indonews

indonews.id

Penonton Sepakbola Moderen

BOLEHKAH SUPORTER MEMBOIKOT ATAU MENDIKTE?

Reporter: indonews
Redaktur: indonews

Sejak mBah Coco meliput sepakbola nasional, dari kompetisi Galatama atau pun kompetisi Perserikatan, awal 80-an, tidak pernah menemukan hal-hal yang aneh membagongkan, jika berbaur dengan penonton sepakbola, dari Sabang sampai Merauke. Semuanya asyik-asyik saja.

Dan, ketika disuruh suratkabar mBah Coco, meliput World Cup atau EURO atau Asian Cup, para suporter yang brutal di luar stadion pun, juga terkesan biasa-biasa, apalagi dalam kondisi mabuk alkohol. Khususnya, hooligans Inggris, ketika meliput partai Inggris vs Belanda, di Pulau Sardinia, 16 Juni 1990.

mBah Coco, ikut satu kapal Ferri dari pelabuhan Civitavecchia, Ramo menuju Stadion Sant’Ellia, milik klub Cagliari. Walaupun, suporter Inggris terkenal sangar, brutal dan doyan merusak fasilitas umum, namun saat bareng-bareng suporter Belanda – Orange The Legion, terbiasa asyik-asyik saja, dengan asesorisnya. Mereka, akhirnya saling menyapa, dan saling menghormati. 

Maklum, saat itu, kedua negara belum bertanding di penyisihan Grup F, Piala Dunia 1990, di Italia. Namun, pulangnya – polisi Italia, Carabinieri sudah mengatur untuk tidak sama-sama satu kapal ferry dengan kedua kelompok suporter Inggris dan Belanda.

Empat alinea di atas, hanya sebatas intermezzo. Lain di Eropa, dan berbeda di Indonesia, bro!

mBah Coco bingung, kok bisa-bisanya sebuah klub yang katanya profesional di Indonesia, mau dan bisa didikte oleh sekelompok suporter, seusai pertandingan?

Ujug-ujug di medsos ada berita. Ilham Romadohna dan Kurniawan Dwi Yulianto, sebagai pelatih dan Dirtek PSPS Riau, diminta mundur oleh kelompok supporter PSPS di tribun.

Kejadiannya, seusai laga kedua PSMS Riau vs PSMS Medan, berakhir 3 – 3, dalam lanjutan kompetisi di Pegadaian Championship 2025-26, Wilayah Barat. Ujug-ujug ofisial PSPS, pelatih dan pemain diintimidasi suporter PSPS Riau, Sabtu 20 September 2025, di Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, Riau.

Kejengkelan suporter PSPS Riau, entah itu dari kelompok Asykar Theking atau Curva Nord 1955 atau Ultras Riau, buat mBah Coco nggak terlalu penting.

Pertanyaan mBah Coco. Sejak kapan sebuah lembaga suporter di mana pun saja, bisa mengatur pelatih, saat mengalami kekalahan? Sejak kapan, salah satu dari kelompok suporter, paham dan cerdas mendapatkan ilmu kepelatihan? Kok, ujug-ujug menyuruh mundur pelatih sebuah klub profesional?

Awal para suporter jengkel, dan kemudian mengintimidasi PSPS Riau, di partai perdana, 12 September, Grup Barat, Pegadaian Championship, di Stadion Patriot, Bekasi, PSPS dijhajar babak belur, oleh tuan rumah, Bekasi FC, 0 – 4. Dan, saat berlaga di depan publiknya sendiri, hanya bermain imbang 3 – 3 atas tamnya, PSMS Medan.

Bagi mBah Coco, ini preseden paling memalukan, dalam budaya sepakbola, yang katanya profesional di republik “mBalgedes” ini.

Regulasi sepakbola profesional, seusai pertandingan, pemain dan ofisial, masuk lorong stadion, ke ruang ganti. Kemudian, pulang ke mess klub, atau ke hotel jika melakukan partai away. 

Di sepakbola profesional Indonesia, harusnya menolak untuk dialog dengan suporter, dan silahkan teriak-teriak dipinggir lapangan. Tapi, tidak boleh mendikte apa maunya suporter. Apalagi yang terkait, dengan masalah taktik dan strategi.

Ada contoh yang terbaru, dua minggu lalu, dari suporter The Jak, pendukung Persija Jakarta, yang mengintimidasi manajemen Persija Jakarta, ketika ada pengumuman harga tiket launching Persija Jakarta, 29 Agustsus 2026, dinilai memberatkan suporter The Jak. Saat ini, versi mBah Coco, diperkirakan mencapai 80 hingga 100 ribu, pemilik KTA Jakmania di Jakarta dan sekitarnya.

Lewat ketua Tha Jakmania yang baru, Muhammad Aditya Putra, di Instagram berbunyi, akan memboikot launching Persija Jakarta vs Brisbane Road, dalam partai friendlygame, 29 Agustus 2029, di Jakarta International Stadium. Karena, harga tier 2, yang musim sebelumnya Rp 100 ribu, menjadi Rp 130 ribu.

Dua contoh di atas, antara PSPS Riau dan Persija Jakarta, adalah masalah baru, yang wajib diantisipasi, baik oleh PSSI, PT LIB dan 18 klub anggota BRI Super League Indonesia 2026-27.

Ada yang ganjil dan aneh, menurut mBah Coco?

Yang berdarah-darah manajemen klub, yang tiap bulan wajib merogoh duwit dari brankas, atau bagian keuangan, adalah pemilik klub. Tapi, mau didikte dan mau diperintah suporter. Apalagi, masalah teknis, serta taktik strategi, yang hanya milik domain pelatih dan jajarannya. Juga, masalah kenaikan tiket, juga domain bisnis klub profesional.

Menurut mBah Coco, sepakbola di Indonesia, sangat “paradok.” Sepakbola wajib ditingkatkan sebagai ekosistem industri. Namun, ekosistemnya tidak jalan, akibat ada suporter yang merasa keberatan, dengan nilai-nilai komersialisasi, yang wajib dilakoni setiap peserta wadah kompetisi profesional.

Artinya, setiap klub diarahkan menjadi klub profesional. Tapi, suporter belum paham arti profesional. Karena, dari analisis mBah Coco, pola pikir suporter di Indonesia, terkesan primitif.

Suporter boleh protes super keras sekali pun, bahkan boleh boikot, jika manajemen klub profesional, yang terkait dengan masalah korupsi, atau masalah bobroknya manajemen, karena sering terlibat suap menyuap, atau atur mengatur skor.

Namun, jika terkait masalah taktik strategi, suporter bisa paham apa? Ilmu kepelatihan nggak paham, ilmu sepakbola zonk, tapi seolah-olah suporter sudah paham dan ahli sebagai pelatih.

Bicara manajemen klub profesional. mBah Coco bertanya. Siapa pun dari 18 klub yang selalu berada di kasta tertinggi, sejak liga profesional Indonesia, musim 1994-95, dengan banyak berganti nama. Intinya ada di liga utama klub profesional, tidak ada satu pun klub yang selalu meraup untung?

Indikasi, gonta-ganti pengurus klub, jual beli klub berpindah homebase, ada kecenderungan, bahwa manajemen klub sudah bangkrut, dan nombok terus menerus. Maka, gonta-ganti pemilik, gonta-ganti pindah lokasi sesuai pembeli, dinilai etis, bermoral dan biasa saja? 

Intinya, menurut mBah Coco, sepakbola Indonesia jauh dari apa yang dimaksud dengan ekosistem industri, selama setiap klub masing pontang-panting cari duwit. Bukan investasi, melainkan cari “bohir” baru, agar bisa melanjutkan pengelolaan klub profesional.

Persija Jakarta, yang katanya milik Nirwan Bakrie, sejak 2016, pelan-pelan sahamnya diambil dari Perry Paulus, kemudian Joko Driyono, dan kini 100% sejak 2019 menurut mBah Coco, nggak pernah untung. Kecuali saat dikelola dua musim oleh Gede Widiade. Namun, faktanya, selalu tekor.

Salah satu faktor, sebagai klub raksasa di ibukota, manajemen Persija Jakarta, tidak mampu mengelola stadion secara jangka panjang. Minimal, bisa 20 tahun, seperti saat Nirwan Bakrie melakukan hal sama di Stadion Sanggraha Lebak Bulus, Jaksel.

Disaat manajemen Persija Jakarta, dijadikan dari bond Perserikatan menjadi klub profesional. Menurut mBah Coco, ada yang terlupakan. Bahwa Persija Jakarta, jaman sebagai organisasi Bond, punya asset Stadion Menteng, Jakarta Pusat. Karena,pengurus Persija tahun 1994-95 tidak paham dunia profesional. Akhirnya lupa, bahwa Stadion Menteng yang jadi asset, diambil alih pemerintah DKI Jakarta. 

Alasannya, tata kota Jakarta, akan membangun Stadion Menteng menjadi taman hutan. Dan, pemerintah daerah DKI Jakarta, nantinya akan mencari penggantinya. Sejak Sutiyoso, Fauzi Bowo, Jokowi, Basuki Tjahaya Purna alias Ahok, Anies Baswedan hingga Pramono Anung, tak ada yang mampu menempati janji, untuk mencari pengganti Stadion Menteng, untuk dijadikan stadion milik asli Persija Jakarta.

Dengan, investasi setiap musim, sejak dikelola Nirwan Bakrie, rata-rata membakar duwit setiap musim Rp 100 miliar, dan puncaknya dalam tiga musim terakhir, harus merogoh uang Rp 200 miliar.

Pertanyaannya mBah Coco, kapan bisa untung, jika tak punya stadion, dan selalu dibuat sering memilih partai usiran? Bali United, yang sudah memiliki BOT (kontrak bangun) dengan pemerintah daerah Gianyar, lima musim mengelola Stadion Kapten I Wayan Dipta, selalu nombok, nggak pernah untung. Bahkan, Bali United sudah di bursa BEJ. Bijimana, Persija Jakarta?

Kini, manajemen Persija Jakarta diprotes dan diancam sekaligus diintimidasi suporter The Jak, agar jangan menaikkan harga tiket di musim 2026-27.

mBah Coco bertanya, apakah pantas dan etis sebuah suporter mendikte atau memboikot klub profesional? 

Jawabnya, disatu sisi ada ruang lingkup sepakbola profesional, ada hak konsumen dan ada budaya komunitas. 

Secara struktural, suporter tidak memiliki hak hukum, mengintervensi keputusan operasional seperti transfer pemain, dan pemilihan pelatih.

Pertama: Merugikan ekosistem, jika ada boikot, dapat memotong pendapatan klub. Penurunan pendapatan, memperburuk fermorma klub, mengancam gaji pemain, dan merusak stabilitas finanisal jangka apanjang. Padahal, saat ini, manajemen Persija Jakarta, sudah compang-camping.

Kedua: Menciptakan ketidakstabilan, jika selalu manajemen mendengarkan dikte-dikte dari suporter, yang mudah emosional, dan berubah-ubah tergantung hasil pertandingan, seperti kasus PSPS Riau. Padahal, sepakbola itu selalu melihat program jangka panjang, tidak pernah bisa instan.

Jika dari suporter sebagai hak konsumen, versi mBah Coco menilai, bahwa hubungan suporter dan klub, bukan sekadar hubungan penjual dan pembeli biasa. Melainkan, ada hubungan identitas, logo, bendara dan warna, serta nilai-nilai budaya.

Pertama: Klub adalah warisan komunitas. Klub sepakbola lahir dari komunitas lokal (proximity, kedekatan). Pemilik klub bisa datang dan pergi. Tetapi, suporter ada dari generasi ke generasi. Suporter memiliki hak moral untuk menjaga “jiwa” dan marwah klub, jika sejak klub diselewengkan manajemen klub.

Kedua: Hak konsumen yang kecewa, ketika suporter menginvestasikan uang, waktu dan emosi. Boikot adalah bentuk protes damai, dan ekspresi tertinggi dari hak konsumen, ketika produk yang mereka beli (kebijakan klub, nilai-nilai moral, atau prestasi), dinilai sangat mengecewakan atau melanggar etika.

Ketiga: Koreksi terhadap manajemen yang buruk, seperti banyak klub-klub di seluruh dunia, menadapat tekanan dan boikot suporter, ternyata sukses dan berhasil menyelamatkan klub dari korupsi, eksplotatif, atau ada manajemen klub yang menhancurkan masa depan klub.

Menurut mBah Coco, kesimpulan dari batasan etis, bahwa tindakan mendikte atau memboikot, bisa dianggap etis dan pantas, jika tujuannya adalah demi kebaikan jangka panjang klub. Misalkan,memprotes kenaikan harga tiket yang tidak masuk akal, menolak rasisme, atau menentang pemilik yang ingin memindahkan markas klub.

Namun, tidakan yang tidak etis, juga versi mBah Coco, jika dilandasi ego sesaat, seperti memaksa klub membeli pemain bintang di luar kemampuan finansial, atau jika aksi protes, disertai kekerasan, intimidasi, dan perusakan fasilitas.

Bagi klub profesional, suporter bukan sekadar penonton yang membeli tiket. Melainkan fondasi eksistensial, identitas, dan nyawa dari klub itu sendiri. Era sepakbola super modern, dimana industri olahraga berputar sangat deras, filosofi suporter bagi klub profesional, dapat dibagi dalam beberapa pilar, menurut mBah Coco. 

DENTAK JANTUNG - SPIRITUAL KLUB

Secara hukum atau finansial pemilik klub boleh berganti, tapi tidak beretika jika berpindah kota, Pemilik klub boleh kongklomerat, boleh pemilik perusahaan konsorsium. Namun, suporter, adalah pemilik spiritual sejati. 

Pemain, pelatih dan manajemen silih berganti datang dan pergi, tetapi suporter bertahan melintasi generasi. Filosofi ini,menurut mBah Coco menempatkan suporter sebagai penjaga tradisi, sejarah, milai-nilai luhur yang dianut klub profesional.

PEMAIN KE-12

Istilah di sepakbola, “The 12Th Man”, adalah filosofi klasik sekaligus nyata dalam sepakbola. Kehadiran suporter di stadion, memberikan efek psikologis yang super masif.

Menggandakan energi postif, bareng nyanyian, koreografi, dan sorakan yang mampu membakar semangat pemain di lapangan. Memberi energi tambahan, saat pemain sudah terlihat lelah dan ogah-ogahan. Suporter di kandang sendiri, bisa meruntuhkan mental pemain lawan, dan mempengaruhi atmosfir pertandingan sepanjang 90 menit.

mBah Coco, binggung, jika ada negara seperti Indonesia, yang memperbolehkan suporter tamu hadir di lapangan saat away. Namun, pihak polisi dan manajemen tuan rumah menghimbau, agar suporter tamu, nonton bareng saja di tivi. 

Bagi mbah Coco, ini sepakbola yang sangat paradok. Bukan bagian dari nilai-nilai dan prinsip sepakbola modern.

RODA EKONOMI INDUSTRI

Dalam ekosistem klub sepakbola profesional, suporter berfungsi ebagai konsumen loyal sekaligus penopang finansial utama. Loyalitas mereka tidak didasarkan pada logika pasar biasa. Melainkan ada ikatan emosional yang sangat sakral. Dukungan ekonominya, versi mBah Coco, dari pembelian tiket, pembelian merchandising, langganan televisi, platform digital, dan otomatis punya nilai tawar kepada sponsor semakin bergengsi.

MENJAGA MARWAH 

Menurut mBah Coco, suporter mampu bertindak sebagai “hati nurasi” klub, ketika manajemen klub mengambil keputusan yang salah. Misalnya, menaikan harga tiket secara tidak wajar. Mengubah logo tanpa persetujuan, atau salah mengelola klub, hingga terpuruk ke jurang degradasi. Suporter adalah pihak pertama yang pasti memberikan kritik keras dan tajam, atau protes demi menyelematkan marwah klub.

REPRESENTATIF IDENTITAS

Klub profesional sering kali lahir dari identitas kelas sosial, geografis, atau budaya tertentu. Suporter, adalah duta yang mempresentasikan identitas ke dunia luar. Hubungan antara klub dan suporter menciptakan rasa kepemilikan dan solidaritas sosial yang kuat di dalam masyarakat.

KESIMPULAN

Mbah Coco, mencoba memberi referensi dalam bentuk kesimpulan, bahwa sebuah klub profesional, hanyalah sebuah badan usaha atau korporasi biasa, yang mengejar profit. Suporterlah yang mengubah 90 menit pertandingan, di lapangan hijau menjadi sebuah religi, kultur, dan kebanggaan yang hidup.

PRIMITIF dan KOLOT

Namun, yang selalu masih tersisa dari cerita artikel yang selalu panjang, jika ditulis mBah Coco, sebagai jurnalis abal-abal.

Mengapa, masih ada contoh, yang baru saja digelar BRI Super League 2026-27, para suporter di di antara 18 klub anggota kasta tertinggi sepakbola “dagelan” di republik “mBelgedes” ini.

Ketika, Bali United, di partai perdana, menjamu PSS Sleman, Jumat, 4 September 2026, di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, para suporternya menyalakan flare. Dan, kemudian Komisi Disiplin PSSI, memberi denda Rp 60 juta.

Begitupula, saat Persija Jakarta menjamu Persib Bandung, 12 September 2026, ada beberapa flare dan lemparan botol/gelas air mineral. Namun, Komisi Disiplin PSSI, terkesan malu-malu kucing, memberi hukuman kepada “Macan Kemayoran.”

mBah Coco, pernah mencatat, suporter Persib Bandung, entah itu Viking atau Bobotoh atau apalah namanya. Sejak 2009 – hingga akhir musim 2025-26, selalu setiap musim didenda Komisi Disiplin PSSI. Punvaknya, musim 2025-26, total jumlah denda manajemen Persib Bandung, mencapai Rp 5.9 miliar.

Lain Persib Bandung, lain pula manajemen Persebaya Surabaya. Ketika CEO, Azrul Ananda, akhir Agustus 2026 lalu, bahwa ada akumulasi kerugian yang luar biasa, dari berbagai denda administrasi, ulah suporter, selama sembilan (9) atau sepuluh (10) musim terakhir. Nilainya mencapai Rp 20 miliar.

Pertanyaan, mBah Coco, seandainya, anggaran denda ke Komisi Disiplin PSSI, digunakan untuk edukasi suporter yang masih primitif, serta digunakan merekrut manajemen adminitrasi yang profesional, sejak awal, maka semua klub akan semakin dewasa, sportif, fairplay dan respect, saling memiliki.

Misalkan, manajemen klub, mampu merekrut panitia pertandingan yang didikik untuk bisa teruji dan presisi, agar setiap penonton, tidak ada lagi yang bisa membawa kembang api, flare, atau benda-benda tajam.

Misalkan, manajemen klub, mampu memberdayakan para steward (penjaga lapangan) dengan sistem kontrak karyawan out sourcing, seperti yang dilakukan lembaga-lemebaga satpam, agar terdidik, dan punya rasa memiliki

Misalkan, manajemen klub, membangun sistem yang modern, dalam memproses kedatangan suporter dengan teknologi canggih, untuk meminimalkan suporter lebih dulu terdeteksi, jika membawa benda-benda terlarang.

Angka Rp 20 miliar denda manajemen Persebaya Surabaya kepada Komisi Disiplin PSSI, seharusnya bisa membangun semua infrastruktur alat canggih dan SDM profesional. Sehingga, secara otomatis, para suporter ikutan terdidik dan didisplin menjaga marwah klubnya, tanpa merusak dan merugikan klub kseyangannya.

Begitulah,bunyinya, kakinya bertanduk, hewan apa namanya?

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas