Makin Terkoneksi, Makin Kesepian? paradoks Generasi Digital
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Bisakah seseorang memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi tidak tahu harus menghubungi siapa ketika sedang merasa gagal? Bisakah kecerdasan buatan (AI) menghasilkan pesan yang menyentuh, tetapi manusia yang mengirimkannya justru tidak pernah benar-benar hadir?
Paradoks inilah yang diangkat Assoc.Prof. Dr. Devie Rahmawati, peneliti Program Vokasi UI, saat menjadi Pembicara dalam Festival Kebudayaan Pemuda, bertemakan “Bergema dalam Harmoni, Berkarya untuk Nusantara”, yang diselenggarakan Soka Gakkai Indonesia bekerja sama dengan Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi).
Kegiatan yang dihadiri lebih dari 300 peserta ini mempertemukan pemuda lintas agama, mahasiswa, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk membahas makna persatuan dan kontribusi generasi muda di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Sebelum dialog kepemudaan berlangsung, acara diawali sambutan Antonius Polim, Ketua Umum Soka Gakkai Indonesia; Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja, Ketua Umum Permabudhi sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI; Hj. Yenny Wahid, M.P.A., Ketua Umum KOWANI dan Direktur Wahid Foundation;Sofyan Shugo, SGI serta Drs. Supriyadi, M.Pd., Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI. Dialog juga menghadirkan narasumber Dr. Bambang Partijaya, Dr. H. Gugun Gumilar, Ph.D dan Pauline Hasan sebagai moderator.
Wakil Indonesia dan Asia di PR Leadership
Forum di San Fransisco ini membuka perspektif dengan membedakan dua hal yang kerap dianggap sama yaituconnection, yaitu keterhubungan, dan belonging, yaitu perasaan diterima, dihargai, dan memiliki tempat.
“Kita semakin mudah menghubungi siapa saja, tetapi belum tentu semakin mudah menemukan seseorang yang benar-benar hadir. Sinyal penuh, hati belum tentu terhubung. Banyak orang mengenal akun kita, tetapi belum tentu memahami keadaan kita,” ujar Devie.
Menurutnya, teknologi digital telah membuka peluang besar bagi pendidikan, pekerjaan, kreativitas, dan pembangunan komunitas. Namun, banyaknya koneksi tidak otomatis menjamin kualitas hubungan manusia.
Persoalan ini juga menjadi perhatian global. Materi yang disampaikan Devie merujuk pada perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap kesehatan mental remaja dan “wabah kesepian” yang melanda dunia.
Bagi Devie, fenomena tersebut mengingatkan bahwa tantangan generasi muda tidak dapat dipersempit menjadi persoalan motivasi atau prestasi individual.
“Anak muda hari ini menghadapi banyak tuntutan yaitu harus berprestasi, segera mendapatkan pekerjaan, cepat sukses, dan memenuhi berbagai ekspektasi sosial. Tetapi tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang memperoleh dukungan dan kesempatan luas, ada pula yang harus berjuang sambil membantu ekonomi keluarganya.
Sebelum menyebut seseorang “malas” pahami dahulu perjuangannya. Sebelum menyebut seseorang gagal, lihat juga kesempatan yang tersedia baginya. Tidak semua yang berjalan lambat kehilangan arah. Bisa jadi mereka sedang menempuh jalan yang lebih berat.
Pengajar tamu di Australia, Inggris, Jepang, Malaysia ini, menekankan bahwa semangat dan tanggung jawab pribadi tetap penting, tetapi keduanya harus berjalan bersama akses pendidikan, kesempatan kerja, dukungan sosial, dan lingkungan yang memungkinkan anak muda berkembang.
Dalam dialog tersebut, Devie menghubungkan tantangan generasi muda dengan pemikiran Daisaku Ikeda tentang human revolution atau revolusi kemanusiaan.
“Kita sering merasa harus menjadi orang besar untuk mengubah dunia. Padahal, menurut Bapak Ikeda, perubahan besar juga bisa dimulai ketika satu orang belajar mendengarkan, seseorang berhenti merendahkan orang lain, atau seorang anak muda yang pernah kehilangan kepercayaan diri kembali berani mencoba.
Perubahan seperti itu mungkin tidak viral dan tidak masuk berita. Tetapi dampaknya bisa terasa dalam keluarga, pertemanan, dan masyarakat.”
Devie menegaskan bahwa transformasi diri bukan tuntutan untuk menjadi manusia sempurna, apalagi alasan untuk menyalahkan diri sendiri ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, human revolution dapat dimaknai sebagai keberanian untuk terus bertumbuh sekaligus membantu orang lain bertumbuh.
“Revolusi terbesar bukan mengalahkan orang lain, tetapi berani memperbaiki diri tanpa membenci diri. Kita tidak harus sempurna untuk mulai melakukan kebaikan.”
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, perspektif ini memberi makna konkret bagi semangat Sumpah Pemuda yaitu persatuan bukan sekadar kesamaan identitas, melainkan kemampuan individu dan kelompok yang berbeda untuk menciptakan manfaat bersama.
Peneliti kecanduan game ini kemudian menawarkan kerangka sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan kampus, keluarga, organisasi, dan komunitas yaitu 3D — Didengar, Dihargai, Diberdayakan.
Didengar berarti memberi ruang bagi seseorang untuk menyampaikan pengalaman tanpa langsung dihakimi. Dihargai berarti tidak mengukur nilai manusia semata-mata berdasarkan prestasi, popularitas, pekerjaan, atau status sosial. Diberdayakan berarti membantu seseorang memperoleh kesempatan dan kemampuan untuk berkembang.
“Ketika seorang teman sedang kesulitan, kita sering berkata, ‘Kamu harus kuat.’ Niatnya baik. Tetapi bagaimana kalau dia sudah berusaha kuat sepanjang hari dan sebenarnya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan?
Manusia tidak cukup hanya disuruh kuat. Manusia juga perlu didengar, dihargai, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh.”
Menurut Devie, ketiga hal itu perlu berjalan bersama. Kepedulian bukan hanya ungkapan bahwa kita memahami orang lain, melainkan kesediaan bertanya apa yang dapat dilakukan agar keadaannya menjadi lebih baik.
Penerima Australia Award ini juga mengingatkan bahwa kebutuhan untuk diterima dapat menjadi faktor penting dalam kehidupan digital. Sebagian komunitas daring memberikan dukungan dan rasa memiliki, tetapi ada pula yang mengeksploitasi kebutuhan tersebut untuk menyebarkan kebencian, manipulasi, atau gagasan kekerasan.
“Jangan hanya menutup pintu menuju pengaruh buruk. Bukalah lebih banyak pintu menuju hubungan yang baik. Perlindungan generasi muda bukan hanya soal membatasi konten, tetapi juga membangun lingkungan yang membuat mereka merasa didengar, memiliki kesempatan, dan tidak harus menghadapi kesulitan sendirian.”
Di tengah perkembangan AI, Devie mengajak peserta membedakan kemampuan teknologi menghasilkan bahasa dengan tanggung jawab manusia membangun hubungan.
AI dapat membantu menyusun tugas, presentasi, dan pesan yang terdengar empatik. Namun, pesan yang indah tidak otomatis menjadi tindakan yang peduli.
“Bayangkan kita meminta AI menulis pesan yang sangat menyentuh untuk sahabat yang sedang sedih. Pesannya bagus sekali. Tetapi setelah mengirimkannya, kita tidak pernah lagi menanyakan kabarnya. Apakah itu sudah cukup?
Jangan hanya viral, jadilah vital bernilai.
Penerima Beasiswa DAAD juga menyoroti kecenderungan mengukur keberhasilan melalui jumlah pengikut, penonton, dan tanda suka. Menurutnya, ukuran tersebut dapat menunjukkan jangkauan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan manfaat.
“Kalau sebuah video ditonton satu juta kali, apakah berarti satu juta orang mengalami perubahan? Belum tentu. Sebaliknya, jika kita membantu satu orang memperoleh pekerjaan, apakah kontribusi itu kecil? Tentu tidak.
Viral membuat kita terlihat. Nilai membuat kita memiliki dampak yang Vital untuk masyarakat. kalau karya kita bisa viral sekaligus berdampak vital, tentu itu jauh lebih baik.”
Konsepsi ini sejalan dengan gagasan penciptaan nilai dalam tradisi pendidikan Soka, yaitu mengubah kemampuan, pengalaman, dan tantangan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Kontribusi tidak harus selalu berupa inovasi besar atau proyek yang menjadi perhatian publik. Membantu seseorang belajar, membagikan informasi pekerjaan, mengantar bantuan, menemani orang yang sakit, atau membuka kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung juga merupakan bentuk penciptaan nilai.
Bagi Devie, perspektif ini penting bagi generasi muda Indonesia agar tidak terjebak pada tuntutan untuk selalu terlihat sukses. Prestasi tetap layak dikejar, tetapi maknanya menjadi lebih kuat ketika membawa manfaat bagi orang lain.
Perspektif tersebut menemukan relevansinya dalam semangat Festival Kebudayaan Pemuda, yang mengusung tema “Bergema dalam Harmoni, Berkarya untuk Nusantara.”
Kegiatan ini juga ditandai dengan deklarasi bersama organisasi dan komunitas kepemudaan lintas agama dan keyakinan, diantaranya Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi), Gerakan Angkatan Muda Kristen, Pemuda Katolik, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Gerakan Muda Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Indonesia, Mikrobudhi, dan Soka Gakkai Indonesia.
Perspektif akademik turut disampaikan Wiratri Anindhita, pengajar di Universitas Negeri Jakarta sekaligus bagian dari tim peneliti Soka Gakkai Indonesia.
Wiratri menekankan pentingnya ruang perjumpaan yang memungkinkan generasi muda memahami pengalaman orang lain secara langsung, bukan hanya mengenal kelompok berbeda melalui informasi atau gambaran yang beredar di ruang digital.
“Dialog menjadi bermakna ketika anak muda tidak sekadar mendengar pandangan yang berbeda, tetapi juga berusaha memahami pengalaman di balik pandangan tersebut. Pengalaman semacam ini dapat membantu menguji prasangka dan membuka ruang untuk membangun kepercayaan,” ujarnya.
Menurut Wiratri, pendidikan dan kegiatan kepemudaan dapat memainkan peran penting dengan menghubungkan nilai yang dipelajari dengan praktik sosial. Kerja sama lintas komunitas memberi kesempatan bagi pemuda untuk membuktikan bahwa perbedaan tidak menghalangi mereka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Kegiataini juga dihadiri para mahasiswa dari kampus-kampus di Jakarta seperti UNJ, Binus dan Institut Bisnis & Informatika Kwik Kian Gie.
Tantangan 24 jam: tiga menit, tiga kebaikan
Sebagai penutup, Devie mengajak peserta menerapkan gagasan tersebut melalui tantangan sederhana yaitu 3 Menit, 3 Kebaikan.
Pertama, sapa satu orang yang sudah lama tidak dihubungi. Kedua, dengarkan satu cerita tanpa terburu-buru menghakimi. Ketiga, bagikan satu kesempatan belajar, bekerja, atau berkarya kepada orang lain.
“Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu terkenal. Tidak perlu menunggu menjadi pemimpin. Kebaikan bisa dimulai hari ini.
Mulai dari satu sapaan, tumbuhkan satu harapan, hadirkan satu perubahan. Bayangkan jika setiap orang di ruangan ini melakukan tiga hal sederhana tersebut. Berapa banyak orang yang mungkin merasa lebih diperhatikan? Berapa banyak yang mungkin menemukan peluang baru?”
Menutup dialog, Devie menyampaikan, “Jangan hanya menjadi generasi yang ingin dikenal banyak orang. Jadilah generasi yang membuat orang lain merasa tidak sendirian. Kita boleh mengejar prestasi, tetapi jangan kehilangan empati. Kita boleh menguasai teknologi, tetapi jangan kehilangan hati.”