Kecam Kekerasan di Papua, PGI Dorong Dialog Kemanusiaan: Lindungi Kehidupan
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengecam berbagai aksi kekerasan yang terjadi di Tanah Papua, termasuk penyanderaan sembilan perempuan di Mimika dan penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengecam berbagai aksi kekerasan yang terjadi di Tanah Papua, termasuk penyanderaan sembilan perempuan di Mimika dan penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Kepala Biro PGI Papua, Pdt. Ronald Rischard Tapilatu, mengatakan dua peristiwa tersebut menunjukkan masih adanya ancaman terhadap kehidupan dan martabat manusia di Papua.
Menurut Ronald, penyelesaian persoalan Papua harus mengedepankan penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM), perlindungan warga sipil, serta keberpihakan terhadap kehidupan.
“Kekerasan, kata PGI, hanya akan memperpanjang ketakutan, kebencian, kehilangan, dan kekerasan baru,” ujar Ronald dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).
PGI mendesak seluruh pihak menghentikan penyanderaan, penembakan, pembunuhan, serta tindakan lain yang dapat membahayakan warga sipil.
“Semua pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata harus menghormati kehidupan serta memastikan bahwa perempuan, anak-anak, pekerja kemanusiaan, pelayan publik, dan seluruh warga sipil tidak dijadikan sasaran kekerasan,” katanya.
PGI juga mendorong dibukanya dialog kemanusiaan untuk menghentikan siklus serangan dan pembalasan. Dialog tersebut dinilai penting untuk menyelamatkan kehidupan, menjamin perlindungan warga sipil, membangun kepercayaan, serta membuka jalan menuju penyelesaian persoalan Papua secara damai dan bermartabat.
“Papua tidak membutuhkan lebih banyak kuburan. Papua membutuhkan keberanian untuk menghentikan kekerasan, memulihkan mereka yang terluka, melindungi kehidupan, dan membangun perdamaian,” tegas Ronald.
Sebelumnya, sembilan perempuan dilaporkan disandera di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Selasa (18/8/2026). Para korban disebut terdiri atas ibu hamil, remaja, dan anak-anak.
Mereka diduga disandera kelompok bersenjata yang disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Dalam peristiwa tersebut, dua perempuan yang berupaya mempertahankan anak mereka juga dilaporkan menjadi korban serangan. Satu korban ditembak hingga meninggal dunia, sementara seorang lainnya dibuang ke jurang dan mengalami patah kaki sebelum berhasil dievakuasi warga.
Aksi kekerasan terhadap warga sipil juga terjadi di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya dilaporkan ditembak pada Rabu (9/9/2026).
Ketiganya yakni Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Mehan (35), dan Wili Mbuik (25). Mereka disebut diadang dan ditembak seusai melakukan pengecekan lahan cetak sawah serta memberikan bantuan ternak babi di Distrik Muliama.
PGI menilai berbagai peristiwa tersebut kembali menunjukkan pentingnya upaya serius untuk melindungi warga sipil dan membuka ruang dialog kemanusiaan sebagai bagian dari penyelesaian konflik di Papua.