indonews

indonews.id

Penyair Indonesia Nia S Amira Raih Medali Emas untuk Buku Sastra "From Indonesia With Love" dari Organisasi Penulis Dunia di Rusia

Nia, yang memiliki nama lengkap Kurnia Suprihatin ini disebut-sebut sebagai pemenang pertama setelah bukunya yang berjudul “From Indonesia With Love” menjadi simbol perdamaian dunia.

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Penyair Indonesia Nia S Amira Raih Medali Emas untuk Buku Sastra "From Indonesia With Love" dari Organisasi Penulis Dunia di Rusia
Nia S Amira, penyair dan wartawati asal Indonesia. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Nia S Amira, penyair dan jurnalis asal Indonesia diundang oleh Organisasi Penulis Dunia menghadiri “Assembly People” di Rusia pada 20-21 September 2025 mendatang.

Keberangkatannya ke Rusia untuk menerima medali emas atas karya sastranya tentang perdamaian dunia. Nia adalah orang Indonesia pertama yang meraih penghargaan tersebut.

Nia, yang memiliki nama lengkap Kurnia Suprihatin ini disebut-sebut sebagai pemenang pertama setelah bukunya yang berjudul “From Indonesia With Love” menjadi simbol perdamaian dunia.

“Buku ini mengangkat isu humanisme dan perdamaian. Pada bab I, ditulis mengenai 25 tahun peperangan di Bosnia Herzegovina dengan Serbia serta bab II mengenai 25 tahun konflik antara Azerbaijan dan Armenia,” ujar penyair kelahiran Jakarta 22 September itu kepada Indonews di Jakarta, Sabtu (13/9).

Sebelumnya, seperti dilansir dari Antara, Nia mengatakan bahwa sastra dapat menjadi jembatan untuk mendorong perdamaian dunia.

"Bagi saya, sastra itu adalah kehidupan. Kehidupan kita harus dibekali dengan sesuatu yang indah. Sastra untuk perdamaian dunia fokusnya adalah kehidupan yang indah untuk semua bangsa," ujarnya saat berkunjung di Kantor LKBN ANTARA Biro Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin.

Menurutnya, sastra tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan atau karya estetis, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan antarbangsa.

Karena itu, Nia menekankan pentingnya kepekaan dan keaslian dalam berkarya.

Ia mencontohkan salah satu karyanya yang diterima oleh Perdana Menteri Palestina pada 25 Oktober 2022, berupa puisi untuk anak-anak korban perang di Gaza.

"Bersastralah dengan indah untuk perdamaian. Harus lebih banyak sastrawan yang peka, jembatan ke perdamaian," ujarnya.

(Penyair yang juga wartawati dari Indonesia Nia S Amira saat berkunjung di Kantor LKBN ANTARA Biro Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (8/9/2025). FOTO ANTARA)

Ia mengatakan bahwa romantisme sastra bisa menumbuhkan kasih sayang yang memunculkan kepekaan sosial.

Dengan cara ini, sastra menjadi sarana untuk membangun sikap peduli terhadap sesama, khususnya mereka yang terdampak konflik.

Selain fokus pada perdamaian, Nia juga dikenal menulis karya bertema kemanusiaan global.

Buku puisinya "From Indonesia with Love" memuat nilai-nilai perdamaian mulai dari Balkan, Perang Bosnia, hingga Azerbaijan dan Armenia.

Putri pensiunan jurnalis LKBN ANTARA, Rachim Osman asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini, mengatakan karya-karya sastra yang memuat nilai-nilai perdamaian dapat memperkenalkan sastra Indonesia ke kancah internasional sekaligus memberikan perspektif baru tentang nilai-nilai kemanusiaan universal.

Prestasi internasional Nia tercatat saat ia pernah memenangkan Grand Prix for Excellence edisi XXIV di Italia dengan puisi “Marco Polo, dari Genoa ke Pasai”.

Karyanya telah diterbitkan di berbagai negara, termasuk Rusia, London, Sarajevo, New York, Azerbaijan, dan Kazakhstan.

Nia juga pernah menjadi konsultan produksi di Internews, Radio Jurnalis Amerika, dan menulis artikel, esai, cerpen, dan puisi sejak usia 13 tahun.

Pengalaman internasional itu telah memperluas wawasan dan memperkuat kemampuannya untuk menyuarakan perdamaian melalui sastra.

"Saya memang spesialisasi tema kemanusiaan global, bukan hanya di Indonesia," pungkasnya. *

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas