Berebut Posisi Ketiga, Nawasena Tinggalkan Tunas Betawi 4 Poin
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Pekan kedelapan Liga Jakarta U-17 jadi ajang rebutan posisi ketiga klasmen sementara, antara Nawasena lawan Tunas Betawi. Laga dimenangi Nawasena 2-1, sebelumnya keduanya hanya terpaut 1 poin, dari hasil tersebut Nawasena tetap bertengger di posisi tiga meninggalkan Tunas Betawi 4 poin, Minggu (27/09).
Bertanding di lapangan sintetis 2 PSF, Pancoran, Jakarta Selatan masing-masing menampilkan permainan terbaiknya, saling menggedor pertahanan lawan. 10 menit awal keduanya beradu di lapangan tengah bola sulit mendekati titik putih dari masing-masing tim.
Pola permainan Nawasena lebih rapih terutama perpindahan bola dari kaki ke kaki, sementara Tunas Betawi pemainnya lebih sering bermain individu, bola baru dipindahkan saat gerakan terkepung lawan.
Mendekati water break, pemain Nawasena mengejutkan Tunas Betawi, aliran bola dari sayap kiri dilambungkan ke area berbahaya Tunas Betawi dan disambut striker Nawasena yang berdiri bebas tanpa pengawalan, bola langsung dicocor ke sudut kanan gawang, gol pun tercipta.
Tertinggal satu gol membuat pemain Tunas Betawi berusaha membalas, mereka terus menggempur pertahanan lawan. usaha mereka berhasil, gol balasan tercipta lewat skema tiga pemain tengah bahu membahu melayani pemain depan Tunas Betawi, sepakan keras tak mampun dihadang kiper menyusur ke sudut kiri gawang.
Stamina Tunas Betawi makin terkuras, terus menghalau serangan bergelombang anak-anak Nawasena. Gol kemenangan Nawasena sebenarnya hanya menunggu waktu, melihat kondisi Tunas Betawi yang menurun, dan benar saja gol kemenangan Nawasena tercipta saat waktu tersisa sekitar 7 menit.
Dari Hasil tersebut Mika pelatih Nawasena mengatakan, bersyukur atas jerih payah anak asuhnya yang bisa menambah poin, dimana timnya bermain tanpa 8 pemain inti yang harus istirahat akibat cedera dan sakit. "Dua orang cedera dan 6 demam", tambahnya.
Menurutnya, kemenangan timnya karena bermain sabar dan lebih mengutamakan kerja sama tim, seperti arahannya untuk tidak banyak bermain individu tapi bermain satu-dua sentuhan. Meski dirinya melihat anak asuhnya lambat dalam transisi, ini yang bakal diperbaiki pada pertandingan berikutnya.
sedangkan Jefri pelatih Tunas Muda menuturkan, kekalahan timnya karena alasan klasik, latihan tak pernah full tim karena waktu anak asuhnya harus dibagi dengan pendidikan. Maka saat berlaga timnya terlihat kurang kompak apalagi saat transisi.
Selain itu, menurutnya, timnya kalah di stamina, di 10 menit babak kedua mainnya makin lambat padahal babak pertama mereka cepat. "Ini yang akan kita evaluasi selain waktu latihan bersama, dan perjalanan kita masih panjang di kompetisi ini", kilahnya menutup pembicaraan.