FFH Bedah Kesuksesan Horor Korea di Indonesia: Antara Logika Cerita, Kualitas Visual, dan Dukungan Ekosistem
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Industri perfilman Indonesia saat ini tengah berada dalam fase transformasi besar yang didorong oleh perubahan perilaku penonton. Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap film horor asal Korea Selatan menjadi sorotan utama dalam diskusi panel bertajuk "Pengaruh Film Horor Korea di Indonesia".
Diskusi edisi ketiga ini menghadirkan praktisi kawakan, di antaranya sutradara Toto Hoedi, produser dari Heart Pictures Herty Purba, serta Nanang Istiabudi. Acara yang dipandu oleh moderator Irvan ini mengupas tuntas mengapa karya sinema dari Negeri Gingseng mampu melakukan penetrasi pasar yang begitu kuat di tanah air.
Peningkatan Literasi Menonton: Penonton Indonesia Kian Cerdas
Salah satu poin krusial yang diungkap dalam diskusi adalah lonjakan kecerdasan dan literasi menonton masyarakat Indonesia. Para panelis, termasuk Nanang Istiabudi yang telah memproduksi film horor sejak era 90-an, menilai penonton saat ini jauh lebih pintar dalam mengapresiasi sebuah karya. Kemudahan akses terhadap film global membuat mereka menuntut kualitas storytelling dan sajian visual yang matang.
Film horor Korea Selatan diapresiasi bukan sekadar sebagai tontonan menakutkan, melainkan sebuah karya seni grafis yang profesional. Standar produksi yang tinggi, mulai dari kerangka cerita hingga desain poster, membuat penonton merasa film tersebut "layak bayar".
Kemiripan Mitos dan Perbedaan Logika: "Medis vs Mistis"
Secara kultural, Indonesia dan Korea memiliki kedekatan emosional melalui kesamaan mitos supranatural, seperti kepercayaan terhadap arwah gentayangan yang memiliki urusan belum terselesaikan di dunia. Namun, terdapat perbedaan fundamental dalam penyelesaian konflik cerita yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton kritis:
Pendekatan Korea (Logika Faktual): Film Korea cenderung mengedepankan logika. Meskipun karakter mengalami gangguan supranatural hingga patah tulang atau berdarah, mereka tetap mendapatkan perawatan medis secara faktual di rumah sakit. Hal ini menciptakan kesan yang lebih nyata dan logis.
Pendekatan Indonesia (Mistik): Alur cerita horor lokal dinilai masih sangat bergantung pada penyelesaian melalui jalur mistik murni.
Dukungan Ekosistem dan Infrastruktur
Keberhasilan sinema Korea tidak lepas dari dukungan infrastruktur dan ekosistem industri yang sangat kuat. Produser Herty Purba menceritakan pengalaman kolaborasi dengan lembaga Indonesia-Korea yang memfasilitasi kebutuhan syuting di ruang publik seperti kampus, rumah sakit, hingga area umum. Dukungan pemerintah Korea terhadap industri kreatif sangat masif, kontras dengan tantangan birokrasi dan tingginya biaya perizinan lokasi yang sering dihadapi sineas di Indonesia.
Refleksi bagi Sineas Lokal dan Tantangan Produksi
Di tengah gempuran film luar, industri film dalam negeri didorong untuk berbenah. Diskusi ini menyoroti masalah internal, seperti praktik produksi kilat yang hanya memakan waktu sekitar 10 hari demi menekan anggaran, yang berdampak pada penurunan kualitas. Para praktisi menekankan pentingnya riset urban legend yang dikemas secara psikologis dan adaptasi terhadap tren baru, seperti kehadiran monster atau zombie, menggantikan sosok hantu tradisional yang mulai jenuh.
Apresiasi FFHoror 2026: Pemenang dan Kru Terpilih
Sebagai penutup rangkaian diskusi, diumumkan pula hasil penilaian Dewan Juri FFHoror periode 13 Januari hingga 13 Februari 2026. Penjaringan ini diketuai oleh Ncank Mail dengan anggota juri Satria Sabil, Rio Apriciandhito, Nuty Larasaty, Dandung P. Hardoko, dan Dudy Novriansyah. Berikut adalah daftar film dan kru terbaik yang terpilih:
Film Terhoror: Setan Alas
Sutradara Terbaik: Yusron Fuady
Aktor Terbaik: Rangga Azof (Kafir Gerbang Sukma)
Aktris Terbaik: Putri Ayudia (Kafir Gerbang Sukma)
Tata Gambar (DOP): Dowa Ju Seyo (Tolong Saya), Nur Muhammad Taufiq, dan Sjahfasyat Bianca
Melalui refleksi ini, industri film Indonesia diharapkan dapat mengambil "saripati" kesuksesan Korea dalam hal profesionalisme penceritaan tanpa kehilangan jati diri budaya lokal, guna memastikan sinema horor Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.