Perfilman nasional masuk fase "tuan di negerinya sendiri" dari tahun ke tahun produksinya kian meningkat, drama, animasi, bahkan fiksi kehidupan di planet pun ada. Tapi ada kegelisahan dari penikmat film nasional, produksi film banyak namun kualitasnya jalan di tempat terutama film horor, cerita dan hantunya itu, itu saja tak ada keberanian keluar dari pakem film mistik.
Kegelisahan mereka seperti gayung bersambut, menurut kabar jumlah penonton di bioskop menurun khususnya film horor yang selama ini jadi andalan rumah produksi. Penonton mulai jenuh cerita hanya berputar di situ saja. Malah ada judul berbeda ceritanya sama, bahkan bisa 3 film dengan cerita mistik yang sama.
Andai hal itu tak segera diingatkan, kemungkinan film nasional akan kembali 'kering' seperti beberapa belas tahun lalu. Ada sekumpulan penikmat ffilm nasional yang tak ingin film nasional kenbali hilang, maka mereka berupaya mengingatkan pelaku perfilman untuk segera berbenah sebelum terlambat.
Menyadarkan pihak yang tengah 'tenggelam' dengan kesuksesan bukan perkara mudah, harus masif dan konsisten, bukan seperti petinju pada umumnya pukul lalu pergi (hit and run) namun bergaya Muhammad Ali Rope a dope, fokus kalahkan lawan bersandar di tali ring lalu memukul balik.
Berawal dari obrolan warung kopi, kegelisahan itu mengerucut membuat saluran guna menggugah pelaku perfilman berbenah dan sadar apa yang selama ini mereka garap masih di kubangan yang sama, mumpung film horor jadi primadona penuhi rasa dahaga masyarakat soal mistik lalu digarap begitu saja tanpa ada visi keluar dari kumbangan itu.
Sejak film horor pertama kali diproduksi tahun 1941 Tengkorak Hidoep hingga Danyang Wingit (masih tayang) mengangkat hal tabu (pamali) yang diyakini warga daerah tertentu atau masyarakat Indonesia, dan diibumbui penampakan hantu yang berbeda meski ya itu, itu juga wajah hancur atau anggota tubuh yang tak lengkap.
Ada pertanyaan yang menggelitik, apakah hantu itu universal atau tidak? Jika sama kenapa 'penampakan' di film berbeda antara hantu nasional, Jepang atau Holywood yang serupa hanya pakaian putih '"longdress", wujudnya berbeda, setan kitahancur-hancuran soaosknya. Fiilm Holywood sepertinya anti hantu rusak, ingat film Ghost, Candyman atau Draculla, hantunya tampan-tampan, sedap dilihat. Film nasional jangankan hantu pria setan perempuan pun rupanya rusak.
Nah, sekumpulan penikmat film ini mencoba menggugah pelaku perfilman terutama genre horor keluar dari zona nyaman untuk memulai membangun kebiasaan membuat film mistik yang tak lagi sekedar nakut-nakutin penonton dengan setan berdarah-darah atau tak lengkap anggota tubuhnya. Buatlah hantu setampan dan secantik Tom Cruise dan Kristen Dunst di film Interview with the Vampire, horor tapi tak menyeramkan.
Gagasan seperti itu yang ingin disuarakan sekumpulan penikmat film lokal, mereka merasa bertamggung jawab dengan perfilman nasional khusus di genre horor yang masih jadi motor penyedot penonton ke bioskop. Diharapkan ide mereka juga mempengaruhi genre lainnya, dan berujung perfilman nasional makin berkelas dan diperhitungkan di kancah internasional.
Gebrakan awal sekumpulan penikmat film nasional akan menggelar sebuah festival, dari sanalah mereka membuka pintu dialog antara pelaku perfilman dan pecinta film Indonesia. Diharapkan ketika dua pihak bertemu ada sesuatu yang baru untuk perkembangan film horor yang lebih baik. Mari kita nantikan sentuhan para penggila film nasional, mampukah mereka sebagai petarung bukan sekedar didengar namanya tapi seperti Muhammad Ali menjadi petinju sejati.