INDONEWS.ID

  • Selasa, 07/07/2020 21:30 WIB
  • Dinkes Kaltara: Rapid Test Bukan Diagnostik, Hanya untuk Screening Awal

  • Oleh :
    • very
Dinkes Kaltara: Rapid Test Bukan Diagnostik, Hanya untuk Screening Awal
Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, dr. Andarias Baso, M.Kes. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara menilai bahwa Rapid Test perlu tetap dilanjutkan sebagai upaya screening awal. Selain itu, polymerase chain reaction (PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM) harganya lumayan tinggi untuk masyarakat.

Demikian dikatakan Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Utara, dr. Andarias Baso, M.Kes ketika diwawancara melalui sambungan telepon, pada Selasa (7/7).

Baca juga : HUT Minahasa Tenggara ke 17, Pj Bupati Maybrat Saksikan Festival Benlak 2024 dan Makan Malam Bersama di Ranumboloy Water Park

"Jadi Rapid Test itu bukan untuk diagnostik tapi screening untuk mendeteksi awal, apakah pernah terpapar atau tidak, tapi bukan terinfeksi,” ujarnya kepada Kristianto Triwibowo.

Dia juga menegaskan bahwa rapid test hanya merupakan tes awal untuk melihat kondisi antibody seseorang.

Baca juga : PJ Bupati Maybrat Hadiri Pentas Seni Festival Benlak 2024 HUT Minahasa Tenggara ke 17

"Ya begitu kalau rapid test, bisa saja hasilnya positif namun kondisi virus dalam tubuh kita sudah diproteksi oleh anti body kita, jadi saya sependapat dengan pakar itu dan memang rapid test hanya untuk deteksi awal untuk melihat kondisi anti body kita," ujarnya.

Pihaknya mengatakan bahwa PCR juga masih berpeluang tidak akurat apabila ada kesalahan penanganan.

Baca juga : Saksikan Pekan Gawai Dayak Kalbar, Ratusan Warga Malaysia Serbu PLBN Aruk

"PCR juga belum tentu 100% akurat, bisa saja salah pengambilan, salah penyimpanan atau salah pengiriman, tapi kalau hasilnya positif artinya memang ada virus yang menginfeksi," ujarnya.

Alumnus Universitas Hasanudin ini juga menegaskan bahwa tidak ada jalan lain untuk deteksi awal kecuali rapid test karena itu yang paling murah. Namun untuk diagnostik bisa dilakukan dengan PCR dan TCM karena lebih akurat.

"PCR dan TCM itu lumayan mahal, kisaran harganya 2 jutaan bayangkan aja misalkan dalam sehari ada 100 warga yang menggunakan, kemudian belum semua daerah ada itu, kalau kita di Kaltara sudah ada namun itulah biayanya besar," ujarnya.

"Pemerintah Provinsi telah mensuplai lebih dari 10 ribu perangkat tersebut ke Kabupaten/Kota di Kaltara, tercatat yang kita gratiskan untuk warga sebanyak 4.280," tuturnya.

Namun, katanya, kedisiplinan menggunakan protokol merupakan faktor penting dalam menekan penyebaran Covid-19. "Maka itu Pemerintah Kabupaten/Kota harus benar-benar memastikan perilaku itu diterapkan di daerahnya dan masyarakat harus sadar dan mendukung," pungkasnya. **

Artikel Terkait
HUT Minahasa Tenggara ke 17, Pj Bupati Maybrat Saksikan Festival Benlak 2024 dan Makan Malam Bersama di Ranumboloy Water Park
PJ Bupati Maybrat Hadiri Pentas Seni Festival Benlak 2024 HUT Minahasa Tenggara ke 17
Saksikan Pekan Gawai Dayak Kalbar, Ratusan Warga Malaysia Serbu PLBN Aruk
Artikel Terkini
"Sekolah Damai" di SMA 3 Semarang, BNPT: Upaya Ciptakan Lingkukngan Pendidikan Aman, Damai, dan Penuh Nilai Toleransi
Perkembangan Terbaru dan "Historic Milestoe" Aturan Kesehatan Internasional
Semangat Kebangkitan Nasional: Perjalanan Inspiratif Mila dari Serang, Banten
HUT Minahasa Tenggara ke 17, Pj Bupati Maybrat Saksikan Festival Benlak 2024 dan Makan Malam Bersama di Ranumboloy Water Park
PJ Bupati Maybrat Hadiri Pentas Seni Festival Benlak 2024 HUT Minahasa Tenggara ke 17
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas