“"Nasi sudah menjadi bubur" namun, sebagai referensi, mBah Coco ngobrol yang asyik-asyik bareng Patar Tambunan, mantan bek multi talent tim nasional Indonesia, tentang jejak sejarah sepakbola nasional, yang selama ini, dianggap sebagai “one man show”-nya sosok Erick Thohir.
FIFA ASEAN Cup 2026, sudah siap-siap digelar di Indonesia, sebagai tuan rumah, yang akan berlangsung, mulai 25 September hingga 5 Oktober 2026 di dua stadion. GBK Senayan dan Si Jalak Harupat, Bandung. Grup A, Indonesia, bergabung bareng Singapura, Malaysia, dan Bangladesh. Grup B, Vietnam, Thailand, Filipina dan Pakistan.
Bahasa “nasi sudah menjadi bubur” adalah istilah mBah Coco kepada Patar Tambunan. Bahwa, gagasan dan usulan Patar Tambunan, sejatinya menjadi program tim nasional yang berkesinambungan. Sayang sekali, terlambat, karena Erick Thohir sudah putuskan tim senior asuhan John Herdman.
“Seharusnya, tim Indonesia yang diterjunkan ke FIFA Asean, nggak perlu senior, cukup Indonesia U-20, asuhan Nova Arianto,” awal obrolan ringan Patar Tambunan, yang pernah mempersembahkan medali emas SEA Games 1987.
Seharusnya, jika program membangun tim nasional adalah proses jangka panjang, analisis Patar Tambunan, pemain yang diterjunkan ke FIFA Asean Cupp 2026, tidak perlu pemain senior. Cukup anak-anak junior. “Contohnya, saat PSSI Garuda 1, yang dipilih PSSI untuk Pra Piala Asia 1984, bukan para pemain senior di jaman saya,” tegasnya.
Indonesia U-20, yang sudah lolos ke Piala Asia U-20, butuh jam terbang, butuh pengalaman, dan nambah mental bertanding menghadapi pemain yang lebih senior. “Kenapa PSSI tak berani memilih Indonesia U-20?” lanjut Patar Tambunan.
Saat ini, Erick Thohir sudah memutuskan, bahwa pemain senior yang sudah melalangbuana, sebagai pemain naturalisasi, dan pemain senior yang disiapkan ikut FIFA Asean Cup 2026. “Mereka, seharusnya tidak lagi menghadapi turnamen-turnamen yang gengsingnya, di level Asia Tenggara. Materi pemain asuhan John Herdman, harus diterjunkan ke level Asia,” tegasnya.
Harus diakui, bahwa untuk AFF Cup, Indonesia memang belum pernah juara. Hanya baru sampai enam kali lolos sampai ke final. Kata Patar Tambunan, persiapan tim nasional Indonesia, di jaman Kardono, Azwar Anas, Nurdin Halid sampai Erick Thohir, memang punya kebijakan masing-masing berbeda. Tapi, prinsip pembinaan berjenjang wajib dilaksanakan.
Contohnya, konsep yang dianut Kardono, sebagai ketum PSSI 1983 – 1991, menurut Patar Tambunan, justru sesuai strategi membangun sepakbola jangka panjang secara benar. Bahwa, tim junior pantas dikasih jam terbang untuk berujicoba atau pun ikut turnamen internasional, seperti FIFA Asean
Patar Tambunan memberi contoh. PSSI Garuda 1, adalah “superteam” yang dibangun jaman Kardono, baru seumur jagung. Ketika, dilatih Joao Barbatana, asal Brasil, berani diberi peran mewakili Indonesia, ke Pra Piala Asia 1984. Saat itu, Indonesia yang diwakili Garuda 1, bergabung bareng, Iran, Suriah, Thailand, Filipina dan Bangladesh.
“Saat itu, rata-rata pemain PSSI Garuda 1, 19 tahun. Tapi Kardono meminta kita untuk bertarung di pra Piala Asia, bahkan nyaris lolos. Kita diurutan ketiga. Yang lolos ke putaran final Iran dan Suriah,” kenang Patar Tambunan.
Dari pengalaman jam terbang dan dapat bertanding di level Asia. Para pemain terasah, teruji nyalinya. Dan, ketika terpilih sebagai pemain nasional senior, menurut Patar Tambunan, semakin matang.
PSSI Garuda 1 yang direkrut dari seleksi Piala Soeratin 1982, terdiri dari KIPER: Hermansyah, Agus Waluyo, Sigit Sudjarwo. BELAKANG: Patar Tambunan, Marzuky Nyak Mad, Azhary Rangkuty, Budiawan Hendratno, Isman Jasulmei, Jusuf Budianto, Kamaludian Sjamsudin. TENGAH: Aji Ridwan Mas, Abdul Khamid, Sain Irmis, Mohamad Agil Alhabsy, Noah Meryam. DEPAN: Maryanto, Sugianto, Anjar Rachmulyono.
“Dulu sistem perekrutan bisa masuk nasional dari junior, benar-benar sangat ketat. Saya dulu memperkuat PSMS junior, bersama Marzuky Nyak Mad, Azhary Rangkuty, Jaya Hartono dan Donny Latupeirisa. Karena, PSMS Medan junior, lolos sampai semifinal di Piala Soeratin 1982, bersama Persisam Samarinda, Persib Bandung dan Persijap Jepara. Makanya, banyak yang dianggap pantas masuk skuad “superteam PSSI Garuda 1,” kenang Patar.
Cerita Patar Tambunan, konsep pembinaan selalu hasilnya mengerucut piramida. Artinya, dari banyak pemain yang ikut Piala Soeratin dari Sabang sampai Merauke, akan terpilih sekitar 30 sampai 50 pemain junior terbaik hasil Piala Soeratin. Dan, dari junior untuk saat dibentuk PSSI Garuda 1, tinggal 25 pemain. Semuanyanya dilakukan dengan sangat ketat. Dijamin tidak ada pemain titipan, hingga hanya tinggal beberapa pemain, bisa bertahan lolos ke tim senior.
“Saya beruntung, dengan teman-teman sesama PSMS Medan junior, bisa terpilih masuk skuad Indonesia senior, dan juara. Dari 11 pemain skuad inti Indonesia ke SEA Games, ada tujuh pemain asal Medan,” kata Patar, tentang pengalaman seleksi pembinaan. Hingga, bagaimana caranya membangun skuad tim nasional dan memilih skuad senior di jaman pertengahan 80-an.
Makanya, Patar Tambunan berani memberi saran dan solusi kepada PSSI, bahwa untuk membina pemain bermental sebagai pemain nasional yang bernyali, bermental baja, dan teruji jam terbangnya, harus melalui banyak tahap dan banyak persaingan yang super ketat.
“Kalau sejak awal pengurus PSSI berpikir jangka panjang dalam membangun skuad tim nasional. Seharusnya, Indonesia U-20 asuhan Nova Arianto, diberi kepercayaan tampil menghadapi tim-tim senior dari negara lain, seperti jaman saya,” saran adiknya Bonggo Tambunan, pemain Aserto Solo, dan juga pemain nasional awal 80-an.
Versi mBah Coco, pemain bintang bertalenta di pelosok dunia mana pun, seperti Pele, Maradona, Cruyff, Beckenbauer, atau Andi Ramang, Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Risdianto, Ferrel Hattu, Herry Kiswanto sampai Boaz Salossa, selalu lahir dari sepakbola klub-klub amatir yang berkompetisi. Bukan dari turnamen-turnamen usia muda.
Patar Tambunan, memiliki pemikiran yang ciamik dan cerdas, karena pengalaman dan jejaknya sebagai mantan pemain nasional. Menurut mBah Coco, layak dan pantas didengar dan dijalankan. Mereka mantan pemain wajib didengar, diajak workshop, dan masuk dalam jajaran pengurus organisasi PSSI, sebagai pemikir sekaligus pelaku membangun grassroot – youth development.
Patar Tambunan, sudah merasakan sebagai pemain junior hingga senior, dalam proses pembinaan yang benar di klub amatir. Puncaknya, Patar Tambunan, ikut andil membawa tim nasional lolos ke semifinal Asian Games Seoul, 1986. Dan, setahun kemudian bersama arsitek Bertje Matulapelwa, meraih medali emas SEA games 1987.
Yang paling hebat, di skuad Asian Games 1986 dan SEA Games 1987, menurut mBah Coco, bahwa pemain jebolan PSMS Medan, mewarnai kedua tim tersebut. Marzuky Nyak Mad, Azhary Rangkuty, Sutrisno, Jaya Hartono, Patar Tambunan, Ricky Yacobi, Saud Tobing, Zulkarnaen Lubis dan Ponirin Meka.
Akhirnya, mBah Coco menilai bahwa, PSSI dibawah Erick Thohir, hanya “kejar tayang” agar dijamannya, ingin ada tim nasional junior atau pun senior, bisa meraih gelar juara. Walaupun, hanya di level Asia Tenggara.
Ingat “ kursi panas” PSSI sebelum Erick Thohir, menurut mBah Coco, sudah ada yang lebih dulu, pernah menikmati gelar di wilayah Asia Tenggara. Ngapain, hanya “kejar tayang” dan merasa bangga bisa juara di FIFA Asean 2026, dengan materi pemain “ayam sayur” hasil pembinaan dari luar negeri?
Pertanyaan mBah Coco, kapan PSSI bisa dan mampu meraih gelar juara, dengan materi pemain-pemain lokal, yang tidak pernah habis bibit talentanya?
Sayangnya, diam-diam ternyata Erick Thohir doyan dan nyaman “membunuh” mimpi anak-anak muda Indonesia. Hanya, karena ambisi ingin instant, merekrut pemain naturalisasi yang sudah usang ditelan kompetisi pemain bintang di negeri keju Belanda. Tapi terkesan dianggap masih dibanggakan?