Pemimpin Parlemen Iran Tegaskan Tak Akan Berdamai dengan AS dan Tetap Tolak Akui Israel
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak akan berdamai dengan Amerika Serikat maupun mengakui keberadaan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah spekulasi mengenai kemungkinan tercapainya perdamaian permanen antara Iran dan Amerika Serikat melalui jalur negosiasi.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak akan berdamai dengan Amerika Serikat maupun mengakui keberadaan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah spekulasi mengenai kemungkinan tercapainya perdamaian permanen antara Iran dan Amerika Serikat melalui jalur negosiasi.
Pernyataan itu disampaikan Ghalibaf saat menerima Ketua Dewan Syura Hamas, Mohammad Darwish, dalam pertemuan di Teheran pada Minggu (6/7).
Dalam kesempatan tersebut, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tetap berpegang pada kebijakan politik luar negerinya, termasuk tidak mengakui Israel serta melanjutkan dukungan terhadap kelompok-kelompok yang disebut sebagai poros perlawanan di kawasan.
"Iran tidak akan pernah mengakui Israel," tegas Ghalibaf.
Ia juga memastikan negaranya akan terus memberikan dukungan kepada umat Muslim dan poros perlawanan, baik dalam bentuk dukungan politik maupun bantuan militer, termasuk penyediaan rudal apabila diperlukan.
Menurut Ghalibaf, pemerintah Iran telah menetapkan sejumlah garis merah dalam setiap proses negosiasi dengan Amerika Serikat. Salah satu batasan yang tidak dapat dinegosiasikan adalah dukungan terhadap poros perlawanan dan Lebanon.
Selain itu, ia menyatakan Iran akan terus memantau secara saksama pelaksanaan fase kedua proses gencatan senjata di Jalur Gaza.
Ghalibaf juga mengklaim Iran tidak mengabaikan tuntutan utamanya dalam nota kesepahaman yang disebut telah ditandatangani dengan Washington melalui mediasi Qatar dan Pakistan untuk mengakhiri konflik. Menurutnya, Amerika Serikat pada akhirnya dipaksa mengakui tuntutan-tuntutan tersebut dalam dokumen tersebut.
Lebih lanjut, Ghalibaf menekankan pentingnya kesiapan militer sebagai faktor utama dalam memperkuat posisi tawar Iran di meja perundingan. Ia berpendapat Amerika Serikat dan Israel akan memilih opsi militer apabila melihat adanya kelemahan dari pihak Iran maupun kelompok-kelompok yang didukungnya.
Karena itu, ia menilai diplomasi harus berjalan seiring dengan kekuatan pertahanan agar hasil-hasil yang dicapai melalui jalur militer dapat dipertahankan dalam proses politik.
Pernyataan Ghalibaf kembali menegaskan sikap Iran yang hingga kini tetap mempertahankan kebijakan konfrontatif terhadap Amerika Serikat dan Israel, meski komunikasi diplomatik terkait berbagai isu regional masih terus berlangsung.
