indonews

indonews.id

Massa Mahasiswa Masih Bertahan di Bundaran HI hingga Malam, Terus Suarakan Tuntutan kepada Pemerintah

Massa demonstrasi yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) masih bertahan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, hingga Rabu (28/10/2026) sore. Mereka menyampaikan sejumlah kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Massa demonstrasi yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) masih bertahan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, hingga Rabu (28/10/2026) sore. Mereka menyampaikan sejumlah kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Berdasarkan laporan Republika, hingga pukul 18.00 WIB, massa masih berkumpul di beberapa titik Jalan MH Thamrin. Sebagian demonstran berada di Bundaran HI, sementara kelompok lainnya tertahan di depan Gedung UOB karena pengadangan aparat kepolisian.

Di sejumlah titik, massa tetap menyampaikan orasi di tengah jalan. Mereka berupaya mendekati kawasan Bundaran HI untuk menyuarakan tuntutan kepada pemerintah.

Massa mulai menembus kawasan Bundaran HI sekitar pukul 14.30 WIB. Sejumlah peserta aksi datang dari kawasan Monumen Nasional (Monas) menggunakan berbagai angkutan umum.

Aksi tersebut digelar oleh sejumlah elemen mahasiswa yang tergabung dalam Komite SADAR. Mereka menilai pemerintah perlu mempertanggungjawabkan kebijakan dan memenuhi janji politik kepada masyarakat.

Dalam demonstrasi tersebut, massa menyampaikan lima tuntutan utama. Pertama, mereka mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengadili korporasi yang bertanggung jawab, serta menuntaskan persoalan tata kelola lahan.

Kedua, mahasiswa meminta agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digunakan untuk kepentingan rakyat. Mereka juga menolak pemborosan anggaran untuk kepentingan politik melalui program yang dinilai populis, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Ketiga, mereka menuntut penurunan biaya pendidikan, pemerataan akses terhadap layanan dasar, serta penyediaan lapangan kerja yang berkualitas.

Keempat, mahasiswa mendesak penghentian penggunaan hukum untuk penyalahgunaan kekuasaan dan meminta pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Kelima, mereka menuntut pemulihan kebebasan berpendapat, penegakan hukum terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM), serta penghentian militerisasi di ruang sipil.

Kelima tuntutan tersebut menjadi dasar mahasiswa dalam menyampaikan kritik terhadap arah kebijakan pemerintah, mulai dari persoalan lingkungan hingga penegakan hukum dan demokrasi.

Aspirasi di Tengah Peringatan Sumpah Pemuda

Demonstrasi berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Momentum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil untuk menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan nasional.

Bertahannya massa hingga sore hari menunjukkan bahwa peserta aksi masih berupaya menyampaikan aspirasi mereka di kawasan pusat Jakarta.

Dalam laporannya, Republika menyebutkan bahwa hingga pukul 18.00 WIB, aparat kepolisian belum memberikan peringatan kepada massa untuk membubarkan diri.

Aksi ini kembali menempatkan persoalan karhutla, penggunaan anggaran negara, pendidikan, lapangan kerja, pemberantasan korupsi, dan kebebasan sipil sebagai isu yang menjadi perhatian demonstran.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, massa masih terlihat berkumpul di kawasan Bundaran HI dan sejumlah titik di Jalan MH Thamrin.

Sumber: Republika, 28 Oktober 2026.

Ringkas bagian yang berulangPerkuat lead dengan fokus aksi

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas