Presiden FIFA Infantino Ajak Penentangnya Duduk Semeja Berdialog Terkait Reformasi Tata Kelola
Presiden FIFA Gianni Infantino mengajak para penentangnya agar duduk satu meja membahas bersama terkait refomasi tata kelola FIFA.
Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
Jakarta, INDONEWS.ID- Presiden FIFA Gianni Infantino mengajak para penentangnya agar duduk satu meja membahas bersama terkait refomasi tata kelola FIFA.
Infantino menyatakan, dirinya terbuka dan siap berdialog mengenai reformasi tata kelola, termasuk proses pengambilan keputusan di badan sepak bola dunia tersebut.
Infantino mengusulkan konsultasi dengan konfederasi, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan untuk membahas kemungkinan perubahan.
Infantino menyampaikan itu dalam surat kepada Dewan FIFA dan 211 presiden asosiasi anggota, seperti dilaporkan The Athletic pada Selasa (22/9).
“Saya tidak ingin mendahului pembahasan tersebut. Mereka yang mendukung model tertentu harus memiliki kesempatan untuk menyampaikan argumennya secara jelas,” tulisnya.
Usul Lakukan Peninjauan Eksternal
Infantino juga mengusulkan peninjauan eksternal secara independen terhadap kerangka tata kelola FIFA dalam mengambil keputusan strategis.
Menurut dia, peninjauan tersebut nantinya dapat menghasilkan rekomendasi mengenai perbaikan proses pengambilan keputusan organisasi.
“Pertama, saya akan meminta Dewan apakah mereka ingin menugaskan peninjauan eksternal independen terhadap kerangka tata kelola FIFA saat ini untuk inisiatif strategis utama dan merekomendasikan perbaikan yang diperlukan,” tulisnya.
Dialog tersebut akan membahas pihak yang seharusnya memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan strategis FIFA.
Beberapa di antaranya adalah pembagian peran antara Presiden FIFA, Biro, Dewan, dan Kongres.
Infantino juga membuka pembahasan mengenai mekanisme pengambilan keputusan.
Salah satu gagasan yang muncul adalah keputusan strategis harus mendapat persetujuan bulat Biro FIFA,
Sedangkan usulan lain menginginkan persoalan tersebut langsung dibawa kepada Kongres dan seluruh asosiasi anggota.
Masukan dari anggota FIFA yang diterima sebelum rapat Dewan pada 15 Oktober dapat dibahas dalam pertemuan tersebut.
Masukan tambahan juga masih akan dipertimbangkan dengan batas waktu yang akan ditentukan kemudian.
Bila proses dialog tersebut menghasilkan usulan perubahan terhadap statuta FIFA, perubahan itu harus mendapatkan persetujuan Kongres FIFA.
Wacana reformasi ini muncul setelah Infantino mendapat penolakan terhadap rencana penjualan 20 persen saham hak komersial FIFA, termasuk hak komersial Piala Dunia, kepada investor swasta.
Rencana tersebut akhirnya dibatalkan pada Juli setelah mendapat penolakan dan ancaman boikot.
Infantino menjelaskan proposal tersebut awalnya dimaksudkan untuk mengkaji kemungkinan memperoleh dana tambahan bagi pengembangan sepak bola melalui penjualan saham minoritas pada perusahaan komersial yang dikendalikan FIFA.
“Itu tetap merupakan sebuah proposal, bukan keputusan, dan selalu bergantung pada persetujuan yang diperlukan dari Dewan dan Asosiasi Anggota. Proposal tersebut kini telah ditarik dan tidak akan dilanjutkan,” tulis Infantino.
UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan CONCACAF kemudian menyerukan perubahan dalam kepemimpinan FIFA.
Infantino sendiri dijadwalkan mencalonkan diri kembali sebagai Presiden FIFA pada Maret 2027 di Rabat.
Di tengah pembahasan tersebut, Infantino menegaskan bahwa posisi asosiasi anggota terhadap proposal maupun persoalan tata kelola tidak akan memengaruhi perlakuan FIFA terhadap mereka.
“Tidak ada asosiasi yang perlakuannya akan bergantung pada posisi mereka terhadap proposal atau persoalan kelembagaan apa pun,” tulisnya.