, meski sudah dibatasi oleh UU Kementerian masikmal jumlah menteri 34, tetap menerabas dengan membuat portofolio Wakil Menteri. Maka seluruh menteri dan wakil menteri zaman SBY selama 10 tahun ada 107 orang.

Nah Jokowi melanjutkan nomenklatur itu dan 87 orang diangkat jadi menteri atau wamen sehingga total jumlah elite menteri kita ada 745 orang, Nah yang menarik dari studi PDBI tentng apa dan siapa para menteri Indonesia.

PDBI menemukan 77 orang yang memiliki kaitan kekerabatan.Diluar dugaan keluarga saya mencapai rekor 5 anggota kabinet. Alm bapak saya, KH Wahid Hasyim, saya sendiri, dan 3 ponakan Syaifulah Jusuf, Cak Imin dan Abdul halim Iskandar.

Hanya 3 keluarga lagi yang punya 5 menteri kabinet, yaitu: 2. keluarga Bung Karno, mbak Mega, Puan Maharani dan Anwar Tjokrominoto dan Haarsono Tjoroaminoto, 3, keluarga PakHarto besanan sama Sumitro putri Tutut, menantu Surdrajar dan menantu/anak Prabowo. 4. kakak beradik Mochtar, Sarwono, Armida yang sepupu dgn DR Sudarsono dan putranya Juwono Sudarsono.

BK: PDBI sudah memantau kabinet sejak 1985 ketika Ginanjar jadi Meneg PPN/Ketua Bappenas Kabinet Pembangunan VI. Studi itu diperbaharuhi terus dengan mutasi kontemporer. Presiden selalu tergoda untuk mengangkat menteri maksimal 34 portofolio sesuai batasan UU Kementerian.

Tapi semua punya penyakit megalomania atau karena takut diserang oleh oposisi, maka semua partai dirangkul dikasih jabatan dan nomenklatur yang dipaksakan seperti wakil menteri.

Padahal saya sudah bosan membaca analisis bung Chris dan PDBI bahwa kabinet harus ramping. Davide Castelvecchi menyimpulkan dari studi kabinet empiris global bahwa tingkat efisiensi kabinet berbanding terbalik dengan jumlah menteri dan mencerminkan derajat primitif tidaknya suatu negara bangsa.

Dalam artikel di majalah Science News 9 Mei 2008 berjudul: “The Undeciders; Castelvecchi menyimpulkan: More decision makers bring less efficiency. Researchers have found an inverse correlation between a country’s level of development and cabinet size: on average, the more developed a country is, the smaller is its cabinet."

Tapi ya sekarang ini “Dewi Fortune dan Hok Gie (keberuntungan) menyertai Indonesia dan Jokowi, di tengah frustrasi presiden ke-7 Bank Dunia menemukan data informasi kinerja peningkatan pendapatan nasional yang menaikkan status Indonesia ke kelas menengah atas.

Hari Rabu presiden Trump, presiden Pena Nieto dan PM Trudeau baru saja menandatangani USMCA perjanjian blok perdagangan AS Mexico Canada menggantikan NAFTA. Maka resep kita, bila presiden menerapkan studi Castellvecchi, stop pembengkakan kabinet gembrot inefisien.

Insya Allah Indonesia akan memimpin ASEAN sebagai kekuatan penyeimbang geopolitik yang tangguh dalam percaturan segi-4 AS, RRT, India, ASEAN. Segera reshuffle sebelum 75 th RI 17 Agustus 2020.*

Artikel Terkait
Pilkada Serentak: Golput atau Nekat?
Pemerintahan oleh Penjabat Sementara
Pilkada Desember 2020 dan Pertaruhan Terbesar Presiden Jokowi
Artikel Terkini
Indonesia Poros Tatanan Dunia Baru Penuh Perdamaian
Pilkada Serentak: Golput atau Nekat?
Terus Bertambah, Pasien Positif Covid-19 di Tower 6 dan 7 RS darurat Wisma Atlet Tembus 2.611 Pasien
Webinar PT JIEP, Peluang Investasi di Masa Pandemi
Dua Kapolsek Dicopot Karena Melanggar Maklumat Kapolri
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
faramir