PODA LELUHUR, KEARIFAN NUSANTARA, DAN JALAN PANJANG MENUJU PERADABAN
PODA LELUHUR, KEARIFAN NUSANTARA, DAN JALAN PANJANG MENUJU PERADABAN
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
NILAI MENJADI PERILAKU
Jakarta, 12 September 2026
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
BAGIAN I
MENGAPA NILAI TIDAK MENJADI PERILAKU?
Ada sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam:
Mengapa sebuah bangsa dapat memiliki begitu banyak nilai luhur, tetapi nilai-nilai itu belum selalu tampak dalam perilaku manusianya?
Indonesia bukan bangsa yang miskin nilai.
Kita memiliki Pancasila, UUD 1945, ajaran agama, adat istiadat, pendidikan, gotong royong, serta berbagai kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di dalam tradisi Batak, kita mengenal poda, umpama, umpasa, dan Dalihan Na Tolu.
Dalam tradisi Angkola-Mandailing dikenal Poda Na Lima.
Di Minahasa ada Mapalus.
Di Maluku terdapat Sasi.
Di Bali terdapat Subak.
Dan di hampir seluruh Nusantara hidup semangat gotong royong dalam berbagai bentuknya.
Semua itu menunjukkan bahwa leluhur Nusantara bukan manusia yang hidup tanpa pedoman.
Mereka memiliki cara sendiri untuk menjawab pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan:
Bagaimana manusia harus hidup?
Bagaimana manusia harus memperlakukan manusia lain?
Bagaimana manusia harus memperlakukan alam?
Dan bagaimana manusia menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan bersama?
Namun persoalannya bukan lagi apakah kita memiliki nilai.
Persoalannya adalah:
APAKAH NILAI ITU MASIH HIDUP DALAM PERILAKU KITA?
Sebab mengetahui nilai tidak sama dengan menghidupi nilai.
Menghafal Pancasila tidak otomatis membuat seseorang ber-Pancasila.
Mengerti agama tidak otomatis membuat seseorang bermoral.
Mengetahui hukum tidak otomatis membuat seseorang taat hukum.
Memahami adat tidak otomatis membuat seseorang hidup sesuai adat.
Dan berbicara tentang integritas tidak otomatis membuat seseorang menjadi manusia yang berintegritas.
Karena itu, nilai memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya menjadi peradaban.
NILAI → PEMAHAMAN → PERILAKU → KEBIASAAN → KARAKTER → BUDAYA → SISTEM → KEPERCAYAAN → PERADABAN.
Nilai yang hanya diucapkan akan menjadi kata.
Nilai yang dipahami akan menjadi pengetahuan.
Nilai yang dilakukan berulang kali akan menjadi kebiasaan.
Kebiasaan yang hidup bersama akan membentuk karakter.
Karakter yang hidup dalam masyarakat akan menjadi budaya.
Budaya yang diterjemahkan ke dalam aturan dan kelembagaan akan menjadi sistem.
Sistem yang berjalan adil dan konsisten akan melahirkan kepercayaan.
Dan kepercayaan merupakan salah satu fondasi utama peradaban.
PERADABAN SESUNGGUHNYA TIDAK DIMULAI DARI GEDUNG YANG TINGGI.
IA DIMULAI DARI MANUSIA YANG MEMILIKI KESADARAN.
PODA NA LIMA: DARI DIRI MENUJU LINGKUNGAN
Dalam tradisi Angkola-Mandailing, Poda Na Lima memberikan pelajaran yang sangat sederhana tetapi dalam.
Paias Rohamu — bersihkan hatimu.
Paias Pamatangmu — bersihkan tubuhmu.
Paias Paheanmu atau Parabitonmu — bersihkan pakaianmu.
Paias Bagasmu — bersihkan rumahmu.
Paias Alamanmu atau Pakaranganmu — bersihkan halaman dan lingkunganmu.
Jika direnungkan, Poda Na Lima sesungguhnya berbicara tentang perjalanan manusia dari dalam dirinya menuju lingkungan kehidupannya.
Dimulai dari hati.
Berlanjut kepada tubuh.
Kemudian pakaian.
Rumah.
Dan akhirnya lingkungan.
Pesannya sangat kuat:
LINGKUNGAN YANG BERSIH DIMULAI DARI MANUSIA YANG MAU MEMBERSIHKAN DIRINYA.
Tetapi maknanya dapat kita bawa lebih jauh.
Hati yang bersih berbicara tentang niat.
Tubuh yang bersih berbicara tentang disiplin.
Pakaian yang bersih berbicara tentang martabat.
Rumah yang bersih berbicara tentang keteraturan.
Lingkungan yang bersih berbicara tentang tanggung jawab sosial.
Karena itu, Poda Na Lima bukan sekadar ajaran mengenai kebersihan.
Ia dapat dibaca sebagai sebuah etika kehidupan:
MANUSIA YANG BAIK HARUS MEMULAI PERUBAHAN DARI DIRINYA SENDIRI.
Jika manusia yang mengelola negara tidak membersihkan niatnya, sistem dapat menjadi alat kepentingan.
Jika manusia yang memegang kekuasaan tidak membersihkan perilakunya, kewenangan dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Jika manusia yang mengelola uang rakyat tidak memiliki integritas, anggaran dapat berubah menjadi kesempatan memperkaya diri.
Di sinilah kita menemukan hubungan antara nilai leluhur dan tata kelola negara.
INSTITUSI MEMBUTUHKAN MANUSIA YANG BAIK.
DAN MANUSIA YANG BAIK MEMBUTUHKAN INSTITUSI YANG BAIK.
DALIHAN NA TOLU: NILAI YANG MENJADI TANGGUNG JAWAB
Dalam masyarakat Batak Toba, Dalihan Na Tolu bukan sekadar simbol adat.
Ia mengandung prinsip hubungan sosial:
Somba marhula-hula.
Manat mardongan tubu.
Elek marboru.
Di dalamnya terdapat penghormatan, kehati-hatian dalam hubungan, kasih sayang, kepedulian dan tanggung jawab.
Artinya, kehidupan tidak dibangun hanya oleh kepentingan diri sendiri.
Manusia selalu berada dalam jaringan hubungan dengan manusia lain.
Karena itu:
NILAI BARU MEMPUNYAI KEKUATAN KETIKA MENJADI TANGGUNG JAWAB.
Ketika seseorang menghormati orang lain, nilai menjadi perilaku.
Ketika seseorang menjaga hubungan, nilai menjadi tindakan.
Ketika seseorang bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya, nilai menjadi karakter.
NUSANTARA TIDAK MISKIN NILAI
Kita dapat menemukan pola yang sama di berbagai wilayah Nusantara.
Mapalus mengajarkan semangat kerja bersama dan saling membantu.
Sasi mengajarkan keteraturan dalam pemanfaatan sumber daya dan penghormatan terhadap kesepakatan bersama.
Subak menunjukkan bagaimana masyarakat dapat mengelola sumber daya air melalui kelembagaan dan kerja kolektif.
Gotong royong memperlihatkan bahwa kepentingan bersama dapat diletakkan di atas kepentingan individual dalam situasi tertentu.
Bentuknya berbeda.
Bahasanya berbeda.
Sejarahnya berbeda.
Tetapi terdapat satu jiwa yang sama:
MANUSIA TIDAK DICIPTAKAN UNTUK HIDUP SENDIRI.
Itulah salah satu kekuatan besar Nusantara.
Kita memiliki kekayaan nilai yang tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat sendiri.
Namun kekayaan nilai akan menjadi sia-sia jika hanya menjadi simbol.
Kita dapat memakai pakaian adat.
Kita dapat membuat festival budaya.
Kita dapat membangun museum.
Kita dapat berbicara tentang leluhur.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
APAKAH NILAI LELUHUR ITU MASIH MEMBENTUK PERILAKU KITA?
KORUPSI: KETIKA NILAI KALAH OLEH KESEMPATAN
Salah satu contoh paling nyata adalah korupsi.
Korupsi bukan semata-mata persoalan hukum.
Korupsi juga merupakan persoalan nilai yang gagal menjadi perilaku.
Indonesia memiliki agama.
Indonesia memiliki Pancasila.
Indonesia memiliki hukum.
Indonesia memiliki pendidikan.
Indonesia memiliki lembaga penegak hukum.
Indonesia memiliki masyarakat yang cerdas.
Tetapi korupsi tetap menjadi persoalan serius.
Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2025 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100 dan peringkat 109 dari 182 negara.
Sementara itu, Survei Penilaian Integritas KPK 2025 mencatat Indeks Integritas Nasional sebesar 72,32 dan masih berada dalam kategori rentan korupsi.
Angka-angka tersebut bukan untuk mempermalukan bangsa sendiri.
Angka itu seharusnya menjadi cermin.
Pertanyaannya bukan:
Apakah bangsa Indonesia tahu bahwa korupsi itu salah?
Hampir semua orang tahu jawabannya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
MENGAPA PENGETAHUAN TENTANG YANG BENAR BELUM SELALU MAMPU MENGALAHKAN KEINGINAN UNTUK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN?
Di sinilah terjadi proses normalisasi penyimpangan.
Awalnya:
“Cuma sedikit.”
Kemudian:
“Semua juga begitu.”
Lalu:
“Kalau saya tidak ikut, saya yang rugi.”
Berikutnya:
“Ini sudah biasa.”
Dan akhirnya:
“Jangan terlalu idealis.”
Pada titik tertentu, sesuatu yang salah tidak lagi terasa sebagai kesalahan.
Ia telah menjadi kebiasaan.
Dan ketika kebiasaan salah dilakukan oleh banyak orang, ia dapat berubah menjadi budaya organisasi.
Itulah sebabnya pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan menambah slogan moral.
Yang harus diubah adalah perilaku, kesempatan, sistem, pengawasan dan kepastian konsekuensi.
IMAN, MORAL, KECERDASAN, HUKUM DAN SISTEM
Ada sebuah pemikiran sederhana yang pernah saya renungkan dari percakapan dengan para senior:
Iman.
Moral.
Kecerdasan.
Iman memberi arah batin.
Moral memberikan batas.
Kecerdasan membuat manusia memahami akibat dari tindakannya.
Hukum memberikan konsekuensi.
Dan sistem membuat semuanya dapat berjalan secara konsisten.
IMAN MEMBERI ARAH.
MORAL MEMBERI BATAS.
KECERDASAN MEMBERI KESADARAN.
HUKUM MEMBERI KONSEKUENSI.
DAN SISTEM MEMBUAT SEMUANYA BERJALAN.
Karena itu, bangsa tidak cukup hanya membutuhkan manusia pintar.
Bangsa membutuhkan manusia yang mampu menggunakan kepintarannya dengan benar.
NILAI HARUS DAPAT DILIHAT MELALUI PERILAKU.
Jujur berarti tidak memanipulasi data.
Integritas berarti tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Adil berarti tidak menyalahgunakan kewenangan karena hubungan pribadi.
Transparan berarti keputusan dan penggunaan sumber daya dapat diperiksa secara wajar.
Tanggung jawab berarti setiap keputusan memiliki dasar, proses, pelaksana, alasan dan konsekuensi yang jelas.
Dengan demikian:
NILAI HARUS DAPAT DIUKUR MELALUI PERILAKU.
MEMBUAT SISTEM YANG TIDAK MEMBERI RUANG BAGI PENYIMPANGAN
Manusia tetap manusia.
Karena itu, sistem negara tidak boleh dibangun dengan asumsi bahwa semua orang akan selalu baik.
Sistem yang baik justru harus mampu:
Mengurangi kesempatan melakukan penyimpangan.
Membuat proses dapat dilacak.
Memisahkan kewenangan.
Mencegah konflik kepentingan.
Membuka informasi yang memang menjadi hak publik.
Membangun audit trail.
Dan memastikan bahwa penyimpangan dapat terdeteksi.
SEMAKIN BESAR RUANG GELAP, SEMAKIN BESAR PELUANG PENYIMPANGAN.
SEMAKIN TERANG PROSES, SEMAKIN SEMPIT RUANG MANIPULASI.
SETIAP RUPIAH HARUS MEMPUNYAI JEJAK.
Dari mana uang berasal.
Untuk apa digunakan.
Siapa yang mengambil keputusan.
Siapa yang melaksanakan.
Berapa nilainya.
Siapa penerimanya.
Dan apa hasilnya.
Jangan hanya bertanya:
“Apakah proyeknya ada?”
Tetapi juga:
“Apakah harganya wajar?”
“Apakah prosesnya benar?”
“Apakah manfaatnya sebanding?”
“Apakah keputusan dibuat tanpa konflik kepentingan?”
KEPASTIAN KONSEKUENSI
Pemberantasan korupsi tidak boleh dibangun atas rasa takut semata.
Ia harus dibangun atas kepastian hukum.
PASTI TERDETEKSI.
PASTI DIPERIKSA.
PASTI DIADILI JIKA ADA BUKTI.
PASTI DIHUKUM JIKA TERBUKTI.
DAN HASIL KEJAHATAN TIDAK BOLEH TETAP DINIKMATI.
Semua itu harus dilakukan secara profesional, independen, berdasarkan bukti, serta tetap menghormati hukum dan keadilan.
Karena korupsi akan terus menarik manusia selama hasil kejahatannya masih dapat dinikmati.
KORUPSI TIDAK BOLEH MENJADI INVESTASI.
Artinya, pemberantasan korupsi tidak berhenti pada penghukuman pelaku.
Hasil kejahatan harus ditelusuri dan dipulihkan melalui mekanisme hukum yang sah.
DENGAN DEMIKIAN, KEUNTUNGAN DARI KORUPSI HARUS HILANG.
MELINDUNGI ORANG JUJUR
Ada satu hal yang sering terlupakan.
Sistem antikorupsi bukan hanya tentang menghukum orang yang salah.
Sistem juga harus melindungi orang yang benar.
JANGAN SAMPAI ORANG JUJUR TAKUT.
DAN JANGAN SAMPAI ORANG YANG KORUPSI JUSTRU MERASA AMAN.
Orang yang bekerja benar harus mendapatkan perlindungan.
Orang yang menyampaikan informasi dengan itikad baik harus memiliki ruang yang aman.
Dan orang yang memiliki kewenangan harus mengetahui bahwa jabatan bukan perlindungan dari hukum.
KEPEMIMPINAN DIMULAI DARI ATAS
Sistem dapat dibuat oleh manusia.
Tetapi budaya organisasi sangat dipengaruhi oleh teladan pemimpinnya.
Bukan hanya:
TONE FROM THE TOP.
Tetapi:
EXAMPLE FROM THE TOP.
Ketika pemimpin hidup sederhana, transparan dan bertanggung jawab, organisasi melihat contoh.
Ketika pemimpin menyalahgunakan jabatan, organisasi juga belajar dari contoh.
Karena itu, integritas pemimpin bukan persoalan pribadi semata.
Ia memiliki efek institusional.
BELAJAR DARI DUNIA, TETAPI TIDAK KEHILANGAN AKAR
Dunia telah memiliki banyak pengalaman dalam memperbaiki tata kelola.
Georgia, misalnya, setelah Revolusi Mawar 2003 melakukan reformasi besar dalam pelayanan publik dengan mengurangi birokrasi, mengurangi kontak yang tidak perlu antara warga dan aparat, memperbaiki kualitas aparatur dan membangun kredibilitas reformasi.
Rwanda juga menunjukkan bahwa kemauan politik, penguatan institusi dan tata kelola dapat berkontribusi pada perbaikan pengendalian korupsi, meskipun pengalaman tersebut tetap memiliki keterbatasan dan tidak berarti seluruh persoalan korupsi selesai.
Kita tidak harus menjadi Georgia.
Kita tidak harus menjadi Rwanda.
Kita harus belajar dari pengalaman mereka, tetapi membangun jalan kita sendiri.
Indonesia memiliki modal yang berbeda:
Pancasila.
UUD 1945.
Agama.
Adat.
Poda.
Dalihan Na Tolu.
Gotong royong.
Mapalus.
Sasi.
Subak.
Pendidikan.
Teknologi.
Dan pengalaman panjang membangun negara.
Kita tidak menolak pengetahuan dunia.
Kita menolak ketergantungan berpikir.
Kita dapat berdialog dengan teori dan pengalaman dari berbagai negara, tetapi arah pembangunan nilai harus tetap berakar pada pengalaman sejarah dan jati diri bangsa sendiri.
BERPIKIR DENGAN KEPALA SENDIRI.
MESIN BOLEH SEMAKIN MODERN.
TETAPI JIWA BANGSA JANGAN SAMPAI KEHILANGAN AKARNYA.
DARI PODA MENUJU TATA KELOLA
Di sinilah saya melihat kemungkinan besar untuk menghidupkan kembali nilai leluhur dalam kehidupan modern.
Paias Rohamu dapat kita baca sebagai panggilan untuk membersihkan niat ketika menerima mandat publik.
Paias Pamatangmu dapat kita baca sebagai pengingat agar manusia tidak menyalahgunakan tubuh, jabatan dan kewenangan yang dipercayakan kepadanya.
Paias Paheanmu atau Parabitonmu mengingatkan bahwa martabat sosial harus berjalan sejalan dengan perilaku.
Paias Bagasmu dapat diterjemahkan menjadi upaya membersihkan institusi dari praktik-praktik yang merusak.
Paias Alamanmu atau Pakaranganmu dapat menjadi gambaran tentang pentingnya membangun lingkungan sosial dan birokrasi yang tidak memberikan tempat nyaman bagi penyimpangan.
Dengan demikian:
PODA MENJADI ETIKA.
ETIKA MENJADI PERILAKU.
PERILAKU MENJADI KEBIASAAN.
KEBIASAAN MENJADI BUDAYA.
BUDAYA MENJADI SISTEM.
DAN SISTEM MENJADI KEKUATAN NEGARA.
Demikian pula kearifan Nusantara harus kita hidupkan dalam konteks zaman.
Mapalus tidak cukup hanya diperingati sebagai tradisi.
Sasi tidak cukup hanya dikenal sebagai adat.
Subak tidak cukup hanya dilihat sebagai sistem irigasi.
Gotong royong tidak cukup hanya menjadi slogan.
Yang harus kita pertahankan bukan sekadar bentuk luarnya.
Yang harus kita hidupkan adalah nilainya.
BUKAN SEKADAR MEMPERTAHANKAN BENTUK.
TETAPI MEMPERTAHANKAN NILAI DAN MENGHIDUPKANNYA DALAM KONTEKS ZAMAN.
OBAT BANGSA TIDAK HARUS IMPOR
Barangkali selama ini kita terlalu sering mencari jawaban dari luar.
Kita mencari teori.
Kita mencari model.
Kita mencari konsep.
Kita mencari formula.
Padahal sebagian dari obat sosial kita mungkin sudah lama tersimpan dalam ingatan leluhur.
Poda mengajarkan pengendalian diri.
Dalihan Na Tolu mengajarkan hubungan dan tanggung jawab.
Mapalus mengajarkan kerja bersama.
Sasi mengajarkan batas dan keteraturan.
Subak mengajarkan tata kelola sumber daya secara kolektif.
Gotong royong mengajarkan bahwa kehidupan bersama tidak dapat dibangun hanya dengan kepentingan pribadi.
OBAT BANGSA TIDAK SELALU HARUS DATANG DARI LUAR.
ADA DI LEMARI LELUHUR KITA.
Tentu kita tidak boleh romantis terhadap masa lalu.
Zaman berubah.
Teknologi berubah.
Bentuk negara berubah.
Ekonomi berubah.
Tantangan berubah.
Karena itu, nilai lama harus diterjemahkan ke dalam kebutuhan baru.
Inilah yang saya sebut sebagai kedaulatan berpikir:
Tidak menolak pengetahuan dunia.
Tidak menutup diri terhadap kemajuan.
Tetapi juga tidak kehilangan kemampuan untuk menemukan jawaban dari pengalaman bangsa sendiri.
MESIN BOLEH MODERN.
ARAH PEMIKIRANNYA TETAP BERAKAR PADA JATI DIRI BANGSA.
JALAN PRAKTIS MENUJU PERUBAHAN
Jika kita sungguh ingin menjadikan nilai sebagai perilaku, maka perubahan harus dapat dilakukan secara nyata.
Pertama, petakan titik-titik rawan penyimpangan.
Kedua, tutup celah yang memungkinkan penyalahgunaan.
Ketiga, digitalisasikan proses yang memang dapat mengurangi ruang manipulasi.
Keempat, bangun jejak transaksi dan keputusan yang dapat diaudit.
Kelima, perkuat pemeriksaan konflik kepentingan.
Keenam, lindungi orang yang beritikad baik dalam melaporkan penyimpangan.
Ketujuh, tegakkan hukum secara profesional dan tidak diskriminatif.
Kedelapan, telusuri dan pulihkan hasil kejahatan melalui mekanisme hukum.
Kesembilan, ukur keberhasilan dari berkurangnya risiko dan perilaku koruptif, bukan dari banyaknya seminar.
Kesepuluh, jadikan integritas sebagai salah satu ukuran utama dalam memilih pemimpin.
Ukuran keberhasilan tidak cukup:
Berapa seminar yang dilakukan?
Berapa spanduk yang dipasang?
Berapa banyak slogan yang dibuat?
Tetapi:
Berapa celah yang berhasil ditutup?
Berapa transaksi yang dapat dilacak?
Berapa konflik kepentingan yang berhasil dicegah?
Berapa kerugian yang berhasil dipulihkan?
Dan apakah perilaku koruptif benar-benar menurun?
Di situlah nilai mulai bekerja.
PERTANYAAN TERBESAR
Pada akhirnya, persoalan bangsa bukan hanya tentang hukum.
Bukan hanya tentang politik.
Bukan hanya tentang ekonomi.
Bukan hanya tentang pendidikan.
Dan bukan hanya tentang teknologi.
Persoalannya kembali kepada manusia.
Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk?
Manusia seperti apa yang akan kita lahirkan?
Manusia seperti apa yang akan memimpin?
Dan manusia seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya?
Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologinya.
Tidak hanya oleh seberapa besar ekonominya.
Tidak hanya oleh seberapa kuat militernya.
Tidak hanya oleh seberapa banyak sumber daya alamnya.
Masa depan Indonesia pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelola semuanya.
Kita boleh memiliki teknologi paling canggih.
Tetapi jika manusia kehilangan moral, teknologi dapat menjadi alat penyalahgunaan.
Kita boleh memiliki kekayaan alam yang luar biasa.
Tetapi jika manusia kehilangan tanggung jawab, kekayaan dapat menjadi sumber konflik.
Kita boleh memiliki hukum yang lengkap.
Tetapi jika manusia tidak memiliki integritas, hukum dapat kehilangan daya hidupnya.
Karena itu:
PERADABAN ADALAH CERMIN DARI MANUSIANYA.
PENUTUP
Indonesia tidak kekurangan nilai.
Indonesia tidak kekurangan agama.
Indonesia tidak kekurangan Pancasila.
Indonesia tidak kekurangan hukum.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia juga tidak kekurangan kearifan lokal.
Yang masih menjadi pekerjaan besar adalah membangun jembatan:
DARI NILAI MENUJU PERILAKU.
DARI PERILAKU MENUJU KARAKTER.
DARI KARAKTER MENUJU BUDAYA.
DARI BUDAYA MENUJU SISTEM.
DAN DARI SISTEM MENUJU PERADABAN.
NILAI YANG HANYA DIUCAPKAN AKAN MENJADI KATA.
NILAI YANG DIHIDUPI AKAN MENJADI PERILAKU.
PERILAKU YANG DIULANG AKAN MENJADI KARAKTER.
KARAKTER YANG HIDUP BERSAMA AKAN MENJADI BUDAYA.
BUDAYA YANG DILEMBAGAKAN AKAN MENJADI SISTEM.
DAN SISTEM YANG BERDIRI DI ATAS NILAI AKAN MENJADI FONDASI PERADABAN.
Mungkin pertanyaan terbesar kita bukan lagi:
“Apakah kita memiliki nilai?”
Tetapi:
“APAKAH KITA BERANI MEMBUAT NILAI ITU MENANG ATAS UANG, KEKUASAAN DAN KEPENTINGAN?”
Sebab sebuah bangsa besar bukanlah bangsa yang paling banyak mengucapkan nilai.
Bangsa besar adalah bangsa yang mampu membuat nilai hidup dalam perilaku manusianya, bekerja dalam institusinya, dipercaya oleh rakyatnya, dan menghasilkan kehidupan yang lebih adil, tertib, bermartabat dan sejahtera.
NUSANTARA BELUM KEHILANGAN ARAH.
Arah itu mungkin masih tersimpan dalam ingatan leluhur.
Dalam poda.
Dalam adat.
Dalam gotong royong.
Dalam hubungan antarmanusia.
Dalam penghormatan kepada alam.
Dalam kesadaran bahwa manusia bukan pemilik mutlak kehidupan, melainkan bagian dari ciptaan yang lebih besar.
Tugas generasi kita adalah menemukan kembali nilai itu, membersihkannya dari romantisme, menerjemahkannya untuk zaman modern, lalu menghidupkannya dalam perilaku.
DI SITULAH NILAI BERHENTI MENJADI KATA.
DI SITULAH NILAI MULAI MENJADI PERILAKU.
DAN DI SITULAH PERADABAN DIMULAI.
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 12 September 2026