Harga Mi Instan Dikeluhkan Warganet, Rupiah Masih Bertahan di Level Rp18.100 per Dolar AS
Keluhan soal harga mi instan ukuran kecil yang disebut kini rata-rata Rp4.000 per bungkus ramai di media sosial. Keluhan ini muncul saat rupiah masih tertahan di kisaran Rp18.100 per dolar AS.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Keluhan soal kenaikan harga mi instan ramai di media sosial. Harga mi instan ukuran kecil disebut kini rata-rata menembus Rp4.000 per bungkus, di tengah nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sorotan itu antara lain muncul lewat unggahan akun @pinterpolitik yang kemudian ramai ditanggapi warganet. Bagi banyak keluarga, mi instan selama ini menjadi makanan andalan saat akhir bulan.
"Dulu, kalau tanggal tua datang, mi instan selalu jadi penyelamat," tulis akun tersebut, seperti dikutip dari Suara.com, Selasa (3/11/2026).
Warganet mengaitkan kenaikan harga ini dengan melemahnya rupiah. Gandum, bahan baku utama tepung terigu, sebagian besar masih diimpor, sehingga biayanya ikut terdampak kurs.
Pada perdagangan Selasa (3/11/2026) pagi, rupiah dibuka menguat tipis 11 poin ke level Rp18.145 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya Rp18.156, menurut data Bisnis.com dan Kontan. Penguatan ini ditopang turunnya harga minyak dunia. Meski begitu, rupiah masih melemah sekitar 8 persen sepanjang 2026.
Namun data harga di lapangan belum seragam. Data harga pangan yang dihimpun Katadata menunjukkan harga mi instan di Jawa Barat pada 24 Oktober 2026 justru turun ke Rp3.042 per bungkus. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari produsen maupun Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) soal kenaikan harga pada November 2026.
Tekanan harga pangan sendiri tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengumumkan inflasi tahunan Oktober 2026 mencapai 3,23 persen, lebih tinggi dari 2,86 persen pada Oktober 2025.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 4,82 persen dan andil 1,40 persen. Komoditas yang dominan antara lain cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, dan daging ayam ras. Secara bulanan, inflasi Oktober 2026 tercatat 0,22 persen.
Ateng menyebut Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).*
(Rikard Djegadut)