indonews

indonews.id

Mampu Memimpin Era AI Bagi Kesejahteraan Bersama, Ini Tantangan Industri Keuangan Syariah

Firdaus mengatakan di sinilah pentingnya informasi keuangan syariah sebagai kompas dalam kehidupan.

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Mampu Memimpin Era AI Bagi Kesejahteraan Bersama, Ini Tantangan Industri Keuangan Syariah
Menara Syariah bekerja sama dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) menggelar Simposium Internasional tentang Keuangan Islam 2026 di Menara Syariah PIK 2, Lt 9, pada Rabu (1/7/2026). (Foto: Very)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Menara Syariah bekerja sama dengan Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) menggelar Simposium Internasional tentang Keuangan Islam 2026 di Menara Syariah PIK 2, Lt 9, pada Rabu (1/7/2026).

Simposium yang mengambil tema “Sustainability, Artificial Intelligence & Maqasid Al-Shariah in Finance: Reactive or Proactive” tersebut membahas pertanyaan penting terkait kemajuan teknologi (AI) dan kekhawatiran ekologis yang sudah mendesak saat ini.

Simposium tersebut hendak menjawab reaksi dunia keuangan apakah proaktif mengarahkan diri pada masa depan yang benar-benar bermanfaat dan adil atau jusru mengarah pada kehancuran bersama. Simposium mendekati AI melampaui kepatuahan teknis untuk menjawab pertanyaan sejauh mana AI dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk keuntungan, tetapi juga secara proaktif untuk memenuhi tujuan Maqasid.

Presiden Komisaris Menara Syariah, Firdaus Djaelani, selaku tuan rumah mengatakan, situasi keuangan global di tahun 2026 ini membawa semua pihak pada realitas baru yaitu kita dihadapkan pada disrupsi teknologi.

“Merupakan sebuah kehormatan besar bagi suatu kami untuk dapat anda semua di negara yang menjadi pusat ekosistem keuangan syariah. Situasi keuangan global di tahun 2026 ini membawa kita pada realitas baru di mana kita tidak hanya mendiskusikan teori melainkan menghadapi disrupsi. Karena itu, kita membutuhkan kolaborasi antara para pihak agar industri syariah bisa menjawab tantangan yang kita hadapi saat ini,” ujarnya dalam pidato ucapan “Selamat Datang”.

Firdaus mengatakan, dunia saat ini sudah mengalami pergeseran, karena itu, orang tidak hanya berbicara tentang masa depan AI tetapi berbicara tentang bagaimana mengendalikan AI agar tetap dalam koridor etika.

“Belum pernah ada sebelumanya AI mampu menganalisa risiko pembiayaan dalam hitungan detik, mendeteksi raut secara presisi dan memperluas difusi keuangan ke masyarakat terpencil.  Namun AI hanya bekerja berdasarkan algoritma tanpa memedulikan pertimbangan etis ekonomi. AI mengabaikan aspek kemanusiaan dan menciptakan keseimbangan baru,” katanya.

Karena itu, kata Firdaus, di sinilah pentingnya informasi keuangan syariah sebagai kompas dalam kehidupan.

“Melalui simposium ini saya mengajak kita semua untuk mencari regulasi dan standar kepatuhan khususnya  untuk teknologi AI. Selanjutnya kita juga harus menguji produk keuangan syariah bagi masa depan yang ramah lingkungan dan berbasis AI,” ujar Firdaus.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) periode 2012–2017 itu mengatakan masa depan kita tidak ditentukan oleh seberapa jauh kita melangkah tidak tapi seberapa kuat nilai moral yang kita tanamkan ke dalam teknologi.

“Mari kita buktikan kepada dunia bahwa keuangan Islam mampu memimpin era kecerdasan buatan dengan membawa rahmat bagi semesta,” ujarnya.

 

Butuh AI Governance

Dalam kesempatan itu, Firdaus mengajak para pihak untuk mewujudkan tiga komitmen utama dalam pengembangan keuangan syariah berbasis AI.

Pertama, menyusun regulasi dan standar kepatuhan syariah khusus bagi teknologi berbasis AI.

Kedua, mencetak talenta yang menguasai ilmu data (data science) sekaligus memahami fikih muamalah.

Ketiga, membangun laboratorium bersama guna menguji berbagai inovasi produk keuangan syariah berbasis AI yang ramah lingkungan.

“Masa depan keuangan syariah tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita beli, melainkan oleh seberapa kuat nilai-nilai moral yang kita tanamkan dalam teknologi tersebut,” pungkas Firdaus.

Sementara itu David Cornelis Mokalu dari PT Bersama Tumbuh Cemerlang mengatakan, penerapan AI dalam dunia industri saat ini masih beda antara satu industri dengan industri lainnya.

”Penerapan secara industri masih berbeda-beda. Karena itu perlu dibuat scoringnya dulu. Memang harus dilihat dari sisi ekspertis dan dari sisi syariah. Kan industri ada Dewan Syariah-nya. Karena itu, perlu dibuat pakemnya,” ujarnya.

David mengatakan, tantangan ke depan dalam menerapkan AI yakni ada pada governance-nya. ”Tantangan ke depan, pertama adalah AI governance dulu. Karena sekarang ini baru sebatas AI compliance, belum masuk ke etis. Karena itu, setiap industri punya pakem yang berbeda-beda, itu tantangannnya. Masih AI compliance belum ke etis, belum ke maslahat,” ujarnya.

International Symposium on Islamic Finance 2026 itu dilanjutkan dengan panel diskusi yang membahas tema tentang “The Proactive Compass: Re-engineering Financial AI through the Lens of Maqasid al-Shariah” dan “Operationalizing the Maqasid: An Interactive Workshop on AI for MaqasidBased Impact Metrics”.  *

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas