indonews

indonews.id

Resensi Buku "Biografi Asri Hadi": Anak Lintau Dalam Grafik Kehidupan

Apakah anak-anak yang dibesarkan dengan sendok perak, kerjanya enak-enakan? Asri Hadi alias Buyung, tidak begitu. Kalau kehidupan anak Lintau Tanah Datar yang masuk Jakarta di usia 2 tahun itu, ddigambarkan dalam grafik, ada garis naik turunnya.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh Bunga (Mantan Wartawan Tempo)

Jakarta, INDONEWS.ID - Apakah anak-anak yang dibesarkan dengan sendok perak, kerjanya enak-enakan? Asri Hadi alias Buyung, tidak begitu. Kalau kehidupan anak Lintau Tanah Datar yang masuk Jakarta di usia 2 tahun itu, ddigambarkan dalam grafik, ada garis naik turunnya.

Saat membaca buku biografi-nya, Asri Hadi,Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang saya menangkap ada tiga garis tujuan hidupnya; sebagai pribadi yg diharapkan keluarga, pribadi yang ingin memperbaiki kehidupan sosial sekitar dan ketiga, pencapaian diri Asri Hadi.

Penulis buku ini Mustafa Kamal urang awak dari kampungnya,seorang magister hukum, pensiunan PNS dan mantan ketua Persatuan Wartawan di Tanah Datar. Mustafa tak mencantumkan nama alias Buyung yang menjadi nama panggilan kami untuk Asri selama kuliah di Fisip UI. 

Grafik kehidupan Asri kelihatan mulai guncang ketika ia sebagai anak Jaksel pegang duit banyak. Kala itu, ayahnya, Ramli Hadi adalah pengusaha yang sukses. Ia berdagang hasil bumi, importir bahan pokok sekaligus main di bisnis transportasi dan perumahan.  

Asri muda hidup enak, karena ia bagian penagihan setoran atas hasil sewa metro mini milik ayahnya di terminal Blok M. Ia bujangan tulen, kuliah di jurusan Sosiologi Fisip UI yang tinggal sendirian di Jl. Brawijaya, sepelemparan batu dari kawasan blok M yang penuh resto, bar, kafe dan disco. 

Di situlah crazy rich menghabiskan uang setoran yang rata-rata jumlahnya 15 ribu. Nilai yang banyak. Karena tahun 1980, harga beras antara 230-340 rupiah per kg atau emas 10 ribu rupiah per gram.

Di antara teman-teman blok M-nya ada salah satu sohibnya pecandu narkoba. Asri mengira si sohib bisa menguasai kecanduannya, ternyata tidak. Sohibnya meninggal karena drugs over dosis. Buyung kaget juga meski pun kehidupan malam blok M kala itu lazim mempertemukannya dengan minuman, narkoba dan perempuan.

Tapi berkat dari pukulan itu adalah mulai menanjaknya grafik pengabdian masyarakat. Asri merintis mulai dari relawan sampai kemudian menjadi ketua lembaga advokasi narkoba Bersama, 1982. 

Pekerjaan yang pada jaman itu sesuatu yang sulit karena medsos belum lahir, dan telepon yang digunakan adalah telepon rumah. Hp pertama Motorola baru tahun 83. Internet juga masih dirancang. 

Semasa hidupnya, ayah Buyung, Ramli Hadi bertekad kelima anaknya harus belajar setinggi-tingginya. Meski pun ia sendiri pengusaha yang berhasil secara ekonomi walau bukan orang sekolahan, tapi anak-anaknya harus punya tiket pendidikan.

Niat Ramli Hadi--yang disebut "Papa" dalam buku ini, berhasil menjadikan anaknya dua dokter, insinyur, ekonom dan sosiolog. Kesejahteraan hidup anak-anaknya juga terjamin penuh. 

Grafik kehidupan Buyung untuk memenuhi keinginan keluarga dan meningkatkan kualitas pribadi berjalan beriringan ketika Asri memperdalam bahasa Inggris di Brighton dan menamatkan magister di Universitas Monash, Australia. 

Ini menjadi bekal untuk dengan kepala tegak mengikuti acara-acara internasional di belahan dunia, mewakili organisasi Bersama. Seperti kebanyakan generasi orangtua Buyung mendambakan anaknya berstatus Pegawai Negeri.  Tak terbayangkan pada masa itu pekerjaan sebagai Youtuber, Konten Kreator yang memberi gengsi dan ekonomi yang panjang. 

Buyung beruntung mendapatkan jabatan bergengsi sebagai dosen Institut Ilmu Pemerintahan - IPDN, dan ia mulai dari bawah, sebagai asisten ibu Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam, sampai kemudian mengajar di Seskoal dan mengurus proses penting demokrasi, yaitu Pemilihan Umum. Buyung mendapat brevet untuk mengajar petugas Pemilu di setiap tingkatan.

Grafik kehidupan Buyung terus bekejaran ia ingin performance diri lengkap dengan menerima tawaran pengusaha teman Adiguna Sutikno Sudardjo di PT Mugi Rekso Abadi. Ia menimba ilmu praktek sebagai Manager Personalia. 

Tuntutan terakhir dari keluarga dan pribadi yang belum ia lengkapi adalah menikah. Asri terpikat pada Marie Loedin perempuan Indo Minang - Belanda, di usianya yang menginjak 41 tahun. 

Dua puluh tahun Buyung-Marie dan dua anak perempuan dari istrinya, tinggal di kompleks perumahan IIP di Ampera Raya. Buyung meninggalkan rumah kenangannya saat pensiun. 

Tapi grafik kehidupannya terus bergerak. Ia memilih pekerjaan sebagai pewarta. Hidupnya selalu terasa hidup, dan grafik prestasinya juga sudah ditambah untuk mengumpulkan bekal ke Jalan Pulang. Seperi sub judul bukunya; Perjalanan, Pengabdian dan Jalan Pulang.  

Buku Biografi Asri Hadi, bisa dibeli dengan harga 80 ribu rupiah melalui wa Dilla di hp no +62 896-6096-1660


© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas