indonews

indonews.id

Dicoret dari Calon Paskibraka Nasional, Siswi Makassar Dapat Beasiswa Kuliah Luar Negeri

 Siswi asal Makassar, Cathlyn Yvaeni Lesmana, yang sempat menjadi sorotan usai dicoret dari calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional, mendapat dukungan berupa beasiswa pendidikan penuh ke luar negeri.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Siswi asal Makassar, Cathlyn Yvaeni Lesmana, yang sempat menjadi sorotan usai dicoret dari calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional, mendapat dukungan berupa beasiswa pendidikan penuh ke luar negeri.

Beasiswa tersebut diberikan oleh Pengurus Pusat Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa (PP GEMA INTI) sebagai bentuk apresiasi atas prestasi akademik Cathlyn dan satu peserta seleksi lainnya.

Ketua PP GEMA INTI, Ervan Sutono Nio, mengatakan beasiswa yang diberikan mencakup pendidikan jenjang sarjana (S1) secara penuh, termasuk biaya hidup selama menjalani studi di luar negeri.

“Beasiswa pendidikan S1, jadi nanti lulus SMA, ini kan masih kelas 10, disiapkan beasiswa penuh yang meliputi biaya pendidikan sampai living cost selama di sana,” kata Ervan, Jumat (29/5).

Menurut Ervan, pemberian beasiswa itu tidak terlepas dari capaian akademik kedua siswi yang dinilai memiliki kemampuan dan prestasi sangat baik.

“Terlepas dari isu polemik yang sekarang, kami dari Generasi Muda Indonesia Tionghoa melihat bahwa kedua anak ini cukup berprestasi. Kita lihat nilai-nilainya sangat bagus,” ujarnya.

Ia menjelaskan program tersebut merupakan agenda rutin PP GEMA INTI yang setiap tahun mengirim siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri dengan biaya penuh.

Selain sebagai bentuk penghargaan, Ervan menyebut beasiswa itu juga diharapkan menjadi dukungan moral dan motivasi bagi generasi muda agar tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan.

“Jangan putus asa ketika ada rencana yang belum sesuai harapan. Kita yakin masih ada peluang lain yang terbuka. Ini nilai yang ingin kami berikan ke generasi muda supaya tetap semangat mengejar peluang lain,” ungkapnya.

Ervan juga memastikan pihaknya akan terus mendampingi kedua peserta seleksi Paskibraka tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Sulawesi Selatan terkait polemik hasil seleksi.

Sementara itu, DPRD Sulsel telah menjadwalkan RDP pada 2 Juni mendatang guna mengusut penyebab Cathlyn dinyatakan gugur meski sebelumnya sempat masuk tiga besar hasil seleksi.

“Insya Allah tanggal 2 Juni kita akan laksanakan RDP, saya sudah komunikasi dengan teman-teman DPRD, ibu ketua dan unsur pimpinan,” kata anggota Komisi C DPRD Sulsel, Andre Prasetyo Tanta.

Andre menjelaskan agenda tersebut digelar setelah DPRD menerima surat dari Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar pada 26 Mei lalu terkait dugaan pelanggaran dalam proses seleksi.

“Jadi tanggal 26 Mei ada surat dari Duta Pancasila Paskibraka Indonesia Kota Makassar memasukkan surat dugaan pelanggaran hasil penyaringan sehingga pasti akan ada beberapa pihak yang akan diundang,” jelasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membantah adanya unsur diskriminasi dalam proses seleksi Paskibraka tingkat nasional.

Sekretaris Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, menyebut keputusan tidak meloloskan Cathlyn didasarkan pada hasil seleksi pusat dan sejumlah pertimbangan kesehatan.

“Kalau menurut penjelasan yang menangani, sejak seleksi untuk calon peserta ke Jakarta, ada nilainya yang peserta nomor satu lebih tinggi dari Cathlyn,” kata Jufri.

Ia menegaskan tidak ada istilah penganuliran dalam kasus tersebut karena proses seleksi masih berlangsung dan belum ada keputusan final yang diumumkan.

Menurut informasi yang diterima Pemprov Sulsel, terdapat sejumlah catatan kesehatan yang menjadi pertimbangan panitia seleksi pusat, di antaranya kondisi penglihatan dan telapak kaki datar (flat foot).

“Kalau bukan karena matanya, penglihatannya agak kabur. Kemudian kakinya juga ada istilahnya flat foot atau telapak kaki datar,” ujarnya.

Jufri menegaskan keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan panitia seleksi pusat, bukan panitia di daerah.

Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, berharap seluruh proses seleksi dilakukan secara adil dan transparan. Ia mengaku prihatin atas kondisi yang dialami delegasi asal Makassar tersebut.

“Peserta dari Makassar ada, ini delegasi dari Kota Makassar yang dikirim seleksi. Masa tidak ada, kita berharap hasil seleksi semuanya fair,” kata Munafri yang akrab disapa Appi.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas