"Why Do You Love Me" Catatan Soal Film dokumenter KOESROYO The Last Man Standing
"Why Do You Lome Me" Catatan Soal Film dokumenter KOESROYO The Last Man Standing oleh Markus R.A. Kepra Prasetyo
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh Markus R.A. Kepra Prasetyo
Jakarta, INDONEWS.ID - "Dia punya segalanya. Ada hotel, Pom bensin. Sementara saya ini cuma tukang genjreng". Dan lahirlah "Why Do You Love Me", sebuah lagu untuk Sonya, yang kemudian menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya: Sari dan Angga.
Sepanjang 60 menit film dokumenter KOESROYO: The Last Man Standing, Yok Koeswoyo bercerita tentang perjalanan hidupnya. Kadang ia tertawa, kadang ia terharu, kadang ia menangis, kadang juga menari, kadang ia hanya diam. Semua itu membuat saya `mrebes mili`.
Film dokumenter yang disajikan dalam narasi dialog antara Sari Koeswoyo dan Yok Koeswoyo, juga catatan David Tarigan, seorang pegiat dan pemerhati perjalanan musik Indonesia, membuat dokumentasi ini menjadi sebuah kisah romantis antara seorang ayah dan anaknya, antara seorang suami dan istrinya, antara seorang adik dan kakak-kakaknya, antara seorang musisi dan fansnya, antara seorang pejuang dan negerinya, serta pada akhirnya antara seorang anak manusia dan Sang Maha Penciptanya.
Narasi Sari Koeswoyo di awal dokumentasi ini menjadi simpul empati yang mengikat emosi saya selama 60 menit. Bahkan sampai saat ini. Belasan jam setelah saya nonton film dokumenter ini.
"Saya bukan fansnya Yok Koeswoyo. Saya anaknya Yok Koeswoyo".
Sebuah ungkapan cinta, kekaguman, penghormatan dan terima kasih seorang anak perempuan ke pada ayahnya yang `kebetulan` terlahir sebagai seorang musisi pejuang dan legenda musik Indonesia.
Yok Koeswoyo menjadi satu-satunya Koes Bersaudara dan Koes Plus yang masih ada. Seperti apa yang dikatakan oleh David Tarigan, bahwa semua ini tentu ada maknanya.
Masih ada banyak catatan yang harus disampaikan sendiri oleh pelaku peristiwanya. Dan kita semua bersyukur karena Yang Maha Pencipta memberi kesempatan itu pada Koesroyo Koeswoyo.
Tugas kita semua di sini sekarang adalah menggaungkan dokumentasi besutan sutradara Linda Ochy ini agar semakin banyak orang Indonesia yang perjalanan hidupnya diiringi oleh nada dan irama Kolam Susu semakin tanggap bahwa mungkin hidup terasa sepi tanpa Pagi Yang Indah Sekali, tanpa Kisah Sedih Di Hari Minggu, tanpa Bujangan, tanpa Dara Manisku, tanpa Kembali Ke Jakarta, tanpa Andaikan Kau Datang, tanpa Nusantara 1 sampai 9, tanpa Koes Bersaudara dan Koes Plus.
KOESROYO, The Last Man Standing, film dokumenter dari seorang pencabik bass, yang bass-nya sudah ia lelang untuk membeli traktor tangan yang ia berikan pada sekelompok petani di sebuah desa.
Catatan usai nonton.
Kepra.
12 Mei 2025.
08.36 WIB.