DARI RESOLUSI TRILOGI KE REVOLUSI KEMERDEKAAN
DARI RESOLUSI TRILOGI KE REVOLUSI KEMERDEKAAN
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh: JIMMY H SIAHAAN
Kongres Pemuda 1928 yang berlangsung tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta menghasilkan Sumpah Pemuda yang terkenal itu, di mana Para Pemuda setuju dengan Trilogi: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: INDONESIA.
Seperti diketahui, bahwa Trilogi ini lahir pada detik terakhir kongres, di mana Yamin yang duduk di sebelah Soegondo menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo seraya berbisik: Ik heb een elegante formule voor de resolutie (saya mempunyai rumusan resolusi yang lebih luwes).
Dalam secarik kertas tersebut tertulis 3 kata/trilogi: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Selanjutnya Soegondo memberi paraf pada secarik kertas itu yang menyatakan setuju, dan diikuti oleh anggota lainnya yang menyatakan setuju juga.
Selain trilogi itu, juga telah disepakati Lagu Kebangsaan: Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman. Dalam kesempatan ini, WR Supratman berbisik meminta izin kepada Sugondo agar boleh memperdengarkan Lagu Indonesia Raya ciptannya.
Karena Kongres dijaga oleh Polisi Hindia Belanda, dan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (misalnya Kongres dibubarkan atau para peserta ditangkap), maka Sugondo mempersilakan W. R. Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya, sehingga kata-kata Indonesia Raya dan Merdeka tidak jelas diperdengarkan.
Sebelumnya, pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, "Tanah Air" yang dimaksud tanah airnya yaitu Minangkabau di Sumatra. Tanah Air merupakan himpunan puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan.
Himpunan Yamin yang kedua, "Tumpah Darahku", muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dari segi sejarah, karena pada waktu itulah Yamin dan beberapa orang pejuang kebangsaan memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. Dramanya, Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa, muncul juga pada tahun yang sama.
Menjadi dan Menemukan Indonesia
Karya Keith Foulcher mengangkat banyak sisi Sumpah Pemuda sebagai simbol nasional yang penting.
Mulai dari sejarah tahun 1928 hingga perkembangan Sumpah Pemuda saat ini, dibahas dengan argumentasi yang kritis dan menarik.
Pendekatan yang digunakan adalah studi sejarah mengenai Sumpah Pemuda serta kepentingan politik yang menyertainya.
Bumi Manusia, merupakan novel pertama yang terbit dari seri Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.
Ada total 4 buku dalam seri ini yaitu Bumi Manusia, dilanjutkan Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Pramoedya Ananta Toer, menyebutkan bahwa Pramoedya menulis buku ini untuk menjawab pertanyaan: “Apa itu menjadi Indonesia?”.
Bumi Manusia, menceritakan bagaimana Minke mulai mengenal dan mencari tahu makna untuk mencintai tanah airnya, Indonesia.
Panji Pragiwaksono dikenal sebagai salah satu komika ternama Indonesia. Buku ini berisi cerita-ceritanya selama menjalankan tur yang bertajuk “Mesakke Bangsaku World Tour.”
Total 20 kota, 8 negara, dan 4 benua menjadi tujuan tur Panji dengan misi mengenalkan dan mengenal8 kembali Indonesia.
Kamu akan melihat seperti apakah Indonesia sebenarnya dan bagaimana Indonesia yang kamu kenal. Selanjutnya memberi perspektif baru bagaimana memaknai cinta tanah air.
Salah satu nilai penting dari Sumpah Pemuda adalah menegaskan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Seiring berubahnya zaman, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dirasa semakin berkurang.
Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris ? ini merupakan kumpulan tulisan dari Ivan Lanin, seorang Wikipediawan Indonesia.
Tulisan yang sebagian besar berisi tema penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari ini menyadarkan kamu sebagai pengguna bahasa bahwa selama ini belum menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
Ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan renyah, cocok untuk jadi buku bacaan dalam memperingati hari Sumpah Pemuda.
Soe Hok Gie adalah seorang aktivis dan lahir dari keluarga yang bergelut dalam bidang sastra.
Catatan Seorang Demonstran, adalah salah satu karyanya yang sangat dikenal dan banyak diapresiasi hingga saat ini.
Menjelaskan perjalanannya menjadi seorang aktivis yang kerap mendapatkan kecaman dari berbagai pihak karena kritikannya terhadap politik, budaya, hingga ekonomi Indonesia pada masanya.
Catatan Seorang Demonstran, memberikan ilmu mengenai pemaknaan sikap toleran, hingga penyelesaian masalah dan konflik-konflik lainnya. Pemaknaan toleransi yang kuat dan penulisan Sumpah Pemuda.
Karya Kahin cenderung mengabaikan konteks spesifik periode pendudukan Jepang yang menumbuhkan gerakan-gerakan revolusi.
Akta Lahirnya Bangsa (Factum Unionis)
Revolusi berproses hingga tercipta Istilah "Komunitas Terbayang" Benedict Anderson terkait Sumpah Pemuda umumnya merujuk pada dua buah karya utamanya dalam bentuk buku maupun artikel akademis,
Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946 (Diterjemahkan menjadi buku Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946).
Meskipun buku ini berpusat pada era revolusi 1945, Anderson membangun tesis penting mengenai konsep "Pemuda" dalam kebudayaan Jawa dan Indonesia.
Baginya, pemuda bukan sekadar kategori `usia biologis`, melainkan `sebuah entitas politik-kultural revolusioner` yang memiliki kesadaran kritis tersendiri akibat tekanan sejarah (dimulai dari era pergerakan 1920-an hingga puncaknya 1945).
Anderson menyinggung gerakan pemuda nasionalis tahun 1928 (Sumpah Pemuda) sebagai bagian dari pembentukan bangsa Indonesia sebagai "Komunitas Terbayang" (Imagined Communities).
Ia menyoroti peran penting media cetak (cetakan koran berbahasa Melayu/Indonesia) dan jalur pendidikan kolonial yang memungkinkan para pemuda dari latar belakang suku berbeda merasakan kesamaan nasib dan membayangkan diri mereka sebagai satu jiwa.
Dari Resolusi `28 ke Revolusi Merdeka `45
Sungguh luarbiasa, hanya dari sebuah Resolusi 1928, Soegondo dan Yamin sebagai pemuda yang usianya saat itu, berumur dua puluhan. Bisa melahirkan tonggak sejarah.
Pemuda, ternyata adalah sebuah `entitas politik kultural revolusioner` dan bukan hanya `umur biologis`. Adanya `Komunitas Terbayang` berubah dan berproses bak gelombang raksasa, melahirkan sebuah `Bangsa Besar`.
Dalam perjalanan yang memakan waktu, hingga 17 tahun. Para Pemuda di tahun 1945 berjumlah 5 juta orang dan melahirkan, sebuah Revolusi `kemerdekaan`. Revolusi adalah mencipta.