indonews

indonews.id

SUNYI YANG MENGGERUS PERADABAN

SUNYI YANG MENGGERUS PERADABAN

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Penulis : BRIGJEN TNI (PURN) MJP HUTAGAOL

Tidak ada bangsa yang kehilangan masa depannya dalam satu malam.

Keruntuhan tidak datang dengan dentuman yang mengguncang langit. Ia datang dalam kesunyian, ketika hati manusia perlahan berhenti membedakan antara yang benar dan yang menguntungkan, antara amanah dan kesempatan, antara kehormatan dan kepentingan.

Sejak saat itu, waktu mulai bekerja dengan caranya sendiri.

Peradaban tidak segera runtuh.

Ia terlebih dahulu kehilangan arah.

Setiap zaman memiliki ujiannya.

Zaman ini dianugerahi ilmu pengetahuan yang melampaui bayangan generasi sebelumnya.

Manusia menembus angkasa, menghubungkan benua melalui satelit, membangun kecerdasan buatan, dan mengubah wajah dunia dalam hitungan detik.

Namun sejarah terus mengajukan pertanyaan yang sama.

Apakah kebijaksanaan manusia bertumbuh secepat kekuatannya?

Yang kita saksikan hari ini bukan sekadar deretan peristiwa.

Kesenjangan sosial yang melebar.

Perebutan kekuasaan yang mengorbankan persatuan.

Peperangan yang merenggut kehidupan.

Korupsi yang menggerus kepercayaan.

Perdagangan manusia yang merendahkan martabat.

Penyalahgunaan narkotika yang merampas masa depan.
Semuanya tampak berbeda.

Namun barangkali semuanya sedang menunjuk kepada satu akar yang sama.

Manusia mulai kehilangan kompas batinnya.

Sejarah memperlihatkan bahwa banyak peradaban tidak runtuh ketika mereka miskin atau lemah. Justru ketika mereka mencapai puncak kekuatan, ujian terbesar dimulai.

Pada saat itulah pertanyaan-pertanyaan yang menentukan masa depan muncul.

Apakah kekuasaan dipakai untuk melayani atau menguasai?

Apakah kekayaan dipakai untuk membangun atau menumpuk?

Apakah ilmu dipakai untuk menerangi atau mendominasi?

Apakah kebebasan dipakai untuk bertanggung jawab atau sekadar memenuhi kepentingan diri sendiri?

Alam semesta tidak mengenal keserakahan.

Matahari memberi cahaya tanpa memilih.

Sungai mengalir tanpa meminum airnya sendiri.

Pohon bertumbuh dengan menghidupi kehidupan lain.

Semakin besar keberadaannya, semakin besar manfaat yang ditinggalkannya.

Barangkali itulah hukum kehidupan yang paling tua.

Kekuatan memperoleh kemuliaannya ketika digunakan untuk menjaga.

Bangsa pun hidup oleh hukum yang sama.

Ia tidak bertahan hanya karena konstitusi.

Ia tidak dihormati hanya karena kekayaan.

Ia tidak disegani hanya karena kekuasaan.

Ia bertahan karena masih ada manusia yang memilih jujur ketika kebohongan lebih mudah, memilih adil ketika keadilan menuntut keberanian, dan tetap memegang amanah ketika kesempatan untuk mengkhianatinya terbuka lebar.

Mungkin zaman ini tidak sedang kekurangan orang cerdas.

Mungkin zaman ini sedang merindukan manusia yang mampu menyatukan kecerdasan dengan kebijaksanaan, kebebasan dengan tanggung jawab, dan kekuasaan dengan kerendahan hati.

Sebab masa depan sebuah bangsa tidak pertama-tama ditentukan oleh besarnya sumber daya alam, tingginya gedung, atau canggihnya teknologi.

Masa depan ditentukan oleh kualitas manusia yang memegang nilai ketika nilai itu sedang diuji.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak yang berhasil kita miliki.

Sejarah akan bertanya:
Ketika nilai-nilai yang menopang kehidupan bersama mulai retak, apakah kita ikut memperlebar retakan itu... atau menjadi bagian dari mereka yang, meskipun tidak dikenal, tetap setia memperbaikinya?

Di sanalah sebuah bangsa tidak hanya diukur.

Di sanalah sebuah peradaban ditentukan.

 

Jakarta, 1 Agustus 2026

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas