Waru, Dendam harus Dituntaskan
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Luka batin mampu merubah kita menjadi pribadi yang berbeda, apalagi orang-orang terdekat tak percaya dengan apa yang kita alami. Film Waru besutan sutradara Chiska Doppert mengangkat kisah dendam seseorang yang pernah dilecehkan hingga bersekutu dengan penunggu pohon waru.
Film produksi 4 production house menggelar gala premiere di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta, menghadirkan jajaran produser dan para pemain antara lain Bella Graceva, Zikri Daulay, Jinan Safa, Josiah Hogan, Sean Mikhail, dan Yati Surahman.
Waru film yang selesai penggarapannya 2 tahun lalu, mencoba peruntungan tahun ini dan berharap di tonton 10 juta orang. Namun sepertinya mimpi itu terlampau mengawang-awang, dimana film ini tak terlalu menarik dari sisi cerita, sekedar menakut-nakuti penonton lewat scene-scene benda yang bergerak sendiri atau bayangan sosok hitam tanpa wujud.
Pemainnya masih tergolong artis pendatang baru, aktingnya standar tak ada satupun yang layak diacungkan jempol belum menjiwai peran dalam film tersebut. Begitupun dengan pengambilan gambar tak ada yang istimewa, standar-standar saja meski demikian masih enak ditonton.
Waru judul film yang akan diputar di beberapa negara Asean, buat penonton berpikir apakah penggarap film ini tak paham jenis pepohonan, "Waru" namun di film tersebut beringin yang menjadi ikonnya. Mungkin film ini ingin menyingkap mitos tentang beringin di masyarakat kita tapi jadi kurang 'greget', karena pohonnya berbeda.
Film ini mengangkat kisah remaja yang menjadi 'budak' iblis akibat dilecehkan orang yang selama ini dianggap sebagai pelindungnya. Merasa tak suci lagi, ia pun punya keinginan membalas perlakuannya, dihabisilah pelindung tersebut dan ia pun harus mendekam dalam penjara selama 5 tahun.
Alurnya membingungkan, bermaksud main teka-teki dengan penonton tapi ceritanya malah lompat-lompat tak menentu. Film diawali dengan adegan ritual di pohon beringin dengan korban persembahan wanita paruh baya, korban terlilit akar dan kepalanya terpenggal. Nah hingga film berakhir tak diketahui siapa korban tersebut dan apa hubungannya dengan si pelaku.
Usai menjalani hukuman tokoh utama dalam Waru keluar dari penjara dan dijemput saudara tirinya (hubungan pernikahan antara ibu korban dan ayah penjemput), saat itu ia menanyakam kondisi ibu dan adik satu ibu lain ayah. Si penjemput tak mau menceritakan hal sebenarnya malah mengajak makan siang sebelum kembali ke rumah.
Di resto mereka makan siang tiba-tiba ada seorang ibu yang agak kurang waras menghampiri meja mereka dan berteriak ke sosok tak terlihat di sisi remaja perempuan eks napi untuk tidak mendekati karena akan menyebabkan bencana. Potongan puzel pertama namun tak kuat keterkaitannya dengan alur cerita.
Sampai di rumah, akhirnya dia tahu ibunya dipasung karena sering diganggu sosok tak kasat mata, bahkan ibunya kadang ingin membunuh orang yang ada didekatnya. Melihat ibunya dipasung, ia tak terima dan melepaskan alat pasungnya meski sudah diperingati 2 saudara tirinya dan adik lain ayah.
Rasa kangen ia curahkan dengan merawat ibunya, tapi hanya sehari lalu ibunya bunuh diri karena terus diganggu jin hitam tak berwujud. Dari kematian ibunya ia tahu ini semua karena pohon Waru dan ia menemukan tulisan di kayu pasung ibunya sebuah kalimat "jangan ganggu anakku", dan lewat mimpi, ibunya minta ia memusnahkan pohon waru dekat rumah kakeknya di luar kota.
Usai pemakaman ibunya, teror horor mulai mengganggu 4 penghuni di rumah itu, adiknya didatangi bayangan hitam saat berbaring di ranjang kala mengenang ibunya. Saudari tirinya tenggelam dalam bak saat mandi, sementara saudara tirinya diganggu dengan benda-benda bergerak di kamarnya. Gangguan itu diketahui isteri muda ayahnya, yang sempat ke dukun untuk mengetahui apa penyebab isteri pertama suaminya kondisinya menyedihkan, ternyata akibat santet dan diberi penangkal sekaligus melindungi 4 penghuni yang satu rumah.
Esoknya mereka pun berangkat ke rumah kakeknya guna menjalankan perintah ibunya perihal memusnahkan pohon waru. Dalam perjalanan dua saudari tiri yang tak pernah akur bertengkar, saling menghina orangtua masing-masing. Alur makin lompat-lompat, penyebab gangguan bayangan hitam tak pernah dieksplor, bahkan di rumah kakek mereka ditemukan kamar pemujaan oleh si saudara tiri, padahal tak ada seorangpun yang tinggal di sana tapi lilin menyala dan alunan asap dupa melayang-layang.
Kaget si saudara tiri ada ruang pemujaan, lalu tiba-tiba kotak kayu jatuh saat dibuka ada sejumlah potongan kertas bertulis huruf jawa kuno. Si eks napi ikut masuk, dan diminta si saudara tiri mengartikan tulisan tersebut, ia tahu saudari tirinya kuliah di sastra Jawa. Isinya merupakan perjanjian pemuja dengan 'penghuni' waru. Mereka pun makin bertekad memusnahkan pohon waru di hutan dekat rumah kakek mereka, kebetulan ayah dan isteri barunya juga datang ke sana bermaksud memberikan jimat penangkal santet. Tapi kedatangan mereka malah membuat malapetaka seluruh keluarga, kecuali isteri barunya warga Malaysia dan adik bungsunya.
Film ini membawa pesan jangan pernah abaikan keluhan dan cerita tragedi yang dialami orang terdekat meski kita mencintai pelakunya, bila tidak dendam bakal membawa petaka. Meski film ini alurnya tak jelas namun boleh menjadi tontonan apalagi yang penasaran dengan mitos keangkeran beringin (waru). Film ini bakal tayang serentak 12 Februari 2026 di jaringan cinema XXI.