Untukmu: Konstituen, Diri dan Panggung Hiburan
Untukmu: Konstituen, Diri dan Panggung Hiburan
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Penulis: Bunga Kejora
"Berapa harga wajahmu?" tanya seorang gadis pada artis yg mendadak cantik. Di film Plastic Beauty, film seri televisi Jepang, terbaca tarif mengecilkan rahang,kalau dirupiahkan sekitar 170 juta.
Seperti sebuah keharusan: perempuan itu mahluk cantik.
Seorang remaja yang sangat berbakat dalam audiensi, Yoshiko Tanaka, terancam gagal terpilih. Kata panitia, "look"nya tidak memadai. Perempuan itu dengan sedih memandang cermin yang memantulkan bayangan hidungnya yang berukuran XL dan matanya terlalu sipit tanpa kelopak.
Teman baiknya tahu bahwa Yoshiko sangat mengingikan operasi wajah, tapi dompetnya kurang tebal.
Ia membujuk Yoshiko untuk menerima tawaran Om Senang yang ingin tidur dengan bayaran tinggi, sebagai harga spesial non PSK.
Tashiko tunduk pada syarat dunia entertainment, meski harus berkorban.
Pantas saja bila dokter bedah plastik dengan bangga menyebut tangannya "tangan sang dewa". Jargon itu dikenal milik Arata Tohyama pelopor bedah kosmetik, dan lama menjadi Dewa Bedah Plastik sebelum diwariskan pada anak perempuannya Rin Tohyama.
Arata berani menyombongkan diri sebagai "dewa" karena ia tahu seusai reparasi wajah atau tubuh, pasien merasa seperti terlahir kembali. Kata plastik dari bahasa Yunani "plastikos" memang berarti "membentuk"atau "memberikan wujud baru"
Secara ekstrim diceritakan di film seri 7 episode itu bahwa nenek Yuriko Sakashita, 75 tahun, menyerahkan badannya ke klinik bedah plastik Tohyama untuk reparasi total.
"Setelah menikah, eksistensiku hanya sebagai seorang istri," kata wanita penuh keriput dengan rambut nyaris botak. " Sekali ini tentang aku dan kebutuhan ku sendiri."
Film ini memang bukan Kisah Nyata, tapi Yuki Saito, sutradaranya dan tim produksi melakukan riset 6 bulan ke berbagai sumber sebelum proyek film seri ini mulai produksi.
Menjadi layak ditonton karena artis2 kita makin demam Operasi Plastik. Tindakan yang sekarang tampaknya menjadi kebanggan, bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.
Di lapangan, Yuki Saito menemukan ada pasien-pasien yang kecanduan reparasi wajah.
Tapi ada tokoh Fumi Numata dalam film ini yang mewakili nilai2 moral ideal. Ia dokter bedah wanita yang tidak mau kekuatan uang menabrak semua aturan.
Keselamatan nyawa yang utama.
Itu sebabnya dokter pandai yg berambut lurus pendek ini, menolak keinginan wanita renta yg hendak meremajakan diri. Usia yg rawan terhadap bius jangka panjang, apalagi tubuhnya lemah sebagai penyintas kanker.
Sebaliknya Rin Tohyama berpendapat operasi plastik adalah pembebas hambatan emosional.
Ia juga merasa menjadi penyelamat ketika seorang pasien muda penderita kanker payudara ingin di akhir hidupnya tampil sebagai wanita sexy yang diperhatikan orang.
Konflik terus berlangsung menghadapi kemauan pecandu operasi plastik dan bahkan sebelum pilkada Tokyo, gubernurnya, muncul di ruang praktek Tohyama. Calon Gubernur minta sulap medis korting usia. " Agar konstituen muda memilih calon yang bukan orang tua," kata aktor Shunsuke Kazama sebagai Gubernur Tokyo incumbent
Konflik terus bergulir di serial Plastic Beauty. Film produksi tahun 2026 baru ditayangkan Netflix pertengahan bulan ini.
( bunga kejora)