indonews

indonews.id

Klaim Lebih Kuat dari Kekaisaran Romawi, NATO: Rusia Itu Omong Kosong

Sekretaris Jenderal NATO yang baru, Mark Rutte, memicu kontroversi global usai menyebut NATO sebagai aliansi pertahanan paling kuat dalam sejarah dunia, bahkan melebihi Kekaisaran Romawi dan kekuatan Napoleon Bonaparte.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
zoom-in Klaim Lebih Kuat dari Kekaisaran Romawi, NATO: Rusia Itu Omong Kosong
Sekretaris Jenderal NATO yang baru, Mark Rutte (kiri) dan Sekretaris Jenderal NATO yang akan berakhir masa jabatannya, Jens Stoltenberg (kanan), berjalan di hari upacara serah terima jabatan di markas besar NATO di Brussels pada 1 Oktober 2024. Kepala NATO yang baru, Mark Rutte, pada tanggal 1 Oktober 2024 meremehkan kekhawatiran atas dampak dari potensi kemenangan Donald Trump dalam pemilihan umum AS yang akan datang dan berjanji untuk terus mendukung Ukraina, ketika ia mengambil alih kepemimpinan aliansi militer paling kuat di dunia. © AFP/JOHN THYS

Jakarta, INDONEWS.ID - Sekretaris Jenderal NATO yang baru, Mark Rutte, memicu kontroversi global usai menyebut NATO sebagai aliansi pertahanan paling kuat dalam sejarah dunia, bahkan melebihi Kekaisaran Romawi dan kekuatan Napoleon Bonaparte.

Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers jelang pertemuan Menteri Pertahanan NATO di Brussels, Rabu (4/6/2025). Rutte menekankan pentingnya peningkatan anggaran pertahanan negara-negara anggota guna menghadapi potensi ancaman dari Rusia.

“NATO lebih kuat dari Kekaisaran Romawi dan Napoleon,” kata Rutte, dikutip dari kantor berita RT, Jumat (6/6/2025). “Kita membutuhkan lebih banyak sumber daya, pasukan, dan kemampuan agar siap menghadapi ancaman apa pun.”

Ia juga menyatakan akan mengusulkan rencana baru investasi pertahanan pada KTT NATO mendatang di Den Haag, sekaligus mendesak aliansi agar segera melampaui target 2 persen PDB dalam pengeluaran pertahanan.

Pemerintah Rusia merespons pernyataan Rutte dengan keras. Moskow menuding NATO memelihara ketegangan demi mendorong belanja militer di negara-negara Barat. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahkan memperingatkan bahwa upaya persenjataan ulang ala NATO dapat memicu konflik besar di kawasan Eropa.

“Barat sedang mencoba membuat kekalahan strategis terhadap Rusia, seperti Napoleon dan Hitler. Ini retorika militeristik yang harus dihentikan,” ujar Lavrov.

Pernyataan Rutte juga memicu gelombang kritik dari analis internasional dan media sosial. Pengamat politik dan media Michael William Lebron, alias Lionel, menilai klaim Rutte sebagai “arogansi kekaisaran”.

“Ini bukan diplomasi. Ini terdengar seperti Berlin tahun 1939. Berbahaya,” tulis Lionel.

Sejarawan John Laughland turut mempertanyakan logika historis perbandingan tersebut. Ia menyindir:

“Romawi dan Napoleon adalah negara, bukan aliansi. Apakah NATO kini sebuah kekaisaran?”

Sementara itu, jurnalis Irlandia Chay Bowes menyamakan ucapan Rutte dengan retorika Hitler di masa menjelang Perang Dunia II. Jurnalis Inggris Afshin Rattansi pun menuduh Rutte sebagai “boneka Washington” dan menyebut NATO bukan aliansi pertahanan, melainkan ancaman global.

“NATO telah menghancurkan negara-negara seperti Yugoslavia, Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah. Rutte justru memperkuat persepsi itu,” ujarnya.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas