Menara Syariah Dorong Logistik dan Pelabuhan yang Mendukung Ekonomi Syariah
Komisaris Utama Menara Syariah, Firdaus Djaelani mengatakan, Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia memiliki peluang dalam mengembangkan ekonomi syariah.
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Dalam Sarasehan Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah: Refleksi Kemerdekaan RI Tahun 2025 dengan tema `Menjadikan Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Dunia` yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, di Jakarta (13/8/2025), Indonesia bertekad menjadi pusat ekonomi syariah dunia pada 2029 mendatang.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat rantai nilai halal, pembiayaan syariah yang inklusif dan adaptif, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah yang berakar pada nilai-nilai luhur Islam terus digalakkan untuk mewujudkan ikhtiar tersebut.
Menara Syariah, sebagai salah satu pusat ekonomi syariah terus membangun ekosistem untuk mewujudkan upaya tersebut. Hari ini, dilangsungkan simposium yang bertajuk: Logistics and Maritime Future Advancing Connectivity, Leadership and ASEAN Prosperity through the Halal Supply Chain Ecosystem, di Menara Syariah PIK 2, pada Rabu (21/10/2026).
Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia saat ini, terus memperkuat posisi di lingkup ekonomi regional, sektor logistik, manajemen rantai pasok, dan layanan maritim untuk mendapatkan perhatian strategis.
Terletak di sepanjang jalur pelayaran utama regional dan berada dalam Kawasan Ekonomi ASEAN, ketiga negara ini menghadapi berbagai peluang dan tantangan yang terus berkembang terkait konektivitas perdagangan, daya saing maritim, ketahanan rantai pasok, serta integrasi rantai nilai regional di tengah lingkungan global yang semakin tidak pasti.
Forum ini dilakukan untuk mendorong dialog terarah mengenai logistik regional, pengembangan maritim, rantai pasok halal, kepemimpinan, inovasi, dan kemakmuran ASEAN, sekaligus mempromosikan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, industri, dan akademisi.
Komisaris Utama Menara Syariah, Firdaus Djaelani mengatakan Menara Syariah menggelar acara tersebut seiring dengan perkembangan ekonomi syariah saat ini.
”Kita di Menara Syariah, karena aktivitas kita adalah membagun ekosistem syariah, maka hari ini kita bekerja sama dengan University of Brunei dan Malaysia, menggelar acara ini. Kita juga mau membantu pemerintah karena pemerintah telah mendorong terbentuknya syariah financial hub di PIK 2 ini,” ujarnya di sela-sela acara.
Firdaus mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan parapihak, seperti pemerintah, akademisi dari kampus, industri seperti perbankan maupun pelaku industri.
“Seperti yang dibicarakan hari ini berkaitan dengan masalah pelabuhan, bagaiman kerja sama membangun pelabuhan tersebut bisa mendorong pertumbuhan ekonomi syariah sehingga bisa terus maju,” ujarnya.
Firdaus mengatakan, Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia memiliki peluang dalam mengembangkan ekonomi syariah. “Seperti tadi sudah dikatakan bahwa penduduk Indonesia sekitar 87 persen dari 280 juta memeluk Islam, Malaysia 50-60 persen dari 35 juta jiwa dan Brunei 90 persen beragama Islam. Jadi, kita ingin membangun ekonomi syariah dari ketiga negara ini. Kita membangun perekonomian syariah berangkat dari ketiga negara ini sudah bisa berkembang ke depan,” ujarnya.
Dia mengatakan, yang juga penting dilakukan dalam mengembangkan ekonomi syariah ke depan adalah terkait dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Karena itu, pihaknya terus mendorong berbagai universitas agar mengembangkan ekonomi syariah. ”Supaya ekonomi syariah bisa bagus maka harus didukung oleh SDM yang juga bagus,” ujarnya.

Diakuinya, Indonesia masih harus belajar dari negara yang telah maju dalam pengembangan ekonomi syariah seperti Malaysia. “Kita (Indonesia) masih belajar. Kita tidak usah malu dari negara negara yang sudah maju dalam pengembangan ekonomi syariah seperti Malaysia. Saya kira, Indonesia bisa maju dalam lima tahun ke depan,” katanya.
Dia menambahkan, sektor logistik dan maritim memegang peranan krusial dalam memperluas jangkauan ekonomi regional secara luas.
"Sektor logistik dan maritim merupakan bagian esensial dari ekosistem halal yang terpercaya. Untuk memanfaatkan peluang besar di ASEAN, kita perlu mengembangkan koridor logistik halal yang lebih kuat serta meningkatkan transparansi melalui teknologi," imbuhnya.
Konektivitas Laut dan Darat Regional Miliki Peluang Besar
Sebelumnya, Marine Engineering Department, Faculty of Marine Technology, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Raja Oloan Saut Gurning mengatakan kawasan Asia Tenggara bagian timur menyimpan potensi ekonomi yang besar. Namun, sayang, potensi itu belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
Dia mengungkapkan penguatan konektivitas perdagangan dan integrasi logistik menjadi kunci dalam mendorong potensi itu menjadi peluang bisnis yang lebih luas.
Saut Gurning menyoroti potensi ekonomi kawasan tersebut tercermin dari besarnya nilai produk domestik bruto (PDB) regional.
Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, katanya, penguatan konektivitas antarnegara dan jalur perdagangan resmi menjadi salah satu agenda yang penting dilakukan.
Pembangunan ekosistem logistik yang terintegrasi, menurutnya, diperlukan dengan melibatkan pelabuhan, perusahaan pelayaran, serta operator transportasi multimoda.
Keterhubungan antarmoda dan penyelarasan proses perdagangan diharapkan dapat menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha.
Simposium itu digelar dalam beberapa sesi. Sesi pertama menghadirkan Dr. Quazi Mohammed Habibus Sakalayen, Senior Assistant Professor UBD School of Business and Economics, Universiti Brunei Darussalam, Presiden Direktur PT Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo, Banjaran Surya Indrastomo, Ph.D, Group Head BSI Corporate University and Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. Acara ini dipandu oleh Assoc. Prof. Sutan Emir Hidayat, Ph.D, Direktor of Sharia Ecosystem Infrastructure, KNEKS and Secretary General of IAEI. *