INDONEWS.ID

  • Selasa, 20/06/2023 16:48 WIB
  • Warga Jakarta Timur Wakili Indonesia Dalam Asia Pacific Dialogue Platform

  • Oleh :
    • very
Warga Jakarta Timur Wakili Indonesia Dalam Asia Pacific Dialogue Platform
Program Antisipation The 7th Asia Pacific Dialogue Platform yang diselenggarakan di Kathmandu, Nepal, pada 13-15 Juni 2023. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Indonesia baru saja mengikuti Program Antisipation The 7th Asia Pacific Dialogue Platform yang diselenggarakan di Kathmandu, Nepal, pada 13-15 Juni 2023.

Baca juga : Panglima TNI Hadiri Acara Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Dalam program ini, Indonesia diwakili oleh perwakilan masyarakat dampingan dari Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang berperan sebagai narasumber dalam salah satu talkshow. Narasumber itu bernama Ratna Sari.

Ratna Sari merupakan perempuan penyandang tuna daksa yang berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam pengimplementasian aksi antisipasi tersebut. Dia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan manfaat, tantangan, sekaligus rekomendasi ke depan.

Baca juga : Ancaman Propaganda Pro-Khilafah: Dari Kajian Tertutup Hingga Pop-Culture

Ratna mengatakan, dirinya merasa senang selalu dilibatkan dalam setiap implementasi dan pengambilan keputusan aksi antisipasi di kelurahan.

“Kegiatan aksi antisipasi selalu melibatkan semua lapisan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat berisiko tinggi sehingga kami dapat mengetahui secara langsung aksi dini yang ditetapkan, jalur evakuasi yang disepakati, alur informasi peringatan dini yang diberikan, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Baca juga : Menko Airlangga Ungkap Pentingnya GSW Bagi Perlindungan Perekonomian dan Kelangsungan Hidup Penduduk Pantai Utara Jawa

Menurut Ratna, tantangan yang dihadapi terkait aksi antisipasi adalah ketika melakukan evakuasi. Kondisi wilayah di Kampung Melayu cukup padat, sehingga jalur evakuasi dan titik kumpul sempit dan membuat warga kesulitan melakukan evakuasi.

Dirinya berharap ke depan akan semakin banyak sosialisasi yang dilakukan kepada kelompok berisiko tinggi untuk proses implementasi aksi antisipasi tersebut.

“Sehingga kami dapat lebih memahami mengenai aksi antisipasi dan menjadi lebih percaya diri untuk terlibat dalam setiap kegiatan. Selain itu, semoga ke depannya partisipasi dapat lebih inklusif dengan melibatkan juru bahasa isyarat atau akses penunjang lainnya,” ujarnya.

Team Leader Anticipatory Action, Wahana Visi Indonesia, Maria Natalia Pratiwi, mengatakan, gagasan utama talkshow tersebut adalah “Manfaat partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan dalam mempersiapkan Aksi Antisipasi yang tanggap terhadap kesetaraan gender dan sosial inklusi (Gender Equality Social Inclusion)”, dengan tema "Memberdayakan Masa Depan: Membuka Kunci Gender dan Inklusi dalam Aksi Antisipasi".

Program ANTICIPATION dari Wahana Visi Indonesia (WVI) merupakan program yang didanai ADH Jerman dan dilaksanakan selama 15 (lima belas) bulan, mulai September 2022 hingga November 2023. Tujuan program ini adalah menetapkan protokol tindakan antisipasi untuk area program terpilih yang terpapar bencana, guna meningkatkan kesiapan dan kapasitas tindakan prabencana di level masyarakat dan mengurangi risiko alam atau buatan manusia yang berdampak tinggi. Hal ini dilakukan dengan mendorong adanya tindakan antisipasi yang terkoordinasi di tengah-tengah masyarakat.

Selain di Indonesia, katanya, Program ANTICIPATION juga diimplementasikan di Bangladesh, Mongolia, Filipina, Myanmar, dan Sri Lanka melalui kemitraan dengan World Vision International.

“Kami selalu berusaha melibatkan semua pihak dalam setiap proses implementasi aksi antisipasi dan kami harap hasil dari proses yang sudah dilakukan dapat diterima dengan baik dan bermanfaat bagi semua pihak”, ujar Maria.

Indonesia sebagai negara kepulauan secara geografis terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. Kondisi tersebut sangat rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.

“Karena itu, membangun kesadaran masyarakat melalui aksi-aksi antisipasi yang terkoordinasi sangat penting dibangun oleh semua pihak,” imbuhnya.

Asia Pacific Dialogue Platform diadakan oleh Anticipation Hub bersama dengan Palang Merah Jerman, Palang Merah Amerika, Palang Merah Finlandia, Palang Merah Denmark, Federasi Internasional Palang Merah dan Masyarakat Bulan Sabit Merah (IFRC), IFRC Climate Centre, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-FAO), Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UNOCHA), Program Pangan Dunia (WFP) dan Start Network. ***

Artikel Terkait
Panglima TNI Hadiri Acara Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW
Ancaman Propaganda Pro-Khilafah: Dari Kajian Tertutup Hingga Pop-Culture
Menko Airlangga Ungkap Pentingnya GSW Bagi Perlindungan Perekonomian dan Kelangsungan Hidup Penduduk Pantai Utara Jawa
Artikel Terkini
Situasi keamanan memanas di Port au Prince Haiti, KBRI Havana imbau WNI untuk waspada
Atikoh soal Pendidikan Anak: Menolak Supir Membuka Pintu Mobil untuk Alam Ganjar
Memperkuat Rantai Pasok di Kawasan: Indonesia-Australia Kolaborasi Hilirisasi Industri, Digitalisasi, dan Pendidikan
Februari 2024, Ekspor ke Timor Leste Melalui PLBN Motaain Capai Rp55 Miliar
Perlu Strategi Mengintegrasikan Prinsip Pertahanan dan Diplomasi di Laut Natuna Utara
Tentang Kami | Kontak | Pedoman Siber | Redaksi | Iklan
legolas