Membaca Kekacauan Dunia dengan Akal Sehat
Membaca Kekacauan Dunia dengan Akal Sehat
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol
Akhir-akhir ini banyak orang merasa dunia sedang kacau. Konflik bersenjata terus muncul di berbagai kawasan, ekonomi global terasa rapuh, dan di dalam negeri ruang publik dipenuhi perdebatan yang melelahkan. Informasi datang bertubi-tubi, sering kali saling bertentangan, membuat masyarakat bingung menentukan mana yang perlu dipercaya dan mana yang sebaiknya diabaikan.
Perasaan ini wajar. Kita hidup di era ketika arus informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mencerna dengan tenang. Apa yang terjadi di satu belahan dunia bisa hadir di layar ponsel kita dalam hitungan detik, lengkap dengan opini, emosi, dan penilaian yang sudah dibingkai terlebih dahulu.
Di tingkat global, kekacauan itu nyata. Perang di Ukraina menunjukkan bahwa konflik modern tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi.
Opini publik dunia diperebutkan melalui gambar, video, dan narasi yang disebarkan tanpa henti. Di Timur Tengah, konflik berkepanjangan memperlihatkan bagaimana sejarah, identitas, dan emosi kolektif dijadikan alat untuk mempertahankan atau menantang legitimasi. Sementara di kawasan Asia, ketegangan wilayah sering berlangsung lama tanpa tembakan terbuka, tetapi melalui pernyataan berulang dan simbol-simbol yang perlahan membentuk persepsi
.
Semua itu menunjukkan satu hal: dunia bukan hanya sedang berkonflik, tetapi juga sedang berlomba menguasai pikiran publik.
Kekacauan tidak selalu lahir dari besarnya masalah, melainkan dari cara masalah itu diceritakan dan diterima.
Di Indonesia, situasinya terasa dengan bentuk yang berbeda. Kita tidak berada dalam perang bersenjata, tetapi berada di tengah derasnya perang informasi. Isu politik, ekonomi, sosial, dan identitas datang silih berganti, sering kali dikemas secara provokatif. Potongan video pendek, judul sensasional, dan narasi sepihak menyebar cepat, mendorong reaksi emosional sebelum memberi ruang bagi pemikiran yang jernih.
Akibatnya, masyarakat mudah lelah, mudah curiga, dan cepat terbelah. Bukan karena kita kekurangan kecerdasan, tetapi karena kita terus-menerus dipaksa bereaksi. Dalam situasi seperti ini, yang paling sering hilang bukanlah informasi, melainkan ketenangan.
Di sinilah pentingnya akal sehat sebagai alat membaca kekacauan.
Akal sehat bukan berarti menutup mata terhadap masalah, bukan pula bersikap naif seolah semua baik-baik saja.
Akal sehat adalah kemampuan untuk menempatkan informasi secara proporsional: membedakan mana fakta, mana opini, dan mana kepentingan
.
Sikap sederhana seperti berhenti sejenak sebelum marah, memeriksa sumber sebelum percaya, dan membandingkan beberapa sudut pandang sebelum menyimpulkan adalah bentuk ketahanan paling nyata di era ini. Ini bukan soal siapa paling benar, melainkan bagaimana kita tidak mudah digiring oleh emosi yang sesaat.
Dalam konteks
kebangsaan, kejernihan berpikir warga adalah modal strategis. Bangsa yang mudah panik akan mudah diarahkan. Bangsa yang mudah terprovokasi akan mudah diadu.
Sebaliknya, bangsa yang mampu menjaga nalar kolektifnya akan lebih tahan menghadapi tekanan, baik dari dalam maupun dari luar.
Kita perlu menyadari bahwa tidak semua kegaduhan adalah krisis, dan tidak semua perbedaan pendapat adalah ancaman. Banyak persoalan bisa diselesaikan dengan dialog dan kerja nyata, bukan dengan teriakan di ruang digital. Namun semua itu mensyaratkan satu hal: kesediaan untuk berpikir jernih di tengah kebisingan.
Membaca kekacauan dunia dengan akal sehat berarti menolak ikut hanyut dalam arus emosi massal. Berarti berani bertanya: apakah informasi ini benar, utuh, dan berguna? Atau hanya membuat saya marah dan takut tanpa solusi?
Pada akhirnya, dunia mungkin memang sedang penuh tantangan. Indonesia pun menghadapi persoalannya sendiri.
Tetapi di tengah semua itu, ada satu hal yang tetap bisa kita jaga: cara kita berpikir dan bersikap. Di era yang riuh ini, akal sehat bukan hanya sikap pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab kebangsaan.
Karena sering kali, yang paling menentukan masa depan bukan seberapa besar masalahnya, melainkan seberapa jernih kita membacanya