indonews

indonews.id

Soroti Eskalasi Global, Gubernur Lemhannas: Sinyal Perang Dunia Ketiga Kian Nyata

Di tengah memanasnya suhu geopolitik dunia, peringatan tentang potensi Perang Dunia Ketiga kembali mengemuka. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Ace Hasan Syadzily, menilai sinyal menuju konflik global skala besar semakin menguat.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Di tengah memanasnya suhu geopolitik dunia, peringatan tentang potensi Perang Dunia Ketiga kembali mengemuka. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Ace Hasan Syadzily, menilai sinyal menuju konflik global skala besar semakin menguat.

Pernyataan itu disampaikan Ace usai menghadiri kuliah umum yang dibawakan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Kantor Lemhannas, Senin (23/2/2026). Dalam paparannya, SBY menyebut berbagai potensi konflik di sejumlah kawasan dunia kini menunjukkan tanda-tanda yang tidak bisa diabaikan.

“Beliau menyebutkan mungkin akan terjadi perang dunia ketiga karena beberapa potensi bagi terjadinya konflik di kawasan itu nyata sinyalnya sudah sangat kuat,” ujar Ace kepada wartawan.

Titik-Titik Panas Dunia

Menurut Ace, ada setidaknya tiga kawasan yang menjadi titik rawan eskalasi.

Di Asia, potensi konflik membayangi kawasan Laut Cina Selatan, Semenanjung Korea, hingga ketegangan antara Cina dan Taiwan. Sementara di Eropa, perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda berakhir masih menyisakan risiko meluas, ditambah isu strategis seperti potensi perebutan Greenland yang kian mendapat perhatian global.

Adapun di Timur Tengah, konflik Palestina-Israel yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat terus menciptakan ketidakstabilan regional dengan dampak global.

“Berbagai konflik di tiga kawasan tersebut berpotensi melahirkan kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga,” kata Ace.

Sejumlah pengamat hubungan internasional sebelumnya juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik regional yang melibatkan kekuatan besar dunia dapat menciptakan efek domino. Keterlibatan negara-negara berkekuatan militer dan ekonomi raksasa dalam satu konflik terbuka berisiko memicu konfrontasi yang lebih luas.

Menghadapi situasi tersebut, Ace menilai Indonesia harus memainkan peran aktif dalam diplomasi global. Ia menyebut pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan langkah diplomasi yang intensif dengan berbagai negara besar.

“Saya kira Bapak Presiden Prabowo telah melakukan itu dengan sangat baik dan terus mendukung upaya diplomasi,” ujarnya.

Indonesia, sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan komunikasi di tengah rivalitas global. Penguatan peran ASEAN dan forum multilateral lain juga menjadi bagian penting dalam meredam eskalasi.

Ketahanan Nasional di Ujung Ujian

Namun, peringatan soal potensi perang global tidak berhenti pada ranah diplomasi luar negeri. Di dalam negeri, Ace mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat kemandirian bangsa.

Ia menekankan pentingnya ketahanan ekonomi, kemandirian pangan dan energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi daya tangkal nasional.

“Bagaimana kita membangun kemandirian, menjaga survive-nya bangsa kita dengan kemandirian ekonomi, kemandirian pangan, energi, peningkatan SDM, dan memastikan kita memiliki daya tangkal yang kuat di tengah situasi global saat ini,” ujarnya.

Dalam konteks ketahanan nasional, Lemhannas memandang ancaman modern tidak selalu berbentuk perang terbuka, tetapi juga dapat berupa perang siber, krisis energi, gangguan rantai pasok, hingga tekanan ekonomi global.

Pernyataan Ace dan SBY menjadi pengingat bahwa dinamika global saat ini berada dalam fase yang sensitif. Di tengah persaingan kekuatan besar dunia, Indonesia dihadapkan pada dua tantangan sekaligus: menjaga peran diplomatik di luar negeri dan memperkuat fondasi ketahanan di dalam negeri.

Apakah dunia benar-benar berada di ambang perang besar? Jawabannya mungkin belum pasti. Namun, sinyal-sinyal yang disebut para pemimpin dan pengamat menunjukkan satu hal: kewaspadaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas