indonews

indonews.id

Tabrakan Maut di Bekasi, Polisi Periksa Masinis dan Petugas PT KAI

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mulai mendalami penyebab insiden tabrakan maut antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line (KRL) di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 16 orang. Dalam penyelidikan awal, polisi telah memeriksa tujuh saksi, termasuk masinis dan petugas operasional PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mulai mendalami penyebab insiden tabrakan maut antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line (KRL) di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 16 orang. Dalam penyelidikan awal, polisi telah memeriksa tujuh saksi, termasuk masinis dan petugas operasional PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Budi Hermanto, mengatakan pemeriksaan dilakukan di Pusat Pengendalian Operasi Kereta Api (Pusdalopska) 1 wilayah Manggarai pada Kamis, 30 April 2026. Tujuh saksi tersebut terdiri dari Kepala Pusat Pengendalian, Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), petugas sinyal, masinis KRL, masinis KA Argo Bromo Anggrek, serta pengendali perjalanan kereta.

“Pemeriksaan ini untuk mendalami dugaan adanya kelalaian manusia dalam peristiwa kecelakaan tersebut,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/5/2026).

Peristiwa tragis itu terjadi pada Senin, 27 April 2026 sekitar pukul 20.57 WIB di jalur Stasiun Bekasi Timur. Saat itu, KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang tertahan di lintasan setelah terjadi insiden awal yang melibatkan sebuah taksi online Green SM yang mengalami korsleting listrik di tengah perlintasan.

Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Polri, Komisaris Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan bahwa kendaraan tersebut memicu tabrakan awal di jalur rel. Akibatnya, perjalanan KRL terhenti di lokasi.

Nahas, dalam waktu bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi melaju dari arah belakang dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam dan tidak sempat menghindari KRL yang berhenti. Benturan keras tak terelakkan.

Badan kereta Argo Bromo Anggrek menghantam dan menembus bagian belakang KRL hingga membelah gerbong khusus wanita. Puluhan penumpang di gerbong tersebut menjadi korban akibat terjepit badan kereta, dengan 16 orang dinyatakan meninggal dunia.

Hingga kini, polisi belum menetapkan tersangka. Penyidik masih terus mengumpulkan keterangan tambahan, termasuk dari sopir taksi Green SM berinisial RRP. Diketahui, sopir tersebut baru dua hari bekerja dan hanya menerima pelatihan dasar terkait pengoperasian kendaraan listrik.

Polda Metro Jaya menegaskan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan dan menentukan pihak yang bertanggung jawab.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas