Budaya

Peringati Hari Puisi Indonesia, Menteri Agama Minta Penyair Untuk Lebih Peduli Di Masa Kini

Oleh : Ronald T - Minggu, 30/12/2018 14:58 WIB

Bagi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, bersyair di zaman banyak orang nyinyir mestinya adalah refleksi berdialog lewat kata-kata yang menggugah kesadaran dan menjaga kewarasan. Berpuisi adalah wujud amalan terpuji yang sucikan hati, yang mencegah bangsa digital agar tak binal karena banyaknya informasi yang seringkali saling menyakiti.

Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengucapkan selamat dan mengapresiasi tema Hari Puisi Indonesia tahun ini, yaitu: "Puisi Sebagai Renjana dan Sikap Budaya".

"Selamat Hari Puisi Indonesia. Mari terus mengolah kata. Mari terus berbagi rasa. Mari terus berbagi cinta. Mari terus menyemai damai bagi sesama," kata Lukman dalam Peringatan puncak Hari Puisi telah digelar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (29/12) malam.

Menurut Lukman, tema yang diangkat kali ini mencerminkan semangat penyair bangsa untuk lebih kreatif dan inovatif sehingga kerja-kerja puisi tidak terhenti di atas kertas rencana.

"Bersyair di era kekinian bukanlah bergumam dalam kesendirian di tengah keriuhan dan kebisingan tanpa jeda sosial media. Bukan pula sumpah serapah akibat pikiran dan jempol tangan makin terdisrupsi teknologi," ujar Lukman, dalam keterangan tertulis kepada INDONEWS.ID, Minggu (30/12/2018).

Bagi Lukman, bersyair di zaman banyak orang nyinyir mestinya adalah refleksi berdialog lewat kata-kata yang menggugah kesadaran dan menjaga kewarasan. Berpuisi adalah wujud amalan terpuji yang sucikan hati, yang mencegah bangsa digital agar tak binal karena banyaknya informasi yang seringkali saling menyakiti.

"Itu artinya, penyair dituntut untuk lebih peduli di masa kini. Peduli berarti harus siap memahami realitas zaman. Penyair semakin dituntut untuk mengasah indranya kian peka menyikapi fakta melalui ungkapan kata," jelasnya.

Sebagai karya sastra, mantan Wakil Ketua MPR ini menilai puisi ibarat oase yang menyegarkan, yang mengantarkan pada kesepahaman setelah setiap mulut sudah lelah beradu kata dari kanal-kanal berbeda. Sebagai produk budaya, puisi adalah ungkapan jiwa yang mampu membebaskan diri dari belenggu kepengapan wacana.

Sedangkan sebagai olahan bahasa, puisi adalah belanga yang menjodohkan garam di laut dan asam di gunung menjadi pelezat rasa.

"Puisi menjadi pemanis di kala kata-kata biasa hambar terasa. Puisi bukan sekumpulan kalimat hambar yang disusun dari janji-janji manis belaka. Puisi adalah seni olah kata yang menyatukan kita dalam rasa," ucapnya.

Karena itu, Lukman berharap, kepada seluruh penyair Indonesia untuk ikut menyastrakan keragaman sebagai berkah dan anugerah Tuhan, bukan penyebab datangnya bencana. Bahwa kemajemukan adalah nyata dan niscaya.

"Puisi juga perlu ikut mendakwahkan bahwa nilai agama menjadi nafas anak bangsa Indonesia. Leluhur bangsa sudah mencontohkan dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai perajut keragaman dan kemajemukan," tandsnya. (ronald)

 

Artikel Terkait