Jakarta, INDONEWS.ID - Negara-negara Eropa anggota NATO kian menunjukkan keseriusan mereka merespons ancaman Rusia seiring perang di Ukraina yang kini memasuki tahun keempat sejak invasi pada 2022. Selain menaikkan anggaran militer, negara-negara NATO juga mulai saling menutup kekosongan kemampuan pertahanan antar sekutu.
Terbaru, Belanda mengerahkan 300 tentara dan dua sistem pertahanan udara Patriot ke Polandia. Pengerahan ini bertujuan membantu mengamankan pusat logistik NATO yang menjadi jalur utama penyaluran bantuan militer ke Ukraina.
Menteri Pertahanan Belanda Ruben Brekelmans menyatakan, unit-unit militer mereka telah mulai tiba di Polandia dalam beberapa hari terakhir dan diperkirakan mencapai kesiapan operasional penuh pada 1 Desember 2025.
“Misi mereka berjalan hingga 1 Juni 2026,” ujar Brekelmans, seperti dikutip dari AN, Minggu (23/11/2025).
Kantor berita Polandia, PAP, melaporkan bahwa unit quartermaster atau unit logistik tempur Belanda telah mempersiapkan area operasi untuk pangkalan sementara. Operator sistem pertahanan udara Patriot Belanda dijadwalkan menyusul dan akan mengambil alih tugas pemantauan wilayah udara Polandia di sekitar fasilitas logistik penting tersebut.
Patroli dan pengamanan udara menjadi fokus utama menyusul maraknya dugaan serangan pesawat tak berawak (drone) Rusia di sejumlah negara Eropa. Belanda mengirimkan konfigurasi terbaru sistem Patriot, yang telah dipasangi radar dan perangkat lunak yang di-upgrade. Pencegat PAC-3 dalam sistem itu mampu menghadapi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, dengan biaya sekitar 4 juta euro per satu pencegat.
Selain Patriot, sebuah peluncur NASAMS yang dirancang untuk menargetkan ancaman terbang rendah juga dikerahkan, disertai unit terpisah yang bertugas mengamankan pangkalan dari serangan drone. Kolonel Olav Spanjer, komandan unit Belanda yang mengoperasikan sistem Patriot, mengatakan kepada penyiar Omroep Brabant bahwa ketegangan di kawasan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Ia mencontohkan, serangan Rusia baru-baru ini di Ukraina barat memicu peringatan di Polandia, memaksa jet tempur Polandia lepas landas darurat dan menyebabkan penutupan sementara sebuah bandara.
Pejabat Belanda menegaskan, misi ini merupakan kontribusi operasional terhadap pertahanan sisi timur NATO sekaligus simbol komitmen Belanda pada keamanan kolektif aliansi.
Sinyal bahwa Eropa benar-benar tersentak oleh ancaman Rusia juga tampak dalam pernyataan Ketua Komite Militer Uni Eropa, Jenderal Sean Clancy. Ia memperingatkan bahwa Eropa harus segera memperkuat kemampuan pertahanannya.
Menurut Clancy, perang Rusia di Ukraina telah mendorong benua itu masuk dalam “zona abu-abu” antara perang dan perdamaian. Jenderal angkatan udara asal Irlandia yang menjabat posisi militer tertinggi Uni Eropa sejak Juni itu menyebut Eropa tak lagi memiliki “kemewahan” untuk menganggap stabilitas di sisi timurnya sebagai sesuatu yang terjamin.
“Dunia terbakar di banyak tempat, dan Ukraina mewakili garis depan untuk Eropa pada saat ini,” ujarnya kepada The Irish Times.
Ia menegaskan bahwa peningkatan belanja pertahanan di seluruh Eropa tidak boleh dipahami sebagai upaya memiliterisasi masyarakat atau membentuk tentara bersama Uni Eropa. Namun Clancy mengakui bahwa langkah-langkah yang diambil negara-negara NATO sejauh ini merupakan pengakuan yang terlambat terhadap skala ancaman yang dihadapi.
“Tidak ada negara anggota yang kebal terhadapnya. Saya berbicara tentang ancaman hibrida, tentang terorisme, dan begitu banyak bidang lain seperti dunia maya dan ruang angkasa,” katanya.
Clancy memperingatkan bahwa geografi tidak lagi menjadi penyangga alami terhadap perang hibrida “tanpa batas”, dengan mencatat peningkatan serangan drone di bandara-bandara Eropa. Situasi ini, menurutnya, menuntut bukan hanya angkatan bersenjata yang lebih kuat, tetapi juga upaya sosial yang lebih luas untuk membangun ketahanan.
“Kesiapan bukan tentang mempersiapkan perang. Ini tentang kesiapan dan ketahanan,” ujarnya.
Meski demikian, Clancy menolak anggapan bahwa Eropa “tertidur” selama empat tahun perang Ukraina. Ia mengingatkan bahwa desakan agar Eropa meningkatkan belanja pertahanan sudah muncul sejak era Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Mantan Presiden Donald Trump, menurutnya, justru “mengakselerasi momentum” dorongan tersebut.
“Hubungan transatlantik akan tetap penting, namun terus berkembang. AS telah sangat jelas dalam meminta kami untuk berbuat lebih banyak,” tambahnya.
Clancy juga menyebut lembaga-lembaga Uni Eropa kini memainkan peran kian sentral dalam mengoordinasikan pembangunan pertahanan Eropa, dengan isu keamanan berada “dekat puncak agenda politik” di Brussels.
“Ini terasa nyata: ada rasa tujuan, arah, dan momentum. Semua orang ingin bergerak lebih cepat,” katanya.*