indonews

indonews.id

Indonesia Akhiri Partisipasi Satgas MTF UNIFIL, Kontingen Garuda XXVIII-P Jadi yang Terakhir

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali memastikan Indonesia tidak akan lagi mengirimkan kontingen untuk Satuan Tugas Maritime Task Force (MTF) dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Dengan demikian, Satgas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P di bawah pimpinan Letnan Kolonel Laut (P) Anugerah Annurullah menjadi kontingen terakhir Indonesia dalam misi perdamaian tersebut.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali memastikan Indonesia tidak akan lagi mengirimkan kontingen untuk Satuan Tugas Maritime Task Force (MTF) dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Dengan demikian, Satgas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P di bawah pimpinan Letnan Kolonel Laut (P) Anugerah Annurullah menjadi kontingen terakhir Indonesia dalam misi perdamaian tersebut.

“Mungkin kita tidak akan mengirim lagi untuk misi Maritime Task Force (MTF) untuk UNIFIL,” ujar Laksamana Muhammad Ali di atas geladak KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/2/2026).

Ali menegaskan keputusan tersebut bukan berasal dari TNI Angkatan Laut, melainkan merupakan kebijakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak melanjutkan misi MTF UNIFIL di Lebanon.

“Ini yang terakhir. Memang dari PBB sendiri tidak melanjutkan untuk misi MTF ini,” katanya.

Pada hari yang sama, ratusan personel TNI AL yang tergabung dalam Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL tiba kembali di Tanah Air setelah menuntaskan misi perdamaian selama 14 bulan di Lebanon. Kepulangan mereka menggunakan KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367, kapal perang korvet kelas SIGMA, dan disambut langsung oleh KSAL.

Suasana penyambutan berlangsung khidmat di tengah hujan yang mengguyur kawasan dermaga. Alunan musik terompet, trombon, dan drum mengiringi kedatangan pasukan perdamaian, menandai berakhirnya penugasan mereka di wilayah konflik. Dari atas geladak kapal, Dansatgas MTF Kontingen Garuda XXVIII-P, Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah, turun dan melaporkan pelaksanaan tugas kepada KSAL. Sebagai simbol penyambutan, Laksamana Muhammad Ali mengalungkan bunga kepada Anugerah.

Dalam sambutannya, Ali menyampaikan rasa bangga atas kinerja prajurit TNI AL yang dinilai berhasil menjalankan mandat PBB dalam menjaga keamanan maritim Lebanon.

“Satgas MTF berhasil melaksanakan patroli maritim, kerja sama dengan angkatan laut negara lain seperti Jerman dan Bangladesh, serta menjalankan diplomasi TNI AL yang mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional,” ujar Ali.

Ia menjelaskan, misi utama Satgas MTF adalah menjaga perdamaian serta mencegah masuknya senjata maupun bahan terlarang ke wilayah Lebanon dan sekitarnya.

“Kemungkinan masuknya senjata dari negara lain atau bahan-bahan terlarang ke Lebanon dapat dicegah dan dijalankan dengan baik bersama angkatan laut negara sahabat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Muda Tunggul mengungkapkan, KRI Sultan Iskandar Muda membawa pulang 105 prajurit. Personel tersebut terdiri dari awak kapal dan unsur pendukung, termasuk pilot, flight engineer, air crew, perwira kesehatan, intelijen, psikologi, penerangan, Kopaska, serta penyelam.

“Sejak menjalankan misi pada 17 Januari 2025, KRI SIM-367 telah melaksanakan 33 kali on task, dengan sekitar 70 persen patroli di Laut Mediterania serta 150 kegiatan naval diplomacy melalui latihan bersama angkatan laut asing,” jelas Tunggul.

Keputusan penghentian misi pasukan perdamaian multinasional PBB di Lebanon diambil secara bulat dalam sidang Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, pada akhir Agustus 2025. Seluruh pasukan militer UNIFIL dijadwalkan ditarik dari wilayah perbatasan Lebanon paling lambat 31 Desember 2026.

Keputusan tersebut disebut sejalan dengan dorongan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump dan sekutunya, Israel, yang menilai keberadaan pasukan multinasional tidak efektif dalam menghilangkan pengaruh Hizbullah. Ke depan, kendali keamanan di perbatasan Lebanon–Israel akan sepenuhnya diserahkan kepada militer Lebanon.

Meski demikian, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan tetap menyambut hasil pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB dan mengapresiasi perpanjangan misi UNIFIL hingga 31 Desember 2026. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada negara-negara sahabat yang telah terlibat dalam misi UNIFIL selama hampir 50 tahun.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas